(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 31 : Pingsan


__ADS_3

Happy reading


Pagi hari nya mereka semua sudah bersiap siap untuk ke sekolah, tapi sebelum itu mereka sarapan terlebih dahulu.


“Selamat pagi semua” sapa Raden yang terakhir datang.


“Pagi” sapa mereka balik.


“Ayo cepat sarapan biar enggak telat” titah Juli.


“Juli, beneran deh gue masih enggak nyangka kalau lo si cewek tomboy itu ternyata penakut” kata Raden membuat Juli menghela nafas.


“Udah deh Raden, rasa takut kan manusiawi semua orang pasti mempunyai rasa takut tersendiri, dan meskipun gue itu tomboy lah, galak lah, gue juga masih punya rasa takut sebagai manusia dan sebagai wanita” jelas Juli membuat Raden bungkam.


Dirinya sedikit mesara bersalah sekarang “Maaf” ujarnya menyesal.


“Its ok, ayo cepat sarapan keburu benar benar telat kita”


“Tenang aja kita punya anak si pemilik sekolah, enggak akan di hukum pun, iya gak Regan?” tanya Raden pada Regan sebagai alhi waris satu-satu nya keluarga Alexander.


“Hm”


Setelah sarapan mereka semua segera berangkat ke sekolah sebelum mereka benar-benar terlambat dan berakhir di hukum.


Kebetulan hari ini, kelas Sila dan Juli sedang pembalajaran olahraga.


Para murid sudah berkumpul  di lapangan “Untuk pemanasan kalian berlari keliling lapangan terlebih dahulu” titah guru olahraga mereka.


“Siap pak!” mereka semua berlari secara beratur mengelilingi lapangan sebanyak dua kali, setelah itu mereka berbaris di hadapan guru nya.


“Ok, sekarang kita akan latihan melempar bola, cari pasangan yang kalian inginkan untuk mencoba nya” mereka semua segera mencari pasangannya untuk latihan, dengan Sila dan Juli yang saling berpasangan.


“Sudah dapat semua nya?”


“Sudah pak!”


“Baiklah sekarang siapa yang ingin pertama mencobanya?” tanya sang guru olahraga.


“Kita pak”murid laki-laki mengangkat tangan nya untuk menjadi sukarelawan mencoba terlebih dahulu.


“Silahkan, kalian saling berhadapan lalu lakukan seperti ini” sang guru mencontohkan pada mereka semua sebelum melakukannya.

__ADS_1


“Paham?”


“Paham pak!”


“Baiklah, ayo mulai” keduanya pun mulai melakukan seperti apa yang di contohkan guru nya tadi.


“Setelah mereka kita yang coba ya” kata Juli pada Sila.


“Iya, tapi aku bisa gak ya” Juli memegang tangan Sila menyakinkan nya.


“Perfect, siapa lagi yang mau maju?” tanya guru nya, Sila da Juli segera maju agar tidak di dahului oleh temannya yang lain.


“Oh Sila dan Juli, ayo mulai” Sila da Juli melakuannya dengan baik hingga selesai.


“Baiklah cukup sampai di sini, karena bapak ada urusan di luar jadi untuk minggu ini kita latihan saja dulu, minggu depan bapak baru pengambian nilai”


“Siap pak!”


“Kalian lanjutkan saja latihannya agar nanti saat pengambilan nilai, nilai kalian semuanya bagus-bagus. Kalau begitu bapak pamit ya anak-anak, Assalamualaikum” pamit guru tersebut.


“Iya pak, waalaikumussalam” jawab mereka semua serempak.


“Eh pelan-pelan dong nanti kena kepala kita” protes para perempuan karena laki-laki nya yang melempar bola dengan kuat dan hampir mengenai salah satu dari mereka.


“Makanya minggir dong kita mau main ini” ujar laki-laki itu ngegas.


“Idih ngegas lagi, ayo mending kita istirahat aja setelah itu baru kita ganti baju” ajak Juli pada teman kelas perempuannya.


Belum sampai di tempat duduk para laki-laki sudah melanjutkan permainan bolanya “Terima ini!” ujar salah satu dari mereka, ia memfokuskan lemparannya pada teman laki-laki nya yang lain dengan kuat tapi temannya itu dengan mudah nya menghindari nya.


Bola itu telempar menuju gerombolan teman perempuannya yang ingin duduk.


“Awas, ada bola!” teriak nya.


Mendengar itu mereka semua berbalik, bola itu sangat cepat mendekati mereka dan juga karena keterkejutannya hingga tidak bisa menghendar.


“Sila awa!” bugh.


Bola itu mengenai kepala Sila membuat Sila terjatuh “Sila!” teriak Juli mendekati Sila yang sudah tidak sadarkan diri.


“Sila, sila” temannya yang lain menepuk-nepuk pipi Sila membangunkan nya, tapi Sila tidak terbangun sama sekali.

__ADS_1


“Eh kenapa tuh ramai-ramai, ada yang pingsan kah?” tanya Rafi seraya menunjuk ke arah lapangan.


"Sepertinya benar ada yang yang pingsan" ujar Raden, karena jam pelajaran mereka kebetulan free jadi mereka memutuskan untuk ke rooftop.


Langkah Regan terhenti saat melihat seseorang yang di kenalnya di bawa oleh anak PMR menggunakan tandu.


"Sila" gumam Regan, ia segera berlari menghampiri mereka dan mengikutinya pergi ke ruang PMR.


"Eh ternyata Sila yang pingsan" kata Rafi.


"Ayo kita susul" ajak Rifan berjalan terlebih dahulu menyusul Regan.


"Bagaimana bisa Sila pingsan seperti itu?" tanya Regan pada Juli.


"Tadi Sila enggak sengaja terkena bola basket" jelas Juli, ia terlihat sangat khawatir akan kondisi Sila saat ini.


"Bagaimana keadaan teman saya dokter?" tanya Juli pada dokter yang memeriksa Sila.


"Kalian tenang saja, tidak ada luka yang serius ia hanya pingsan karena bola itu tepat mengenai kepala nya, tapi kalian tidak perlu khawatir" jelas dokter tersebut.


"Ini ada obat pereda sakit kepala nya, nanti kalau pasien sudah sadar dan merasakan sakit berikan obat ini" lanjutnya memberikan sebuah obat pada Juli.


"Baik dokter, terimakasih"


"Iya sama-sama"


Mereka mendekati brankar dimana Sila terbaring "Maaf, gue enggak bisa nyelamatin lo tadi" kata Juli menggenggam tangan Sila.


"Mendingan lo pergi ganti seragam lo dulu, ada gue, Regan dan yang lain juga jagain Sila disini" ujar Raden pada Sila.


"Iya, gue titip sahabat gue dulu ya sama kalian"


"Santai aja"


Regan menggenggam tangan Sila lalu mengelus punggung tangan nya iya itu menggunakan ibu jarinya "Cepat sadar, jangan buat gue khawatir liat kondisi lo gini" bisik Regan.


"Tenang bro, enggak lama lagi Sila bakal siuman kok" ujar Rafi menepuk pundak Regan.


Rifan, Raden dan Rafi duduk di kursi yang ada disana memperhatikan Regan yang begitu khawatir pada Sila.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2