
Happy reading
Malam hari nya Regan pulag ke apartemen nya pada jam delapan malam. Sebenarnya ia belum ingin pulang dulu karena anak-anak Red Moon masih berkumpul di sana untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang memperbaiki markas nya, tapi Raden menyuruhnya untuk pulang saja dan menyuruhnya untuk membicarakan masalah nya dengan Sila.
Regan singgah sebentar di minimarket membelikan Sila coklat, kata Raden rata-rata semua perempuan itu akan luluh jika di berikan coklat dan Regan pun singgah di sana membeli coklat.
“Beli berapa ya?” batin Regan bingung. Karea bungung Regan langsung mengabil lima coklat dengan berbagai jenis, ia tersenyum puas dan pergi ke kasir untuk membayar nya.
“Enggak ada lagi mas?” tanya kasir itu, Regan menggeleng tidak ia tidak ingin lagi.
Regan meberikan kartu tm nya untuk membayar semua itu “Terima kasih mas” ujar kasir itu memeberikan kembali kartu Regan serta kantong yang berisi coklat nya.
Regan keluar dari minimarket itu dan naik ke atas motornya lalu melaju menuju apartemennya. Tiba di apartemen Regan tampak ragu menekan sandi apartemen nya itu.
"Tak apa, lo pasti bisa Regan!"
Setelah menghembuskan nafasnya Regan menekan sandi apartemen nya dan masuk, ia membuka sepatu nya menyisakan kaos kaki nya dan berjalan menuju ruang tengah.
Di sana ia melihat Sila yang sedang duduk di sana seraya menonton televisi "Ekhm, assalamualaikum" Sila menoleh pada Regan.
"Waalaikumussalam" jawab Sila, ia langsung berdiri dari duduknya saat hendak pergi Regan menahan tangan Sila hingga Sila terhenti di tempatnya.
"Duduk dulu ada yang ingin gue bicarakan" ucap Regan menarik tangan Sila yang ia genggam untuk duduk di sofa kembali, Sila tanpa membantah sedikit pun menurut dan duduk di samping Regan yang sudah duduk terlebih dahulu.
Beberapa menit mereka masih sama-sama terdiam hingga Regan berdehem "Ekhm, ini tadi kebetulan singgah di minimarket" ujar Regan menyodorkan kantong belanjaan nya tadi.
Sila mengambil nya dan menyimpannya di atas pangkuan nya "Enggak mau di lihat isi nya?" tanya Regan melihat Sila yang hanya diam.
Sila lantas membuka kantong plastik itu dan mengambil salah satu coklat yang ada di sana.
"Coklat?"
"Ya!"
"Eh, em.. makasih ya" Sila tersenyum canggung lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Kau tidak ingin memakannya?" tanya Regan lagi, sontak Sila kembali menatap Regan saat sadar ia menundukkan kepalanya kembali lalu membuka bungkusan coklat itu.
__ADS_1
Regan nampak tersenyum puas saat Sila memakan cokelat pemberian nya dengan lahap "Lo suka?" tanya Regan sedikit membungkuk untuk melihat wajah Sila.
Sila mengangkat wajahnya, beberapa saat mereka saling bertatapan "Hm, aku suka"ucap Sila tersenyum manis, ia sudah merasa tidak takut lagi saat menatap manik Regan tadi itu membuatnya terasa aman.
Regan menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman tipis, ia sedikit lega karena hal itu.
"Gue.....minta maaf" Sila menoleh pada Regan, ia mengerutkan keningnya yang tidak paham.
"Gue minta maaf atas perilaku gue yang kasat pada lo selama ini, gue minta maaf" Sila mengerjapkan matanya seakan tidak percaya dengan perkataan Regan tadi.
Regan sudah memutuskan untuk merubah sikapnya untuk lebih terbuka lagi dengan Sila, ia juga sudah menghilangkan rasa gengsi nya lagi dengan Sila.
Regan juga ingin dapat mengontrol emosi nya agar nantinya kejadian itu tidak terulang lagi. Tapi emosi Regan benar-benar tidak bisa ia kontrol sendiri jika itu berhubungan dengan Sila.
Apa lagi jika soal Sila yang dekat dengan laki-laki di luar sana, entah mengapa ia tidak menyukai nya. Ia belum bisa memastikan hati pada Sila hingga membuat dirinya menjadi bimbang.
Memang terdengar egois, tapi Regan benar-benar memang tidak menyukai nya.
"Tidak apa, aku sudah melupakan nya" ujar Sila mengulas senyum manisnya.
"Aku bersyukur kalau kau ingin berubah Regan, dan ya kau benar tidak mudah melupakan nya tapi aku sudah memaafkan mu"
Regan membawa Sila ke dalam pelukannya membuat Sila terdiam karena terkejut.
"Terimakasih dan maaf untuk sekian kalinya" bisik Regan lalu mengeratkan pelukannya.
Sila tersenyum dan hanya menepuk punggung Regan. Semoga Regan sudah benar-benar berubah, ia sangat bahagia karena Regan sudah mulai menerima nya.
"Gue akan mencoba untuk berubah Sila, dan menetapkan bahwa hati ku memang benar-benar sudah mencintai mu atau belum, jika memang belum maka aku akan mencintaimu" batin Regan.
Kryuk kryuk
Sila terkekeh mendengar itu, karena malu Regan semakin mengeratkan pelukannya pada Sila. Sila dapat merasakan itu membuat nya kembali terkekeh, ternyata Regan orang nya lucu juga.
"Jangan tertawa Sila"
"Ah maaf, kau belum makan?" tanya Sila, Regan hanya menganggukkan kepalanya menanggapi.
__ADS_1
"Baiklah aku akan memasak sesuatu dulu untukmu" kata Sila.
"Ya, masakan makan enak untuk ku" ujar Regan dan malah menyandarkan kepalanya di bahu Sila, bukannya melepaskan pelukannya.
"Yaudah lepasin dulu, katanya mau di masakin" ucap Sila, Regan tersadar lantas melepaskan pelukannya.
"Tunggu sebentar ya" Sila berdiri dan beranjak menuju dapur, ia akan memasak sesuatu yang simpel saja takut Regan sudah tidak bisa menahan rasa laparnya.
Setelah semua selesai Sila memanggil Regan, Regan pun langsung pergi ke sana karena memang sudah sangat lapar.
Di markas mereka hanya memakan cemilan dan minum saja dan mereka berkerja yang berat-berat, bagaimana bisa tidak lapar.
"Pelan-pelan aja Regan, nanti tersedak" ucap Sila melihat Regan makan sedikit terburu-buru. Ia menuangkan air pada gelas dan menyimpan nya di sisi piring Regan.
Regan patuh dan memakan makanan dengan hingga tandas, dan yang terakhir ia meminum air nya dan bersendawa.
"Alhamdulillah" ucap Sila mengulas senyum, Regan ikut tersenyum dan berdiri dari duduknya.
"Biar aku saja" kata Sila melarang Regan membereskan piring kotor nya.
"Tidak apa apa, gue bisa kok lo enggak usah khawatir. Sekarang ini biar gue yang kerja kan"
"Tapi kamu pasti capek kan, baru pulang" memang benar, ia sedikit pegal karena sudah bekerja tadi di markas apalagi itu pekerjaan berat, tapi tidak masalah untuk nya ia juga tidak akan pingsan hanya untuk cuci piring kan?
"Enggak papa, beneran. Gue bisa kok" Sila pasrah dan membiarkan Regan melakukan apa ia ingin kerjakan.
Sila tersenyum di belakang melihat Regan yang terlihat sangat kaku mencuci piring, sepertinya itu pertama kalinya dia melakukannya.
"Sini aku bantu" ucap Sila bergabung, ia mengelap piring yang sudah Regan cuci dan menyusun nya.
Setelah semuanya selesai Regan mengangkat piring yang sudah Sila lap bersih tadi. Ia menyimpan nya di dalam lemari lemari tempat piring nya.
"Nah selesai, gue bisa kan?" tanya Regan tersenyum bangga. Sila ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja.
"Yaudah yuk ke depan" ajak Sila, mereka berdua pergi ke ruang tengah dan kembali menonton seperti kebiasaan mereka.
Tbc.
__ADS_1