
Happy reading
Pulang sekolah Regan tetap bersama Sila, ia juga tidak pergi ke markas nya untuk hari ini. Seperti biasa Regan dan Sila duduk di ruang tengah menonton tv dan memakan cemilan.
“Regan aku boleh gak terus terang sama Juli?” tanya Sila pada Regan yang menonton sepak bola, Regan menoleh dan menatap Sila yang duduk di samping nya.
“Boleh dong, kamu hubungin dia aja uruh kesini, teman teman gue juga gue ajak ke sini sekalian di jelasin semuanya sama mereka” ujar Regan mengambil tangan Sila dan di genggem nya.
“Yaudah” Sila melepaskan tangan nya yang di genggam oleh Regan lalu mengambil hp nya untuk menghubungi Juli, Regan mendengus karena hal itu ia mengambil kacang dan membuka kulit nya lalu ia makan.
“Sudah, aku nyuruh Juli kesini nanti sudah magrib” Regan mengangguk menanggapi nya lalu mengambil kembali tangan Sila untuk di genggam nya.
Sila tidak menolak, ia tersenyum dan menyandarkan kepala nya di bahu Regan. Regan tersentak tapi sedetik kemudian ia juga ikut tersenyum, mereka berdua menikmati acara nonton nya dengan sweet.
Benar yang di katakan oleh Regan tadi, setelah maghrib para sahabat nya datang ke apartemen nya.
Rafi dan Rifan bingung saat Sila yang membuka kan pintu untuk nya tadi, Regan menahan mereka untuk menunggu Juli datang terlebih dahulu agar dia menjelaskan hanya satu kali saja.
"Duduk dulu, kita tunggu sahabat Sila baru gue jelasin semuanya" ujar Regan, Rafi yang hendak berbicara tadi tidak jadi dan menutup duduk di sofa yang ada di sana.
"Aku ambilkan minum sama cemilan lagi ya" pamit Sila tersenyum pada mereka. Sila pergi ke dapur mengambil minuman kaleng milik Regan dan beberapa cemilan ia juga mengambil nya lalu kembali ke ruang tengah.
Sila menyimpan nya di meja, sebelum Sila duduk bel berbunyi "Sepertinya itu Juli, aku akan membukakan nya pintu" Sila pergi kedepan, ia melihat ternyata memang Juli yang datang Sila segera membuka pintunya.
"Assalamualaikum" salam Juli masuk.
"Waalaikumussalam" jawab Sila, ia segera mengandeng Juli membawa nya ke dalam dengan perasaan bahagia.
Juli berhenti saat melihat empat pria yang di kenal nya "Kalian ngapain ada disini?" tanya Juli pada mereka, ia menurut saat Sila menuntun nya untuk duduk di sofa, Sila pun ikut duduk di samping Juli.
"Ini kan apartemen Regan, ya wajar kali kalau kita ada disini" ujar Rafi, Juli menatap Sila meminta penjelasan.
Sila tersenyum mengusap lengan Juli, lalu Sila menatap Regan menyuruhnya untuk mulai berbicara, Regan mengerti itu dan mengangguk saja.
"Baiklah, karena kalian udah datang semua gue akan jelaskan semuanya! Semua pertanyaan yang ada di benak kalian akan gue jawab sekarang, jadi selama gue cerita jangan ada yang menyela ataupun memotong nya, cukup dengar kan saja"
__ADS_1
Setelah mengambil nafas Regan berbicara kembali, mereka semua menatap nya dengan serius kecuali Sila dan Raden yang hanya biasa saja.
"Gue sama Sila udah nikah, ki-"
"What!! kalian udah nikah? tapi kenapa gak undang kita sih bos jahat banget" tanya Rafi memotong ucapan Regan, Rifan dan Juli menatap tajam Rafi sedangkan Regan memejamkan matanya, dia sudah bilang untuk tidak memotong ucapan nya tapi, huh sudahlah sahabat nya yang satu itu memang tidak bisa di bilangin.
Rafi menyengir kuda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Yaudah ayo lanjut" seru Rafi, Regan mendengus sebal tapi tak ayal dia kembali menjelaskan semuanya pada mereka tanpa celah sedikitpun.
"Wahh gak nyangka gue" kata Rafi tidak percaya setelah mendengar semuanya.
"Jadi kalian sudah di jodohkan?" tanya Rifan, Argan mengangguk menanggapi nya.
"Gila seperti sih, masih ada perjodohan di jaman sekarang tapi kalau di jodohkan sama perempuan kayak Sila mah gue juga mau kali" ujar Rafi tersenyum manis pada Sila.
Regan melempar Rafi dengan kulit kacang "Wadaw, santai dong bro posesif amat" ucap Rafi mengambil kulit kacang yang di lempar Regan tadi lalu menyimpannya di wadah kulit kacang lainnya.
Juli masih diam karena enggak nyangka, ia menatap Sila yang juga menatap nya "Maaf ya Juli, Sila sudah bohongi Juli" ucap Sila memegang tangan Juli.
"Gak papa kok, gue cuma masih enggak nyangka aja tadi kalau lo bisa nikah sama dia" Juli menatap Regan dengan tatapan yang seakan-akan menilai Regan dengan buruk.
"Bukan urusan lo!" ucap Juli ngegas.
"Santai dong cantik, gak usah ngegas" Raden menghiraukan mereka semua, ia makan dengan tenang hingga menyisakan sedikit cemilan tanpa di sadari mereka semua.
"Woy Raden, diam diam bae" seru Rafi melihat Raden yang hanya diam sendari tadi.
"Lo gak kaget gitu soal mereka?" tanya Rafi pada nya.
"Ngapain, gue udah tau" jawab Raden setelah meminum minuman nya "Kenyang" ucap nya mengelus perutnya tersenyum senang.
"Wahh, jangan jangan lo juga udah tau" kata Rafi menunjuk Rifan.
"Gue juga baru tau sekarang" jawab Rifan.
"Udah deh enggak usah cerewet, cerewet banget tau gak jadi laki" ujar Juli jenah mendengar kehebohan Rafi.
__ADS_1
"Sensi banget sih lo, pms ya lo" Juli bersekedap dada menatap Rafi horor.
"Em, kalian tinggal makan malam ya" ucap Sila menengahi perdebatan mereka berdua.
"Mau! gak usah di tanyain sil kalau itu mah" seru Raden bersemangat, kalau soal makanan Raden tidak ada kenyang kenyang nya.
"Dasar perut karet" ejek Rafi, tapi Raden menghiraukan nya ia tidak ingin berdebat dengan Rafi sekarang ini.
"Gue udah pesan makanan tadi, bentar lagi juga datang" ujar Regan membuat mata Rafi dan Raden berbinar.
"Juli juga tinggal makan malam ya sekalian" ucap Sila memeluk lengan Juli, Juli tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju setuju saja.
Ding dong....
"Wah panjang umur!" seru Raden dan Rafi bersamaan, ia segera berdiri berjalan ke depan mengambil makanan yang Regan pesan tadi.
"Makasih pak" seperti mengatakan itu mereka berdua masuk.
"Mari makan" seru mereka lagi berjalan terlebih dahulu menuju dapur, yang lain mengikuti mereka dari belakang.
Regan mencuri kesempatan untuk menggenggam tangan Sila, mereka berdua sama-sama tersenyum berjalan menuju dapur, tapi karena Juli menarik Sila jadinya Sila melepaskan genggaman tangan dari Regan.
Rifan melihat itu tersenyum tipis, ia menepuk pundak Regan dan mengajak nya kembali berjalan.
Sila mengambilkan piring untuk mereka, ia juga mengambil nasi yang sudah ia masak tadi lalu menyimpannya di tengah tengah meja makan.
"Memang terbaik deh si bos kalau sering sering beli kayak gini buat kita" ucap Raden membuat Sila tertawa geli.
"Aduh pengantin baru kita ini bermesraan di depan jomblo" sindir Rafi melihat Sila mengambilkan makanan untuk Regan.
"Cari pacar sana" ujar Regan.
"Udah ya, kita mulai aja makannya" kata Sila duduk di kursinya.
Regan memimpin doa, setelah itu mereka pun mulai menyantap makanan mereka sesekali Raden dan Rafi berebut makan dan Juli yang memarahi mereka. Momen itu tidak akan di lupakan oleh mereka.
__ADS_1
Tbc.