
Rey tak menjawab pertanyaan istrinya dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan tatapan sinis. Kinan mendekatinya dan memeluknya. Berusaha meredakan amarah yang ada dalam dada suaminya.
"Tanya gitu aja marah?"
"Aku gak suka kamu bahas masalah Selena lagi. Aku gak ingin kehilanganmu, kehilangan kalian." Rey kini menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur seraya memeluk Kinan. "Aku sangat menyayangi kalian." Dia mencium puncak kepala istrinya.
"Aku tau itu, tapi kamu terlalu berlebihan jika harus mengekang mereka berteman dengan siapa."
"Aku tidak mengekang mereka berteman dengan siapa pun, aku hanya tak ingin mereka berteman dengan anak Selena. Itu saja."
Kinan menghela lagi napasnya. Dia kini duduk menatap wajah suaminya dan memegang pipinya. "Sudahlah lupakan itu!"
"Gak akan. Sudahlah sayang malam ini aku gak ingin bertengkar hanya karena mak lampir itu."
Astaga, Rey masih saja mengingat nama julukan untuk wanita yang dulu terus menjeratnya itu.
"Ya udah tidur!" Kinan pun juga lelah jika membahas itu semua.
"Kamu melupakan sesuatu!" Rey memiringkan kepalanya dan mencium bibir Kinan. Suara decapan itu seperti di sengaja oleh keduanya untuk semakin menumbuhkan gejolak dalam jiwa yang sepertinya tak bisa disebut muda.
Mereka saling memejamkan mata, menikmati kenyal dan manisnya bibir. Lagi-lagi tak ada habisnya.
__ADS_1
Satu menit, dua menit, tiga menit.
Mereka masih begitu menikmatinya. Sampai Kinan mendorong Rey untuk menyudahi karena seperti kekurangan oksigen. Dia mengelap bibirnya yang kebas dan basah.
"Sudah cek belum?" tanya Rey.
Hah, cek? Cek apa?
Kinan seperti lelah dengan pertanyaan itu, "Sudahlah sayang, Aero itu hanya bercanda minta adik. Kamu tau sendiri 'kan sifat anak itu bagaimana? Setiap hari selalu kamu pikirkan."
Rey menggaruk kepalanya, "Aku ngerasa gagal banget jadi laki-laki," keluhnya. "Dari dulu aku gak bisa hamilin kamu. Aku tuh kayak ...."
Kinan menempelkan telunjuknya di bibir Rey. Dia ingin menghentikan keluhan suaminya yang baginya sangat aneh itu.
Rey menggelengkan kepalanya, "Cuma Aero. Aku ingin punya tiga atau empat lagi gitu."
Astaga, dia sudah lupa akan umurnya. Jiwa mudanya terus meronta sampai sekarang. Permintaan Aero yang hanya gurauan belaka pun seperti menjadi cambuk keganasannya di sepanjang malam.
"Aku selalu bilang gak mau. Ini sangat beresiko."
Rey berubah menjadi lesu. Kinan mengelus-elus pipinya. "Berhenti mikirin anak lagi! Ayo tidur!"
__ADS_1
Rey menciumi tangan Kinan, "Tapi aku masih ingin terus bercinta denganmu."
"Iya," jawabnya singkat untuk tujuan menyudahi.
"Ya udah, ayo!" serunya dengan tatapan menggoda dan menyunggingkan bibirnya sebelah.
Mereka menyatukan kening. Hidung mereka pun bersentuhan, ada senyum bahagia yang mereka tampakkan.
"Duduklah disini!" Rey menepuk-nepuk pahanya. Tanpa pikir panjang Kinan langsung melakukan keinginan suaminya itu. Mencium bibirnya untuk mengembalikan gairah cinta mereka.
Tangan Rey kini mulai membuka satu persatu kancing baju yang Kinan kenakan dan siap untuk mencari kehangatan. Namun, ditengah asyiknya kenikmatan yang akan mereka lakukan terdengar suara ketukan.
"Ma ... Mama ...."
Astaga, masih kecil atau pun sudah besar Aero selalu datang di saat waktu yang tak tepat.
"Anak ini!" gerutu Rey.
Kinan langsung turun dari pangkuan Rey dan segera mengancingkan bajunya. Rey terlihat sangat geram pada anak laki-lakinya itu. Dia berjalan cepat menuju pintu dan membukanya.
"Ma bu ... ka," teriakan Aero berubah lirih saat Rey tiba-tiba melotot ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu tau Papa dan Mama lagi apa?"