
Di keheningan mereka tiba-tiba terdengar bunyi ponsel Arion. Dia tersenyum pada Pinky kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Pinky menatapnya sembari meneguk air mineral di depannya.
"Halo Ma ... iya bentar lagi aku kesana!" ucapnya di telepon itu. Lalu dia menutup teleponnya dan menaruhnya di saku kembali.
"Kamu anak Mama banget, ditelepon Mama terus dari kemarin," ledek Pinky.
Arion terkekeh, "Aku sayang banget sama Mama, cuma dia orang tuaku." Wajahnya berubah sendu.
"Maaf ya!" Arion berusaha tersenyum. "Papamu ....?" tanya Pinky ragu.
"Udah gak ada kata Mama."
"Oouh ...."
"Ya udah aku balik dulu ya Kak!"
__ADS_1
Pinky mengangguk, "Hati-hati ya! Makasih untuk tadi." Terpampang senyum di wajah mereka.
Arion berdiri dan Pinky pun juga ikut berdiri. Dia mengantarnya sampai luar berjalan berdampingan. Arion memakai helm full face-nya menatap tajam si pemilik restoran itu dengan terus menarik garis senyum bibirnya.
"Jangan nangis lagi!" serunya dengan menyalakan motor. Laki-laki itu melambaikan tangan dan Pinky membalasnya. Secepat kilat dia memutar gas motornya.
Sepanjang perjalanan Arion di ikuti mobil hitam. Dia terlalu menikmati perjalanannya sampai tak sadar akan hal itu.
Sesampainya di jalan yang sepi mobil itu menyalip dan langsung menghadang. Seketika dia mengerem mendadak motor yang dia tumpangi. Bunyi rem itu pun sangat nyaring di telinga. Dia hampir terjatuh bersama motornya.
Arion membuka helmnya dan menaruh di atas motor. Dahinya berkerut, tangannya mengepal. "Apa maksud lo? Pengen ngebunuh gue?"
"Ya."
Arion memberikan senyum setengahnya kemudian membuang mukanya. "Kenapa lo? Cemburu?"
__ADS_1
"Gue tau lo bukan pacar Pinky. Gue kenal Pinky udah lama, gue tau semua sifatnya. Jadi lo gak usah lagi ikut campur urusan gue sama Pinky!" Gino mendorong dada Arion.
Arion membalas mendorong dada Gino. "Urusan Pinky urusan gue juga. Karena gue pacarny, lo jauh-jauh sana!" Dia mununjuk-nunjuk mata laki-laki pengkhianat itu.
Tangan Gino mengepal, wajahnya memerah dia seketika memukul wajah Arion hingga membuatnya tersungkur di aspal jalan panas yang kini hanya satu dua mobil yang melewatinya.
Arion mengerutkan keningnya, pembuluh darah nampak tegang di lehernya, ekspresi wajahnya pun mengeras. Dia langsung berdiri dan memukul Gino tiga kali tepat di wajahnya.
"Lo laki-laki pengkhianat pantas dapetin ini!" Arion memukul perutnya tiga kali. Gino meringis kesakitan.
Dia mencoba berdiri dengan memegangi perutnya. "Apa maksud lo?" tanyanya dengan geram. Laki-laki itu sedikit kaget dengan ucapan Arion.
Arion meludahkan gusar sedikit darah yang keluar dari bibirnya. "Gak usah sok bingung lo! Udah berapa lama lo khianatin Pinky? Jangan-jangan dari awal pacaran ya?"
"Heh ... jangan asal ngomong ya!" Gino mengepalkan tangannya dan siap mendarat ke wajah Arion. Namun Arion menahannya dan memukul kembali wajah Gino hingga dia tersungkur. Itu balasan yang cukup memuaskan bagi Arion. Nampak sudut mulutnya muncul.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu lama, Arion mengambil helm dan memakainya. Dia menaiki motornya langsung pergi begitu saja dari sana. Gino seperti tak terima. Dia menjambak gusar rambutnya. "Gue gak akan tinggal diam!" Laki-laki seperti tak mau begitu saja melepas Pinky. Lalu untuk apa selama ini dia bermain belakang dengan wanita lain? Satu kata untuknya 'egois'.