22.23

22.23
Kadal


__ADS_3

Malam ini Aero berjanjian dengan Arion untuk bertemu di restoran Pinky. Melepas rindu belasan tahun hanya dengan pertemuan tadi pagi rasanya belum cukup untuk mereka.


Kali ini Arion terlihat memakai celana jeans hitam dengan kaos berwarna putih dan jaket hitam yang sederhana namun tak memudarkan aura ketampanannya. Tak lupa dia menyemprotkan parfum beraroma musk merk terkenal yang kebanyakan dari wanita tergila-gila yang menghirupnya. Dia berdiri di depan kaca melihat penampilannya. Oh tidak, luka lebam di pipinya karena tonjokan Gino tadi siang masih terlihat membekas disana. Tapi laki-laki itu tak begitu menghiraukannya.


Dia melihat jam ditangan kirinya dan seketika langsung berlari keluar kamar bersiap dengan motor sport hitam kesayangannya. Menyusuri jalanan malam yang penuh sorot lampu kendaraan dan lampu yang menghiasi trotoar. Senyum bibirnya tersungging di balik helm full face yang dia kenakan. Banyak harapan di hati kecilnya. Salah satunya semoga Pinky masih ada disana.


Ah perasaan apa ini?


Secepat kilat dia memutar gas, menyalip setiap kendaraan yang ada di depan matanya. Tak butuh waktu lama untuk sampai ditujuan.


Disana dia melihat mobil Aero sudah terparkir. Arion berlari kecil masuk ke dalam restoran. Bola matanya berkeliling di setiap sudut ruangan dan dia menemukan teman kecilnya itu sedang duduk memainkan ponselnya di ujung ruangan itu.


Arion tersenyum dan berjalan ke arahnya. Dia menarik kursi di samping Aero dengan keras sehingga membuat Aero yang melamun menatap ponselnya sedikit terlonjak.


"Tumben anteng banget lo, liat apaan?" tanya Arion yang kini sudah duduk di kursinya dan memanjangkan lehernya dan mengangkat kedua alisnya melihat ponsel Aero.


"Lihat film jepang," Aero langsung memasukkan ponsel itu di saku celananya. Arion terkekeh dengan membuang mukanya kemudian dia menatap wajah Aero yang seperti sedang geram.


"Kenapa lo? Dikejar-kejam Surtini lagi?"


Aero mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya. Lalu dia menatap Arion yang sedari tadi menampakan sederetan gigi putihnya itu. Dahinya sedikit berkerut. "Eh tunggu! Komuk lo kenapa lebam gitu?" Tanpa menjawab pertanyaan Arion, dia malah balik bertanya.


Arion memegangnya, "Habis di tonjok tadi siang."


"Sama ...?"


Matanya berkeliling dan membisikan pada Aero. "Gino."


"Hah ...?" Aero memundurkan kepalanya. "Dimana? Wah berani-beraninya tuh kadal ...."

__ADS_1


"Sssstttt ...." Arion menempelkan telunjuknya di bibirnya. "Gak usah keras-keras napa? Nanti Kakak lo tau."


Braakk


Aero berdiri sembari menggeprak meja. Arion membulatkan matanya melihat tingkah berlebihan Aero. "Ya harus tau kelakuan tuh kadal kayak gimana?"


"Kayak bocah aja lo?" Arion mengernyitkan wajahnya. "Dimana Kakak lo?"


"Di dalam," jawabnya ketus. Dia kemudian duduk kembali. "Sorry udah nglibatin lo dalam masalah Kak Pinky."


"Santai aja!"


Tak lama kemudian Pinky keluar menemui mereka. Tampak kekaguman di wajah Arion melihatnya. Pinky berhenti sejenak mengetahui Arion begitu tajam menatapnya. Dia menyembunyikan senyum malunya dengan menundukkan pandangan. Kemudian dia berjalan kembali dengan menahan rasa aneh yang ada dalam dadanya. Pipinya berubah merah muda.


Arion tak henti-hentinya menatap wanita yang kini semakin mendekat ke arahnya. Dia menggeser kursi di samping tempat duduknya. "Malam ini cantik banget Kak."


Pinky mengernyit, pipinya sekarang bukan merah muda lagi tapi sudah seperti tomat. Dia meremas-remas tangannya untuk mengusir kegugupan. Matanya melirik ke laki-laki yang membuatnya tersipu malu itu. Raut wajahnya berubah seketika saat melihat luka lebam itu.


"Tadi si ka ...." Arion langsung menyenggol kaki Aero. Memberi isyarat untuk berhenti meneruskan jawaban untuk pertanyaan Pinky.


Aero menatap Arion penuh tanda tanya, "Gak apa-apa tadi dicium aspal."


"Idih, masak dicium aspal kayak gitu?" tanya Pinky tak percaya. Arion mengangguk dan memajukan bibir bawahnya.


Dari pintu masuk restoran tiba-tiba Gino datang dengan ekspresi wajah mengeras. Dia berjalan cepat ke meja mereka. Tangannya menggeprak meja keras membuat pengunjung restoran menatapnya sinis. Dia kemudian menarik tangan Pinky begitu saja.


"Apa-apaan kamu?" Pinky mencoba melepaskan cengkraman tangan Gino dengan memutar-mutar tangannya.


Aero langsung berdiri, "Eh kadal lepasin Kakak gue!"

__ADS_1


"Eh Aero lo nyebut gue apa tadi? Sekarang lo berani sama gue?" Bola matanya melotot seperti ingin keluar.


Aero mendekati Gino dan menarik kerah bajunya. "Ngapain gue takut sama kadal kayak lo?"


Gino melepas cengkraman tangan pada Pinky dan mendorong dada Aero. Arion langsung melerai mereka.


"Eh elo gak usah ikut campur!" Gino menunjuk-nunjuk Arion. "Mau lo gue hajar lagi?" ancamnya.


Arion menepis tangan Gino, "Lo sebelum kesini gak ngaca dulu! Tuh komuk udah bonyok, mau gue bikin lebih bonyok lagi?"


"Kamu dengar sayang! Dia udah mukulin aku tadi."


"Gak usah panggil Pinky sayang! Dia udah jadi pacar gue," Arion menggenggam erat tangan Pinky.


Aero menahan Gino yang tak terima dengan ucapan Arion. Dia mendorong kasar laki-laki itu.


"Cukup ya Gin! Aku udah tau selama ini main di belakangku."


Gino menggelengkan kepalanya tiga kali, "Enggak."


"Heleh ...." Aero mendorongnya. "Nih gue punya rekaman lo lagi patnam-patnam sama selingkuhan lo kemarin di kamar. Mau gue sebar!" Aero menunjukan ponselnya yang sebenarnya tidak ada rekaman itu.


Gino gugup, tenggorokannya terasa kering, dia kesusahan menelan saliva untuk membasinya. "Ku-kurang ajar lo ya!" Dia menunjuk Aero.


"Pergi atau gue sebar luasin!" ancamnya.


"Pink dengerin aku dulu!" Dia memegang tangan kiri Pinky. Aero langsung menarik paksa keluar dari restoran.


Sedangkan tangan kanan Pinky masih menggenggam erat tangan Arion. Jari-jari mereka bersatu dan saat ini tak sadar akan hal itu. Mata mereka masih menatap Aero yang sibuk mendorong Gino sampai luar sana.

__ADS_1


Satu, dua, tiga.


"Eh ...."


__ADS_2