(Not) Bad Husband

(Not) Bad Husband
NBH 9 : Obat


__ADS_3

Happy reading


Sore hingga malam harinya Regan kawan-kawan tetap berada di markas Red Moon. Begitupun dengan anak-anak lainnya yang ada di sana tadi yang masih berlatih.


Sekarang mereka kembali duduk berkumpul di ruang tengah, mengobrol seraya memakan cemilan nya.


Tiba-tiba mereka mendengar suara riuh dari luar sana "Cek" dua anak Red Moon berdiri berjalan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Mata keduanya membulat saat melihat beberapa orang dengan jaket yang sama satu sama lain bertuliskan Blacky.


Mereka berlari ke ruang tengah "Gawat bang, geng blacky membuat onar di luar. Mereka merusak barang-barang yang ada di luar" seru mereka.


Regan mengepalkan tangannya "Red Moon!" seru Regan. Para anggota Red Moon berdiri menghadap Regan "Banyak juga ya nyali mereka ke kandang singa" ujar Raden.


"Mereka duluan yang cari masalah. Red Moon, ayo bereskan para sampah itu" ujar Regan menyeringai.


Mereka berjalan keluar menghadapi musuh yang berani masuk ke kandang singa. "Wets geng pengecut akhirnya keluar juga" ucap pria salah satu dari mereka.


Regan dan anak Red Moon lainnya tersenyum miring mendengar itu "Kalau berani sini maju, jangan hanya mulut nya yang lemes" ucap Rafi yang bermulut pedas.


"Lakik kok letoy" lanjut Rafi membuat geng Blacky menggeram marah. "Sialan lo"


"Blacky serang!"


"Red Moon, maju!"

__ADS_1


Kedua geng itu saling menyerang. Memukul, menendang dan saling menghindar serangan "Selesaikan dengan cepat" teriak Regan, para anak Red Moon pun menghajar anak Blacky dengan bruntal, mereka tidak memberikan anak Blacky cela sedikitpun untuk menghindar ataupun menghindar sedikitpun.


Melihat ia akan kalah ketua dari Blacky mengeluarkan benda tajam dan menyerang Regan. Regan menghindar dengan baik tapi ia gagal fokus saat ingin melindungi Raden yang juga di serang diam-diam, jadilah Regan mendapatkan goresan oleh benda tajam tersebut.


"Brengsek" umpat Raden marah, ia menghajar pria itu membabi buta hingga pria itu tidak sadarkan diri dengan keadaan yang sangat parah.


"Udah" Regan menahan dan menarik Raden menjauh "Bereskan mereka semua" titah Regan sebelum masuk membawa Raden yang masih mengatur nafasnya.


"Tenangin diri lo" ucap Regan menepuk pundak Raden.


"Mending sekalian lo obatin luka lo gan, sebelum membekas" ujar Raden. Regan menggeleng pelan "Gue bisa obatin di apartemen, gue pulang dulu" pamit Regan.


"Gak obatin luka lo duku gan?" tanah Rafi.


"Hati-hati" Regan memberikan jempol dan berlalu. Saat melewati kekacauan yang ada didepan Regan berdecak kesal "Gue pulang duluan" pamit Regan pada anak Red Moon yang masih mengurus kekacauan tadi


"Iya bang" sahut mereka.


Regan menjalankan mobilnya ke apartemen, untung saja ia memakai mobil hari ini. Regan menaiki lift dan menekan tombol lantai 16.


*Ting


Lift terbuka, Regan keluar menuju pintu kamarnya. Regan menekan sandi apartemen nya lalu masuk tanpa mengucapkan salam.

__ADS_1


"Regan" Regan yang sedang membuka sepatu nya mendongak melihat wajah cantik nan manis Sila yang baru ia lihat seharian ini "Kamu kenapa?" tanya Sila khawatir, tangan nya terulur menyentuh luka yang ada di pelipis Regan "Sakit gak?" tanya Sila.


"Kenapa bisa gini sih" gumam Sila meneliti setiap luka yang ada di wajah Regan, Sila juga menunduk dan menggenggam tangan Regan yang memar. Tangan Sila sedikit gemetar saat menyentuh memar tersebut.


Regan diam, ia masih menatap wajah cantik Sila yang begitu dekat dengannya "Ayo sini duduk" ajak Sila menarik tangan Regan untuk duduk di sofa.


"Tunggu sebentar ya, aku ambil kotak obat dulu" pamit Sila untuk mengambil kotak obat di dekat dapur, ia menaruh nya disana agar lebih mudah di cari.


Sila kembali dengan membawa kotak obat, ia duduk di samping Regan lalu membuka kotak obat tersebut. Sila pun mulai mengobati luka Regan dengan hati-hati, sesekali Sila meringis seolah-olah ia yang merasakan sakitnya, siapa yang sakit siapa yang merasa sakit.


"Alhamdulillah selesai juga, sekarang kamu bersih-bersih gih.Tapi hati-hati ya sama luka ini" Sila mengelus dengan lembut luka yang udah ia obatin dan di berikan perbang.


Seketika jantung Regan berdetak tak karuan karena perilaku Sila itu. Regan mati-matian menahan keinginannya untuk memeluk Sila saat ini yang terlalu menggemaskan untuk di anggurin.


"Kenapa? Apa sakit banget ya?" tanya Sila melihat wajah Regan yang memerah. Regan berdehem membuka jaketnya.


"Aku siapin air hangat ya" tanpa menunggu balasan Regan, Sila pergi begitu saja ke kamar Regan menyiapkan air hangat untuk Regan dan juga pakaian Regan.


Regan menghembuskan nafasnya sebelum berdiri dan menyusul Sila "Sudah?" tanya Regan, Sila tersenyum dan mengangguk lalu keluar dari kamar mandi tersebut.


Setelah beberapa menit lamanya Regan di kamar mandi, Regan keluar dengan pakaian yang sudah Sila siapkan tadi. Ia berjalan menuju kasur dan menjatuhkan diri di kasur empuk itu, Regan memejamkan matanya hingga ia masuk di dunia mimpi.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2