
Author drop karena terlalu kelelahan, jadi mungkin part kali ini sedikit gaje😅 jadi maklum aja ya teman-teman.
Happy reading.
Kini yang dirasakan oleh Sila ada hampa, setelah benar-benar menerima keputusan Mama Rara yang membawa Regan pergi untuk sementara, membuatnya merasa hampa tanpa kehadiran laki-laki itu.
Menghela nafasnya dengan panjang sebelum berdiri untuk berangkat ke sekolah, ia tidak boleh sedih. Ini juga semua juga untuk kebaikan Regan, agar Regan sembuh dengan cepat.
Sila berangkat ke sekolah menggunakan ojek online, jika ia berjalan kali mungkin waktu nya tidak keburu.
Setelah sampai Sila berjalan cepat menuju kelasnya, pagi ini yang masuk ada guru yang terkenal dengan killer, jangan sampai ia terlambat sedikit saja membuat bad mood guru nya itu dan berakhir di marahin ataupun di hukum.
"Assalamualaikum." Salamnya memasuki kelas, ia menghela nafas lega karena guru nya belum datang.
"Untuk guru nya belum datang sil." Kata Juli setelah Sila duduk di kursinya.
"Iya, bisa-bisa kenapa marah aku."
Tak berselang lama guru yang mengajar pun masuk, dan sepertinya gurunya itu sedang good mod. Dari awal masuk para murid tidak merasa aura yang buruk dari nya.
Mereka belajar dengan tenang dan berlangsung dengan lancar hingga bel istirahat pertama berbunyi.
"Baiklah anak-anak, karena sudah istirahat ibu tutup pembelajaran hari ini dan sampai jumpa minggu depan." Setelah mengatakan itu ibu guru tersebut keluar menuju ruang guru.
"Yuk ke kantin." Sila mengangguk saat Julia mengajak nya.
Disisi lain, Bella yang tidak tenang karena tak melihat keberadaan Regan sama sekali. Dia sudah menghubungi nya namun handphone pria itu tidak aktif.
Hingga jam istirahat pertama, ia keluar dari kelas dengan terburu-buru untuk menemui Sila mencari kabar lelaki nya.
"Sila!" Panggil nya dengan oktaf yang tinggi.
__ADS_1
"Lo sembunyikan Regan di mana ha?" Tanya nya marah.
"Apa-apaan sih lo, datang-datang marah gak jelas." Kata Julia mendorong bahu Bella agar sedikit menjauh dari Sila.
"Regan gak ada kabar, handphone nya juga gak aktif sama sekali dari kemarin. Ya wajar dong kalau gua nanya Regan kemana."
Rifan menatap datar Bella, dia benar-benar muak dengan wanita itu. Ingin mendapatkan Regan dengan menggunakan pel*t membuat nya benda-benda membenci wanita itu.
"Lo bisa pergi dari sini." Ucapnya mengusir Bella.
"Gue gak bakal pergi sebelum Sila menjawab pertanyaan gue!"
"Aku gak tau bel." Jawab Sila, jujur saja Sila juga gak tau Regan kemana di bawa oleh Mama Rara. Yang hanya ia tahu Mama Rara membawanya pergi untuk menyembuhkan Regan.
"Bohong! Gak usah bohong lu!" Terik Bella.
"Pergi dari sini." Usir Rifan lagi.
"GUE BILANG PERGI DARI SINI! TULI LO!" Teriak Rifan, emosi nya benda-benda tak terkontrol menghadapi wanita sejenis Bella ini, benar-benar tidak tahu menjijikkan!
Bella tersentak kaget, ini pertama kalian melihat kemarahan Rifan. Dan itu sangat menyeramkan, tapi tak gentar.
"Gak tau malu banget sih Lo, punya harga diri gak jadi cewek?" Kini si mulut pedas Raden yang membuka suara.
Mereka semua kini menjadi pusat perhatian di kantin. Karena terlanjur kesal dan sedikit malu Bella pun pergi dari sana keluar dari kantin.
"Dasar cewek gatel!" Cibir Rafi.
"Sudah, ayo makan aja. Gak penting banget ngurusin si cewek iblis."
***
__ADS_1
Bella tak terima, ia membolos untuk pergi ke suatu tempat. Hanya sendirian, kedua temannya itu tidak ingin membolos karena sudah beberapa kali mendapat peringatan, tapi Bella bodoh amat dengan hal itu.
Mobil Bella berhenti di sebuah rumah dengan hiasan kuno, tanpa rasa takut dia masuk ke dalam sana.
"Mbah!"
"Hm, siapa kamu?" Tanya seorang pria tua yang di panggil mbah oleh Bella tadi.
"Saya Bella mbah."
"Oh, kamu. Ada apa kau datang ke mari?"
"Begini mbah, tiba-tiba saja pria saya itu hilang entah kemana. Saya ingin mbah mencari nya dengan kemampuan Mbah." Pria tua itu nampak mengangguk anggukkan kepalanya.
Dia memejamkan matanya dan mulut nya menggumam kan mantra yang tidak di pahami oleh Bella.
Beberapa saat kemudian pria tua itu membuka matanya dengan raut wajah yang serius. "Bagaimana Mbah?" Tanya Bella.
"Dia berada di tempat yang jauh, namun saya tidak bisa melihatnya dengan jelas. Dia seperti ada yang melindunginya, tapi bukan ilmu hitam." Jelasnya.
"Lalu, Bella harus apa mbah?" Tanya Bella.
"Saya akan berusaha untuk menemukan nya." Bella mengangguk saja lalu mengelus sebuah amplop coklat dan menaruhnya di depan pria tua itu.
"Baiklah kalau begitu Bella pamit dulu mbah." Pamit Bella pergi dari sana.
"Saya tidak yakin, tapi jika dugaan ku benar tentang hal itu makan saya tidak bisa berbuat banyak." Gumam pria tua itu.
Tbc.
Like dan komen jangan lupa💜
__ADS_1