
Happy reading
.
Suasana kelas tiba-tiba mencekam karena aura Regan yang sangat kuat, Bella bahkan tidak berkedip pada saat itu.
"Regan jangan marah, aku lakuin itu karena cemburu melihat kamu sama Sila yang sangat dekat, kita kan pacaran wajar dong kalau aku cemburu dengan pacar aku sendiri." kata Bella yang sangat pede, ia melupakan perilaku Regan tadi pada nya.
Regan menatap Bella dengan tajam, seandainya tatapan nya itu dapat menusuk Bella maka sudah dari tadi Regan menusuk Bella.
"Cewek si*lan!" Regan menjambak rambut Bella lalu membentur kan kepala Bella pada meja, hal itu membuat kening Bella berdarah.
"Arghh, Regan."
"Jangan sebut-sebut gue sebagai pacar lo j*lang! Dasar wanita menjijikkan!" Regan mendorong Siska dan Laras dengan kasar hingga mereka berdua terjauh di lantai.
"Sialan, berani banget lo pada membuly Sila dan mengurung nya di toilet" Regan mencengkeram tangan Siska membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Regan sakit." cicit Siska. para murid hanya menonton mereka tanpa membantu sama sekali, karena percuma juga nanti akhir-akhir nya mereka juga terkena amukan Regan.
"Berani banget lo semua! Plak." Regan menampar wajah Siska begitu kuat hingga meninggalkan jejak telapak tangan besar Regan di sana.
__ADS_1
Plak.
Plak.
Regan juga menampar wajah Bella dan Laras "Ingat ini, sekali lagi gue tau kalau lo membuly Sila gue benar-benar enggak akan menjamin hidup kalian bertiga!" setelah mengatakan itu Regan pergi, tapi sebelum keluar dari kelas ia menendang meja yang tak jauh dari pintu.
Hal itu membuat murid yang berkerumun di sana seketika menjauh karena takut terkena anukan Regan juga.
"Gue mau mereka bertiga di skors" setelah mengatakan itu Regan mematikan telpon nya, ia berjalan menuju parkiran menaiki mobil nya dan menjalankan nya menuju apartemen.
"Wah, gila sih si Regan kalau mengamuk." celetuk Juli melihat Regan yang mengamuk secara langsung, dia biasanya hanya mendengar cerita teman kelas nya bagaimana seramnya Regan ketika marah dan kini ia melihat nya sendiri.
"Ya, jadi jangan sampai membangunkan singa yang sedang tidur." kata Raden menimpali.
"Kantin, ini sudah hampir jam istirahat."
"Oh, gue ikutt." Raden berlari menghampiri Juli, lalu ia merangkul pundak Juli dan berjalan bersama. Juli tidak mengelak ia saat ini tidak ingin bertengkar atau pun berdebat dengan Raden jadi ia membiarkan nya saja untuk saat ini, untuk saat ini! Kalau nanti siap-siap Raden harus merasa pukulan panas nya.
"Assalamualaikum" salam Regan memasuki apartemen nya, ia tidak melihat Sila di ruang tengah, dan ia tebak kalau Sila sekarang berada di kamar nya.
Tanpa banyak pikir Regan berjalan menuju kamar Sila, dan untung saja pintu itu tidak terkunci sama sekali sehingga Regan masuk begitu saja.
__ADS_1
Pemandangan pertama yang dilihat Regan adalah, Sila duduk di depan meja rias yang tengah mengeringkan rambutnya.
Ini pertama kalinya ia melihat Sila tanpa memakai hijab selama mereka menikah, dan lihatlah Sila saat ini. Rambut yang begitu hitam dan juga panjang, satu kata yang Regan ungkapan 'Cantik' sangat cantik.
"Ehm" dehem Regan membuat Sila menoleh terkejut, mata nya membola saat melihat Regan yang berdiri di depan pintu.
"Regan kamu kesini."
"Ya" Sila berdiri menuju kasur dan mengambil jilbab nya yang ada di atas sana.
"Kenapa kamu pulang, kan belum waktunya." Regan berjalan menghampiri Sila dan duduk di samping Sila, entah mengapa tapi Regan sangat ingin memeluk Sila saat ini.
Di peluk nya Sila, di bawanya wajahnya untuk di tenggelam kan pada leher Sila. Hal itu membuatnya nyaman, dirinya tadi yang masih emosi seakan sudah hilang.
Pelukan Sila bagaikan obat yang dapat meredam nya amarah nya, Sila sendiri yang di peluk terdiam tak bergerak sedikitpun. Ia terlampau kaget karena perilaku Regan yang tiba-tiba ini, sungguh ia tidak pernah berfikir sedikit pun untuk di peluk oleh Regan.
Ini juga menjadi pelukan pertama nya pada seorang pria selain Abi nya, hal itu membuat Sila terdiam kaku tak tau harus bereaksi bagaimana, makanya dia hanya terdiam dan membiarkan Regan memeluk nya.
Regan dapat merasakan tubuh Sila yang meneg*ng karena perbuatannya, tapi jika ia melepaskan nya maka ia sudah membuang kesempatan emas ini.
Merasa tidak mendapatkan penolakan, Regan semakin mengeratkan pelukannya pada Sila dan semakin menenggelamkan wajahnya pada leher Sila.
__ADS_1
Keduanya terlarut dalam pelukan mereka yang begitu nyaman dan juga hangat, bahkan Sila sudah membalas pelukan Regan setelah berperang sengit dengan pikirannya.
Tbc.