
Happy reading.
Kini Sila sudah berada di ruang rawat nya setelah di periksa oleh Dokter. Dokter tadi mengatakan kalau kondisi Sila tidak ada yang serius.
Sila hanya sedikit syok, serta tubuhnya yang memang sudah lemah karena perutnya belum terisi.
Julia juga sudah menghubungi Rifan, Raden dan Rafi. Ia tidak menghubungi keluarga Sila ataupun keluarga Regan, ia menunggu Sila siuman terlebih dahulu meminta izin dari sahabat nya itu.
Beberapa menit kemudian di dalam keheningan tiba-tiba saja kelopak mata Sila bergerak menandakan bahwa Sila sudah sadar, dengan senang nya Julia menekan tombol untuk memanggil Dokter.
"Sila, Alhamdulillah akhirnya lo sadar juga." Kata Julia tersebut lega.
"Permisi, biar saya memeriksa pasien terlebih dahulu." Ujar Dokter yang baru saja datang.
Juli sedikit menggeser membiarkan sang Dokter melakukan tugasnya. "Alhamdulillah, sekarang keadaan pasien sudah membaik. Setelah infus nya habis pasien sudah diperbolehkan untuk pulang." Jelas Dokter tersebut.
"Alhamdulillah, makasih ya Dokter." Sang Dokter mengangguk lalu pamit untuk memeriksa pasien yang lain.
Brak!
"Sila!"
Pintu dibuka secara kasar disusul dengan teriakan itu membuat keduanya sedikit terkejut, lalu Julia mendengar sebal melihat sang pelaku. Sedangkan Sila, ia hanya terkekeh kecil saja melihat Raden yang cengengesan di depan pintu sana.
"Berisik lo, disini bukan hutan ya."
"Ya maaf."
"Ohiya, ini gimana ceritanya Sila bisa masuk rumah sakit?" Tanya Rafi mendekat pada hospital bad dimana Sila berbaring.
Raut wajah Julia langsung berubah menjadi sinis. "Ini semua tuh gara-gara sahabat lo semua." Cetusnya.
Ketiganya mengerutkan keningnya bingung.
"Maksudnya gimana?" Kini Rifan yang bertanya.
"Reg-"
__ADS_1
"Udah gak papa kok, lagian aku juga udah baikan." Ujar Sila memotong ucapan Julia.
"Gak bisa sil, mereka harus tahu bagaimana sikap ketua mereka!" Bantah Julia.
"Regan yang membuat Sila kayak gini. Kita memergok Regan dan Bella yang hampir berciuman, cih menjijikkan!"
"Si*lan!"
"Lo udah kasih tau keluarga lo?" Tanya Raden.
"Belum, aku gak mau kasih tahu mereka. Aku gak mau membuat mereka khawatir." Jelas Sila.
"Ini gak bisa di biarkan, Regan sudah keterlaluan. Gue pengen banget kasih dia pelajaran." Geram Julia.
"Gue sih memang sudah curiga melihat berubah sikap Regan yang berubah dalam sekejap." Kata Rifan.
Dengan serius Rifan menatap mereka semua membuat mereka penasaran. "Gue punya rencana."
***
Raden dan Rafi yang berdiri sisi keduanya bagaikan bodyguard mereka, lalu Rifan yang sudah menunggu keempat nya di luar dengan mobilnya.
Rifan membukakan pintu untuk Sila masuk dan disusul oleh Julia, sedangkan Raden dan Rafi mengikuti mereka dari belakang menggunakan motor nya.
Sesampainya di apartemen, Julia kembali menuntun Sila untuk berjalan diikuti oleh ketiga pria itu di belakangnya.
"Assalamualaikum." Salamnya masuk ke apartemen.
Tak ada jawaban, mereka masuk dan duduk di sofa. "Sepertinya Regan tidak ada." Ujar Rafi yang tak melihat batang hidung Regan.
Cklekk.
Kelimanya menoleh melihat siapa yang masuk, dan ternyata itu adalah Regan yang baru juga pulang entah dari mana.
"Dari mana aja bro?" Tanya Raden pada Regan seakan-akan tidak ada yang pernah terjadi.
Julia sudah menatap Regan dengan tajam, tapi itu tak membuat laki-laki risih sama sekali.
__ADS_1
"Dari rumah Bella, kenapa?" Tanyanya balik.
"Oh gak papa kok." Jawab Raden lalu menyengir.
Regan tampak melirik Sila sejenak lalu berjalan menuju dapur, melihat Regan pergi dengan cepat Rifan juga pergi dari sana namun ia berjalan ke kamar Regan.
Tak lama kemudian Rifan sudah kembali dan kebetulan Regan pun juga sudah kembali lagi, Regan tampak melirik Sila dan terus berjalan menuju kamarnya.
"Anjir, gue sampai tahan nafas didekat nya." Celetuk Rafi mengusap lengannya.
"Sila, kan besok masih libur. Gue bermalam disini aja ya." Kata Julia, ia khawatir jika meninggalkan sahabat sendiri dengan sikap Regan yang berubah seperti itu.
Tidak ada jaminan kalau Regan tidak akan kembali menyakiti Sila dan melampiaskan emosi nya pada Sila.
"Gue setuju, kalau perlu kita bertiga juga bermalam disini aja. Tidur di sofa aja." Timpal Raden.
"Eh gak usah, nanti paginya badan kalian pegal-pegal lagi kalau tidur nya gak nyaman." Ujar Sila tak enak pada mereka.
"Gak papa kali sil, udah biasa kita mah. Lagian sofa nya empuk gini." Jawab Rafi seraya duduk di sofa.
"Gue setuju, sekalian kita tunggu reaksi nya." Ujar Rifan ikut duduk di sofa.
"Yaudah, aku buatkan teh hangat ya." Kata Sila.
"Eh jangan! Kita bisa buat sendiri kok, lo kan baru keluar dari rumah sakit jadi lo mendingan istirahat aja." Ucap Raden pengertian.
"Julia." Panggil Rifan, Julia yang paham pun mengangguk dan mengajak Sila untuk masuk istirahat.
"Yuk masuk." Ajak nya. Sila tersenyum sejenak dan menganggukkan kepalanya.
"Kira-kira berapa lama akan manjur tuh." Celetuk Rafi.
Rifan mengangkat bahunya tak tahu. "Tunggu aja." Jawab nya cuek lalu memainkan handphone nya.
Tbc.
Kira-kira rencana Rifan apa ya guys🤔
__ADS_1