
Pinky terus menatap punggung Arion sampai tak nampak lagi di depan matanya. Dia juga melihat cowok itu mengendarai motor sportnya keluar tempat parkir dengan kecepatan tinggi dari dalam restoran.
"Udah pergi orangnya." Aero mencoba membangunkan Pinky.
Pinky merengut kesal, "Ro ...."
Aero berdehem seraya mengetuk-ngetukan ujung jarinya di meja.
"Kamu coba tanya Papa deh, kenapa Papa benci sama Arion. Kali aja Papa mau kasih penjelasan."
Aero yang bersandar kini mendekati Pinky. "Apa Papa salah sangka? Papa apa salah orang? Mungkin Papa mengira yang jatuhin sandwich Kakak dulu Arion. Ya pasti itu alasannya. Arion Papa kira temen Kakak yang nakal itu mungkin."
Bicara apa dia? Di bolak-balik tidak jelas membuat Pinky bertambah bingung.
"Gak mungkin, Papa dulu pernah aku ceritain sebelum bertemu dengan Arion. Dan Papa antusias banget ketemu Arion."
Aero menompang dagunya seraya berpikir alasan Papanya yang masih menjadi tanda tanya besar bagi mereka.
Dia menepuk tangannya keras dan membuat Pinky terlonjak. "Kita tanya Mama aja."
"Boleh juga idemu. Nanti biar Mama yang tanya sama Papa?"
Aero tersenyum, namun bola matanya serasa ingin keluar saat melihat mobil Jenny terparkir di restoran Kakaknya itu.
"Waduh ... Kak aku harus kabur. A-da Jenny di depan." Aero berdiri celingak-celinguk.
__ADS_1
"Lewat pintu samping." Pinky menepuk-nepuk bahunya. "Cepat Ro!"
"Iya."
Dia langsung berlari menuju pintu samping restoran. Sampai luar Aero berjalan mengendap-endep seraya terus waspada teman wanitanya itu tak mengetahui keberadaannya.
Matanya membulat saat mengetahui mobil Sonya masuk ke restoran. Dia serasa orang yang sangat tak beruntung. Saat ini dia tak mampu menuju mobilnya karena terparkir rapi bersebelahan dengan mobil Sonya.
Dia menggaruk-garuk kepalanya. Berpikir keras lari dari masalah ini. Namun tak di sangka Sonya mengetahui keberadaannya.
"Aero ...." teriak Sonya.
Aero berdecak. "Sial banget gue." Sonya berjalan berlenggak-lenggok mendekati Aero dengan tangan menenteng tas yang terbuat dari kulit buaya itu. Dia menarik garis bibirnya seraya menyalipkan anak rambut di telinganya.
Tanpa pikir panjang lagi Aero berlari keluar halaman restoran. "Loh Ro ...?" Sonya langsung panik. Dia berusaha mengejar pangerannya itu.
"Halah."
Aero menambah kecepatan berlarinya. Dua wanita itu terus mengejarnya. Dia berlari menabrak pejalan kaki yang berlalu lalang berjalan di trotoar.
"Maaf ... maaf!" Kata itu yang sering dia ucapkan.
Dia berlari terus menengok ke belakang tanpa memperhatikan di depannya ada seorang wanita yang dia tabrak dan kertas yang di bawa wanita itu terbang bertebaran ke udara. Ponsel Aero pun terjatuh dan pecah.
"Haduh ... kayak di sinetron aja sih lo! Tau ada orang buru-buru ngalah dikit kek!" Aero berdengus kesal.
__ADS_1
"Kamu kira ini jalanan punya Bapakmu?"
Aero melihat ke belakang. Jenny dan Sonya semakin mendekat. Dia mengusap gusar wajahnya. "Sebagai permintaaan maaf lo harus nutupin gue disitu!" Aero menunjuk salah satu tempat duduk di halte.
Dia menarik paksa tangan wanita itu. "Diam tutupi aku!" ancam Aero. Dia duduk di belakang wanita itu.
Jenny dan Sonya terlihat celingak-celinguk di depan halte. "Aero kemana? Larinya cepet banget! Kaki gue pegel," keluh Jenny. Dia melirik ke Sonya. "Lo sih ikut-ikutan nyamperin Aero. Jadi dia ilfeel sama gue."
"Enak aja lo nyalahin gue."
Mereka berdebat tiada henti di sepanjang perjalanan kembali ke restoran mengambil mobilnya.
Aero mengelus-elus dadanya. Perasaannya kini sedikit lega. Dia berdiri di depan wanita itu. "Lo harus tanggung jawab ganti ponsel gue yang jatuh!"
"Ganti?"
"Iya lah, dua puluh juta aja udah."
"Hah," Mulutnya ternganga lebar. "Uang dari mana? Aku aja mau cari kerja!"
"Ya itu urusan lo."
"Ih kamu kok jahat banget, aku itu mau kuliah sambil cari kerja datang ke kota ini. Terus suruh ganti dua puluh juta?"
Aero melihat wanita itu dari ujung kepala ke ujung kaki. Lumayan, dipoles sedikit mungkin akan terlihat menarik. Wanita itu risih melihat tatapan Aero ditambah lagi dia berpikir buruk dengan dua wanita yang mengejar Aero.
__ADS_1
"Oke kalau lo gak bisa ganti ponsel gue, lo harus jadi pacar gue!"