
Happy reading
Pagi harinya terlihat berbeda dari biasanya di meja makan itu, tidak seperti biasanya mereka yang di mana mereka hanya duduk diam memakan makanannya dan langsung pergi.
Saat itu suasana berbeda dari sebelumnya, suasana nya menjadi lebih hangat. Regan yang terus menatap Sila dengan mengulas senyumnya.
Dan Sila yang sibuk menyajikan sarapan mereka "Yuk makan" ajak Sila yang sudah duduk di kursi nya.
Regan mengangguk dan memimpin doa sebelum mereka mulai makan. Setelah berdoa barulah keduanya menyantap makanan mereka.
Regan tak henti-hentinya tersenyum di sela-sela makannya, ia terus melirik Sila, tapi Sila tidak menyadari itu ia hanya fokus pada sarapannya saja.
"Kamu belum selesai?" tanya Sila yang melihat Regan terdiam seraya menatap nya?
"Ah, iya" Regan langsung menyuapi diri nya terus menerus hingga makanan nya tandas.
"Pelan-pelan aja, aku bisa tunggu kok" ucap Sila memberikan minum lagi pada Regan.
"Sudah selesai kok" kata Regan memperlihatkan piring nya. Sila tersenyum, ia mengambil piring Regan menyusunnya dengan piring nya dan membawanya ke wastafel.
Sila mencuci piring nya dulu, setelah itu ia keluar memakai sepatunya lalu menyusul Regan yang menunggu nya di mobil.
"Sudah?" tanya Regan.
"Udah"
Regan menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan menuju sekolah mereka, karena jarak nya yang tidak terlalu jauh jadi mereka cepat sampai di sana.
Seperti biasa, Regan memarkirkan mobilnya di parkiran khusus untuk nya dan para sahabat sahabatnya.
"Regan!" panggil Sila saat Regan sudah hendak membuka pintu mobilnya.
Regan menoleh melihat Sila yang menjulurkan tangannya kanannya, ia mengangkat sebelah alisnya menatap Sila.
"Mau uang?" tanya Regan, Sila menggelengkan kepalanya.
"Terus apaan?" tanya Regan lagi, Sila memajukan bib*rnya cemberut lalu meraih tangan Regan.
"Mau salim Regan! Itu aja enggak ngerti" kata Sila mencium punggung tangan Regan.
Regan terdiam membeku saat Sila mencium punggung tangan nya, hanya seperti itu saja membuat nya seperti ini. Ini memang terlihat sepele, tapi tidak dengan Regan! Ini, ini rasanya luar biasa! Regan langsung mengulas senyum manisnya ia mentap Sila yang juga menatap nya.
__ADS_1
"Lagi" kata Regan dengan manik binar, Sila tidak mengerti maksudnya sampai Regan menjulurkan tangannya nya. Sila melihat itu langsung paham, ia tersenyum dan kembali menyalimi tangan Regan.
"Sudah?" tanya Sila, Regan mengangguk senang menanggapinya ia tersenyum manis akan hal itu, siapa saja yang melihatnya saat ini pasti akan memekik karena ini pertama kalinya Regan kembali tersenyum manis seperti itu.
"Yaudah yuk turun" ajak Sila, lagi-lagi Regan hanya menganggukkan. Mereka membuka pintu mobil dan keluar.
Karena memang sudah hampir jam masuk parkiran sedang ramai-ramainya para murid yang baru datang, dan karena kedatangan mereka berdua membuat mereka heboh kembali untuk kedua kalinya.
Mereka semua saling berbisik membicarakan tentang bagaimana hubungan Regan dan Sila. Regan yang di kenal anti dengan perempuan lalu Sila yang juga tidak dekat dengan laki-laki karena bukan mahram nya, tapi kedua datang bersama ke sekolah.
"Sila lo udah benar-benar keterlaluan! Tunggu saja tanggal mainnya" ucap Bella mengepalkan tangannya marah, lalu ia langsung pergi dari sana di ikuti oleh kedua temannya.
"Aku duluan ya Regan" kata Sila yang sudah berada di depan kelasnya, Regan memaksa untuk mengantarnya sampai di depan kelasnya.
"Iya, sana masuk" Sila mengangguk lalu membuka pintu kelasnya, sebelum ia menutup pintu nya ia sempat melambaikan tangan nya para Regan yang masih berdiri di depan sana.
Kedua sudut bib*rnya Regan berkedut menahan senyumnya karena melihat tingkah manis Sila, ah... kenapa ia baru sadar jika Sila ternyata semanis itu seandainya dulu dia... Ah sudahlah ia juga ikut melambaikan tangannya pada Sila.
Sila tersenyum lalu menutup pintu kelasnya, Regan berbalik menuju kelasnya mungkin para sahabatnya sudah berada di sana semua.
Di dalam kelas Sila langsung menyidang Sila meminta penjelasan pada sahabatnya itu "Iya, nanti Sila jelasin tapi bukan sekarang" ucap Sila.
"Tapi lo janji ya, lo harus jelasin semuanya!"
Disisi lain kelas Regan berada, ia baru sampai dan langsung di serang dengan berbagai pertanyaan olah para sahabatnya kecuali Raden tentu nya, karena hanya dia sendiri yang tahu.
"Nanti gue jelasin" ujar Argan menghela nafas pusing mendengar ocehan Rafi yang terus mendesak nya untuk menjawab pertanyaan nya.
"Lo janji ya, awas aja kalau enggak"
"Iya"
Mereka semua pun berhenti berbicara karena guru sudah masuk, mereka pun mengikuti pembelajaran dengan baik hingga jam istirahat pertama datang.
"Yok kantin yok" seru Raden mengajaknya ketiga sahabatnya ke kantin. Keempat nya berjalan berdampingan menuju kantin, sesampainya di sana ternyata kantin sudah sudah banyak sekali yang datang dan kursi nya sudah penuh semua.
"Padahal belum juga beberapa menit udah penuh aja, sepertinya kita harus menyiapkan meja untuk kita saja" ucap Rafi mentap sekeliling kantin.
"Setuju, biar enggak capek cari tempat duduk lagi" timpal Raden
"Hanya di sana yang masih ada kursi" ujar Rifan menunjuk meja yang hanya diisi oleh dua perempuan saja, dan ternyata kedua perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah Sila dan Juli.
__ADS_1
"Yuk duduk disana aja, udah gak ada lagi yang kosong juga" ucap Raden, ia sudah berjalan duluan di susul oleh Rafi, Regan dan Rifan.
"Kita boleh duduk di sini ya, gak ada tempat kosong lagi pada penuh" ucap Raden, Juli menatap sekeliling dan benar meja sudah pada penuh semua.
"Duduk aja" ujar Juli cuek. Keempatnya pun duduk di sana, Rafi ingin duduk di samping Sila tapi dengan cepat Regan mendorong Rafi dan ia langsung duduk di samping Sila.
Rafi berdecak kesal "Kenapa sih bos" ucap Rafi lalu duduk di samping Rifan.
"Regan gak baik gitu sama teman" bisik Sila di telinga Regan, Regan menoleh saat mendengar bisikan Sila ia pun juga ikut berbisik "Iya maaf"
"Ekhm" dehem Raden yang melihat Sila dan Regan bisik bisikan, mereka semua lantas menatap Raden bingung.
"Kenapa lo?" tanya Rafi.
"Enggak, oh iya yok temenin pesan makanan" Raden menarik Rafi sebelum protes.
Kini tinggal mereka berempat disana, Sila dan Juli memakan makanannya menghiraukan keberadaan kedua laki-laki itu.
Saat Sila ingin menyuapi diri suapan terakhir nasi gorengnya itu, Regan dengan gesit memakan nasi goreng tersebut. Dan mereka terlihat seperti Sila mencium pipi Regan karena jarak mereka yang terlalu dekat.
Hal itu membuat Juli tersedak dengan makanan nya, Rifan juga terkejut dengan sikap Regan itu.
"Juli kamu gak papa kan?" tanya Sila pada Juli yang meminum air.
"Enggak papa kok sil" jawab Juli. Lalu Juli menatap Regan dengan tajam.
"Ngapain lo kayak gitu sama sahabat gue!" marah Juli pada Regan, Sila panik ia langsung menenangkan Juli sebelum Juli memukuli Regan. Juli bukan marah karena Regan memakan makanan Sila, ia marah karena Regan berani menyentuh Sila dan selama ini Juli lah yang menjadi Sila dari laki-laki yang genit di luar sana.
"Gak papa kok jul" ucap Sila.
"Enggak papa gimana! Berani banget dia kayak gitu sama lo" kata Juli tidak terima, Sila memejamkan matanya bingung harus berbicara apa.
"Gue cuma refleks" ujar Regan tenang melirik Sila yang sedang bingung.
"Refleks lo bilang?" Juli tambah marah, ia sudah berdiri dari duduknya mendekati Regan. Sila langsung memeluk Juli dan menahannya.
"Juli udah ya gak udah marah-marah, aku gak papa kok beneran, nanti ada yang aku jelasin" ucap Sila memelas membuat Juli mau tidak mau menuruti.
"Kenapa nih?" tanya Rafi datang bersama Raden membawa nampan makanan mereka.
"Ayo pergi" Juli menarik Sila pergi dari kantin, Regan masih mentap mereka dengan tenang
__ADS_1
Tbc.