
Happy reading
Saat ini, Sila dan Regan berada di kamar, keduanya sama-sama terdiam di keheningan malam. Keduanya sama-sama canggung setelah kejadian di ruang tengah tadi.
"Tidur aja sana" ucap Regan membuka suara. Sila menoleh dan membaringkan tubuhnya di kasir sisi kiri, ia berkata apa-apa karena merasa canggung.
Setelah beberapa menit lamanya Regan pun membaringkan tubuhnya di sisi kanan kasur, keduanya pun meraih mimpi mereka masing-masing.
***
Pagi harinya Sila sudah berada di dapur bersama Mama Rara, mereka memasak bersama di selingi pembicaraan radom.
"Jadi deh, kamu bangunin suami kamu dulu ya sayang, kamu tau kan anak itu tuh sudah banget di bangunin" tukas Mama Rara, Sila terkekeh sejenak sebelum mengangguk dan beranjak ke lantai dua.
Sila memasuki kamar, pandangan nya tertuju pada Regan yang masih lelap tertidur di kasur. Sila berjalan mendekati kasur, ia duduk di sisi kasur dan membangunkan Regan "Regan bangun, aku sama Mama udah buatkan Saparan" ujar Sila menepuk lengan Regan.
Regan tidak bereaksi sama sekali membuat Sila harus melakukan yang seperti Mama Rara saran kan dulu. Sila mengelus rahang Regan dengan lembut "Regan bangun" ucap nya masih mengelus rahang Regan.
Regan mulai menggeliat, ia membalikkan badannya lalu meraih tubuh Sila hingga Sila terjatuh di dalam dekapan Regan. Regan memeluk Sila dengan erat seraya mengulas senyum.
"Regan bangun... kenapa malah narik aku" kata Sila bergerak mencoba untuk melepaskan pelukan nya.
Sila menghembuskan nafasnya lalu kembali mengelus rahang Regan "Regan bangun yuk, Mama sama Papa pasti udah tungguin kita di bawah" ucap Sila lembut.
"Emhh"
"Bangun Regan" Regan seketika membuka matanya lalu menatap Sila yang ada di dekapan nya. Keduanya saling memandang beberapa menit, Regan seakan akan terhipnotis dengan manik Sila yang sangat menenangkan, pelan pelan jarak keduanya sangat dekat hingga Regan mendarat kan sebuah kecupan manis di kening Sila.
Ini sudah ketiga kalinya Sila mendapatkan kecupan Regan di kening Sila, yang pertama saat setelah akad mereka, yang kedua saat di ruang tengah kemarin, dan keempat sekarang! Sila menatap manik Regan yang juga menatap nya.
Keduanya sama-sama terpaku, sebelum Mama Rara mengetuk pintu mereka "Sayang, kenapa belum turun juga, cepat turun ya Mama tunggu di bawah" ujar Mama Rara.
Regan lantas langsung melepaskan pelukannya, Sila bangun dan segera berdiri "Tadi aku bangunin, tapi kamu enggak bangun-bangun juga" ucap Sila menundukkan kepalanya seraya memilin tangan nya di belakang.
Regan memijat pangkal hidung nya seraya memejamkan matanya, ini juga salahnya, ada apa dengan dirinya ini yang seakan-akan dirinya tidak terkontrol saat sudah berdekatan dengan Sila.
__ADS_1
"Regan, kamu kenapa?" Sila melambaikan tangannya di depan wajah Regan membuat Regan tersadar.
"Ha? Kenapa?" tanya nya linglung.
"Ayo bangun dan segera mandi, kita udah di tungguin Mama sama Papa di bawah" ujar Sila. Regan pun mengangguk patuh turun dari kasur menuju kamar mandi.
Sila membereskan kasus seraya menunggu Regan mandi. Beberapa menit kemudian Regan sudah keluar lebih fresh dari sebelumnya, Sila tersenyum menyambut Regan "Yuk turun" ajak Sila.
Regan pun ikut berjalan di sisi Sila turun ke bawah menuju dapur, di meja makan sana sudah ada Mama Rara dan Papa Devan duduk menunggu mereka. Sila merasa tidak enak karena mereka begitu lama baru turun.
"Maaf ya ma pa, Mama sama Papa tungguin kita lama" ucap Sila, Mama Rara tersenyum "Enggak kok sayang, gak papa" ujar Mama Rara.
"Yuk duduk makan" ucap nya kembali, mereka pun ikut duduk di meja makan. Seperti biasa, Sila mengambilkan makanan untuk Regan dengan talenta, begitu pun dengan Mama Rara melayani Papa Devan.
Setelah makan mereka kembali berkumpul di ruang tengah "Ma Regan sama Sila pulang ke apart ya" ujar Regan membuat Mama Rara menoleh.
"Loh kok buru-buru banget sih, nanti sore aja kalian pulang nya"
"Enggak ma, nanti kapan-kapan Regan sama Sila mampir lagi deh" ucap Regan, Mama Rara pun mengangguk setuju walaupun ia tidak ingin. Dirinya masih mau bersama menantu nya.
"Jadi kalian pulang sekarang?" Regan mengangguk.
"Yaudah, kalian hati-hati ya" Regan dan Sila bergantian menyalimi Mama Rara dan Papa Devan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Yuk masuk" ajak Papa Devan merangkul pundak Mama Rara membawa nya masuk ke rumah.
Di mobil Regan dan Sila sama-sama tidak berbicara hingga Sila melihat minimarket dan mengikat kalau di apartemen bahan makanannya sudah habis "Kita singgah minimarket boleh?" tanya Sila.
"Mau beli apa?" tanya Regan, ia berbelok dan berhenti di depan minimarket yang besar, disana sudah sangat lengkap Mama Rara saja sering berbelanja di sana. Selain dekat di sana juga komplit, jadi apa lagi coba.
"Bahan makanan di rumah sudah habis, jadi aku mau belanja" jawab Sila, ia membuka sabuk pengaman nya lalu turun dari mobil. Regan pun juga sama, ia membuka sabuk pengaman nya dan ikut turun menyusul Sila.
__ADS_1
Didalam minimarket itu, Sila mengambil teroli lalu pergi di rak daging, Sila mengambil daging ada sapi, ikan dan ayam, lalu tak lupa juga ia mengambil udang, sosis dan nugget hanya sedikit. Setelah itu Sila pindah pada rak sayuran "Kamu suka sayur apa?" tanya Sila pada Regan yang mengikuti nya dari belakang.
Regan ikut melihat sayur yang ada di sana "Yang itu aja" tunjuk Regan pada sayur yang di pegang oleh Sila.
"Sawi?" tanya Sila, Regan mengangguk. Sila pun memasukkan beberapa sawi di dalam troli, tak lupa ia memasukkan jagung serta kentang dan wortel, Sila sangat menyukai jus wortel dan ia juga suka membuat makanan dengan olahan kentang.
Lalu mereka berpindah pada rak buah-buahan, Sila mengambil buah apel, pisang anggur dan alpukat "Mau ambil buah apa lagi?" tanya Sila kembali pada Regan.
"Tambahin pisang nya aja" tukas Regan. Mereka ke rek selanjutnya, Sila mengambil beberapa makanan kaleng. Regan menerobos dan memasukkan beberapa bungkusan mie.
"Gak udah banyak-banyak Regan, enggak baik" ujar Sila membuat Regan berhenti memilih mie.
"Kenapa sih, uang-uang gue juga!" kata Regan.
"Yaudah, udah gitu aja tapi, gak baik makan terlalu banyak loh"
Regan memutar bola matanya malas "Iya iya" Sial tersenyum lalu berpindah pada rak cemilan. Ia mengambil banyak cemilan biskuit dan wafer, Regan ikut mengambil cemilan kesukaannya
"Ih Regan, gak baik makan begitu terlalu banyak" ucap Sila.
"Cerewet banget sih lo!" bentak Regan, Sila lantas menunduk, ia takut jika Regan marah dan menyakiti nya lagi.
"Maaf" Regan menghela nafas mencoba untuk meredakan emosi nya. Ingat, Regan itu orang yang sangat emosian.
"Udah, sekarang mau beli apa lagi?" tanya Regan, Sila nampak menggeleng, Regan pun mengambil alih troli belanjanya dan membawa nya ke kasir untuk di bayar.
Sila mengikuti Regan dari belakang, ia tidak berbicara karena takut membuat Regan marah kepadanya. Regan menerima dua kantong besar yang sudah di bayarnya lalu berjalan keluar, lagi dan lagi Sila mengikuti Regan dari belakang.
Di dalam mobil mereka kembali diam "Maaf tadi gue membentak lo, lo harus tau kalau gue itu emosian, jadi sebisa mungkin lo jangan memancing emosi gue" jelas Regan, Sila mengangguk mengerti dan bergumam maaf.
"Udah gak papa, ayo kita pulang" Regan menyalakan mesin mobilnya dan pergi menuju apartemen.
Sila diam-diam menatap Regan "Aneh banget, tapi aku bersyukur karena dia sudah mulai berubah" batin Sila mengulas senyum manisnya. Sila kembali menatap jalan raya yang mulai padat.
Tbc.
__ADS_1