
Hampir dua bulan ini Pinky menjalin hubungan dengan Azka. Setiap hari bertemu, setiap hari menghabiskan waktu bersama, namun belum juga tumbuh cinta dalam hatinya untuk laki-laki itu.
Ukiran nama Arion di dalam hatinya terlalu dalam bahkan sulit untuk dihilangkan. Pinky selalu ingin membencinya dengan mengingat dia adalah anak dari pembunuh Papa kandungnya. Rasanya tak mungkin bersanding dengannya, itu sama saja berbahagia diatas kematian Papanya. Namun, rasanya dia baru menyadari ucapan Papanya dulu, semakin berusaha melupakan semakin akan sulit untuk lupa.
Jika tak memandang siapa Arion sebenarnya, wanita itu ingin kembali seperti dulu, tak tau siapa asal asulnya, menghabiskan waktu bersama, rasanya ingin terus mengulangnya dan terus bersamanya. Dia selalu tersenyum saat mengingatnya.
Ini sangat menyakitkan. Kenapa Tuhan harus memberikan cinta ini padanya? Menjalin hubungan dengan Azka bahkan tak mampu mengusir rasa itu. Lalu dia harus bagaimana?
Malam ini di restorannya, lagi-lagi Azka menemuinya. Dia menelepon Pinky beberapa jam yang lalu, ada hal penting yang akan dia sampaikan padanya.
Pinky berjalan menghampiri Azka di tempat parkir mobilnya. Laki-laki itu membawa sebuah cincin. Mata Pinky membulat saat laki-laki menunjukan sebuah cincin itu padanya seraya memberi senyum manisnya.
"Aku akan melamarmu?"
"A-pa?"
Tidak, ini bagi Pinky terlalu cepat. Bahkan dia belum ada rasa sampai sekarang. Dia tak mampu membayangkan harus menikah dengan laki-laki yang tak dicintainya. Arion, andai Arion yang melamarnya, mungkin ini akan menjadi malam paling bahagia sepanjang hidupnya. Tidak, khayalan ini terlalu jauh. Pinky menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu terkejut. Aku sudah yakin padamu."
Pinky memberikan senyum setengahnya. "Ta-pi ...."
Azka memegang kedua tangannya. "Aku akan menerimamu apa adanya."
Bagaimana dia harus menjelaskan pada laki-laki itu tentang perasaannya? Apa dia harus berterus terang? Yang ada Azka akan mengira Pinky telah mempermainkannya. Lalu bagaimana?
Pinky terus terdiam seraya menatap jalanan yang ramai mobil berlalu lalang, dengan kedua tangannya masih digenggam erat oleh Azka. Laki-laki itu masih terus menunggu jawaban Pinky. Sedangkan Pinky dia masih saja melamun.
"Siapa Arion?" tanya Azka dengan menyatukan kedua alisnya.
"Eh," Pinky gugup menatap Azka kemudian dia menatap lagi ke arah pinggir jalanan itu. Dia melihat jelas Arion dengan menunggangi motor kesayangannya yang kaca helmnya dibuka terlihat jelas sorot matanya sedang menatapnya tajam penuh kebencian ke arah Pinky dan Azka.
Perasaan Pinky bercampur aduk menjadi satu. Pertanyaan konyol berkeliaran di pikirannya. Apa Arion marah padanya? Tapi bukankah laki-laki itu sudah tak mencintainya. Lalu kenapa Arion terdiam di seberang jalan sana mengawasi dia dan Azka?
"Sebentar ya!" Pinky melangkahkan kaki lebar dan berlari cepat ke jalanan menghampiri Arion. Dia sudah tak tahan lagi. Jantungnya berdegup kencang, perasaannya seperti tak tenang.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" teriak Azka. Namun, Pinky tak menghiraukannya.
Dia masih terus berlari menghampiri Arion diseberang jalan. Arion mengetahuinya dan dia ingin segera pergi menjauh dari Pinky. Pinky kini mengetahui Arion sudah siap untuk pergi dia berteriak, "Arion tunggu!"
Arion hanya menoleh sebentar ke arah Pinky, lalu dia memutar gas motornya. Karena Pinky terburu-buru, dia menyebrang asal tanpa melihat ada sepeda motor yang kencang melintas.
Tiiiiinnnn tiiinn
"Awas!" teriak pengendara sepada motor itu.
Braaaakkk
❤
❤
❤
__ADS_1