22.23

22.23
Anak Kucing


__ADS_3

"Kenapa harus buru-buru?" Pinky mengerutkan kening. Dia seperti di usir dari tempat ini. Walaupun sebenarnya tempat ini sangat jauh dari kata nyaman. Sampah berserakan, kubangan air dimana-mana, becek ditambah pemandangan rumah-rumah sekitar yang kumuh. Namun, dia bahagia karena ada Arion yang selalu menghiburnya.


"Aku takut kamu gak nyaman di tempat ini," ucap Arion yang duduk di sampingnya dan sesekali melirik pemilik paras wajah cantik itu.


Pinky tertawa, "Aku nyaman kok." Arion memiringkan kepalanya seraya tersenyum.


"Apa yang membuatmu nyaman?" tanyanya dengan suara pelan dan berat.


Ah, pertanyaan macam apa itu? Siapa pun akan malu jika harus berkata jujur di posisi seperti ini. Begitu pun Pinky, dia berpikir keras dengan menggaruk kepalanya.


Satu, dua, tiga, "Mereka ...." Dia menunjuk anak-anak jalanan yang sedang bermain seraya bernyanyi riang itu. Padahal dalam hatinya ingin menunjuk yang memberi pertanyaan.


Arion melihat ke arah mereka, "Aku juga nyaman disini setiap melihat mereka, membantu sedikit beban mereka. Mereka yang selalu membuatku seperti orang beruntung karena Tuhan menitipkanku pada orang tua yang bisa memberiku segala fasilitas yang ada. Jika aku jadi mereka mungkin aku tak akan sanggup."


Pinky terus menatap wajah manis yang melihat ke arah anak-anak itu. Manis, sungguh manis. Jantungnya berdegup lebih kencang saat laki-laki itu memperlihatkan lesung pipinya.


Arion kemudian menatap Pinky. Pinky langsung mengalihkan pandangannya karena malu. "Kak ...."


"Hem," Dia menatap mata itu.


"Tipe cowok kamu seperti apa?"

__ADS_1


Deg


Pinky meremas-remas tangannya. Apa Arion akan menembaknya hari ini juga? Tidak, ini masih terlalu cepat baginya. Walaupun kenyataan ada rasa di dalam dada.


Arion melambai-lambaikan tangannya di depan mata Pinky yang melamun dengan pertanyaan konyol diotaknya.


"Eh ... em tipe cowok aku dewasa lah masak kekanak-kanakan."


Ups. Wajahnya berubah datar. Arion bahkan sekarang merasa sangat kecil sekali. Jauh dari dewasa, bahkan pantasnya dia menjadi adik wanita yang di sampingnya itu.


"Kenapa?"


"Aaaaaahhhk," teriaknya. Pinky langsung memeluk Arion sembari menghentak-hentakan kakinya di tanah. "Aku takut ... aku takut."


Arion mencoba mengusir anak kucing itu. Pinky masih saja terus memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di dada Arion. Laki-laki itu menepuk-nepuk bahu Pinky.


"Udah pergi Kak." Pinky mengintip ke bawah kakinya. Arion terkekeh melihatnya. "Kamu phobia kucing?" Pinky mengangguk. "Disini banyak kucing liar mencari makan. Ya udah ayo pulang! Pegang tanganku!"


Arion mengulurkan tangannya. Mereka berjalan melewati kubangan-kubangan air. Pinky sedikit berjinjit-jinjit. Matanya juga terus waspada jika ada kucing yang tiba-tiba mendekatinya lagi.


Arion menaiki motornya, Pinky menyusul dengan berpegang pada pundaknya. Dia kemudian melingkarkan tangannya dan memeluk laki-laki itu dari belakang. Tersenyum malu di balik punggung itu.

__ADS_1


"Makasih ya, kamu udah berikan pengalaman ini."


Arion menipiskan bibirnya, dia memegangi tangan Pinky yang melingkar diperutnya seraya melirik ke belakang. "Pengalaman bertemu anak kucing?"


Pinky memukul pelan punggung itu. "Ya udah ayo jalan!" Arion memajukan bibir bawahnya dan memutar gas motornya pelan. Dia seperti sengaja mengulur waktu menikmati pelukan wanita yang berada di belakangnya. Menikmati perjalan hangatnya, walaupun sebenarnya suasana setelah turun hujan ini bisa dikatakan dingin.


"Kamu jangan memanggilku Kakak! Aku berasa seperti sangat tua. Kita kan cuma beda beberapa bulan aja lahirnya." Pinky mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah aku panggil sayang aja ya? Hiya ...."






Jangan panggil aku tante juga Yon!


Kita cuma beda beberapa tahun 🧠🔨🤣

__ADS_1


__ADS_2