
Genap satu bulan ini Pinky dan Aero berbohong pada Rey tentang siapa Arya sebenarnya. Rey tak menaruh kecurigaan sama sekali pada anak-anaknya. Yang Rey tau Arya hanyalah teman dekat mereka. Yang Rey tau Arya sering datang ke restoran untuk bertemu Pinky dan Aero. Rey tak mengetahui jelas jika dibalik itu semua Arion dan Pinky sering jalan berdua dibelakangnya.
Mereka menyembunyikan rapat hubungan mereka. Hubungan? Apa mereka sudah berpacaran?
Tidak, ini hanya hubungan yang tak jelas apa statusnya. Belum, mereka belum berpacaran. Teman tapi keduanya ada rasa. Pacar tapi mereka tak bersepakat untuk kesana. Entahlah apa? Yang jelas mereka sangat bahagia dan begitu menikmatinya.
Bukan maksud menggantung atau mempermainkan Pinky, Arion masih khawatir akan nasib hubungannya dengan Pinky jika tanpa restu dari Rey.
Ingin rasanya dia pergi menjauh namun tak bisa. Ini tak semudah yang dibayangkan. Rasanya terlalu dalam bahkan semakin lama semakin dalam. Hingga sangat sulit di hapuskan. Apakah ini akan berakhir membahagiakan atau malah menyakitkan?
Hari ini seperti biasanya, Arion datang ke restoran Pinky. Kali ini ada Aero yang sibuk menatapi layar ponselnya seraya menekuk mukanya di meja ujung restoran. Arion berjalan menghampirinya.
"Muka lo biasa aja bisa gak?" ledek Arion dengan menggeser kursi di sebelah tempat duduk Aero. Aero hanya meliriknya, bibirnya bertambah mengerucut. "Mau gue kuncir tuh bibir?"
"Apaan sih lo?" Aero menaruh ponselnya.
Arion terkekeh. "Gimana kabar tiga istri lo? Masih akur 'kan?"
"Ck," Aero berdecak. "Lo tau gak gue tuh lagi nungguin telepon cewek yang sebulan lalu jadi pacar gue.
Arion memundurkan kepalanya. "Pacar?" Dahi Arion berkerut halus. "Sejak kapan lo punya pacar?"
"Ya sejak lo suruh cari pacar. Ini cewek tuh, gue kasih kartu nama gue tapi sampai sekarang ngilang tanpa mau hubungin gue lagi. Gue kesel nungguinnya. Padahal gue lagi butuh dia. Tiga cewek itu mulai aktif lagi sama gue. Sedangkan cuma dia yang bisa tolongin gue."
__ADS_1
"Cepet banget lo dapet cewek? Ketemu dimana? Ya lo samperin lah dia ke rumahnya!"
"Gue gak tau rumahnya."
Aero kemudian terdiam mendengar pertanyaan Arion. Dia terus menekuk mukanya. Kali ini Aero tak mau menceritakan tentang cewek bernama Lisa itu pada Arion yang ada temannya itu akan menertawakannya karena telah memeras cewek yang baru berusia delapan belas tahun.
"Oke deh gini, lo cari cara yang lebih ekstrem!"
"Maksud lo apaan?" Perasaan Aero merasa tak enak pada kata 'ekstrem' itu.
Arion mendekat ke Aero dan berbisik, "Lo buat mereka ilfeel." Aero langsung memundurkan kepalanya.
"Apa gue perlu ngupil di depan mereka?" teriaknya yang membuat Arion tak sanggup menahan tawa.
Tiba-tiba Aero terdiam, dia menyeringai menatap Arion. Aero menarik ke atas sudut mulutnya, dia juga menggerak-gerakkan satu alisnya. Kini berbalik Arion yang mempunyai perasaan tak enak tentang tatapan itu.
"A-apa?"
"Lo jadi pacar gue!"
Mata Arion membulat. Dia berdiri dan berteriak, "Gila lo ya?" Semua pengunjung di restoran itu sontak kaget dan menatapnya.
Aero menarik tangan Arion supaya duduk kembali. "Cuma itu ide di kepala gue. Yakin ini rencana bakal berhasil. Mereka bakal ilfeel. Ayolah Yon! Lo gak kasian sama gue?" bisiknya.
__ADS_1
"Gak," tegasnya.
"Gak gue restuin lo sama Kakak gue!" ancam Aero dengan menggeprak meja.
"Biasa aja lo, gak usah ngancem-ngancem!"
Aero melirik tajam, "Yah lo mau gak? Yakin sekali akting langsung berhasil," ucap Aero dengan nada suara ditekan.
"Ya udah, tapi kalau sampai dua kali gue ogah ya!"
"Tenang aja!" Aero berbisik di telinga Arion. "Sekarang lo foto sama gue! Gue jadikan status, biar menjadi pemanasan buat mereka bertiga."
"Wah udah gila beneran lo! Lo buat status biar dilihat semua orang gitu? Gue ogah!" Arion langsung berdiri dengan wajah cemberut.
Aero menariknya agar duduk kembali. "Gue privasi tenang aja! Cuma mereka bertiga yang lihat. Gue juga malu kali." Aero mengambil ponselnya dan menarik kepala Arion dengan lengannya untuk mendekat ke kepalanya. "Yon lo pura-pura cium gue, buruan!"
"Setres lo Ro, gak gitu juga!" Arion mendorong Aero pelan.
"Ya elah ini cuma akting. Buruan!"
Arion mendengus kesal. "Lo aja yang cium gue! Gue gak jago akting ya!" Aero akhirnya mengangguk. "Eh ... tapi jangan sampai kena pipi gue! Pipi gue masih perawan," tegas Arion.
"Ck, bawel banget lo."
__ADS_1
Kini mereka berpose layaknya sepasang kekasih yang baru jadian. Pose pertama Aero memanyunkan bibirnya ke pipi Arion. Pose kedua mereka saling menempelkan pipi. Pose ketiga Aero bersandar di bahu Arion. "Udah cukup! Risih gue." gertak Arion dengan mengusap-usap pipinya. "Mana Kakak lo?" Arion langsung berdiri.
"Dalem," jawab singkat Aero dengan terus menahan tawa dan siap memamerkan fotonya ke tiga wanita yang terus mengejarnya. Apa kali ini rencananya berhasil? Kita lihat saja.