
Hari sudah berganti, kali ini Pinky sudah membuat janji untuk bertemu laki-laki yang dikenalkan Papanya kemarin.
Pinky duduk terdiam di meja luar restorannya, dengan raut wajah datar menunggu laki-laki itu. Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Harusnya laki-laki itu sudah datang. Dia telat dua puluh menit.
Pinky menyangga kepalanya dengan tangan kanannya. Raut wajahnya semakin masam. Pertama ketemu sudah menyebalkan. Lalu, bagaimana selanjutnya?
"Hai ... Pinky ya?"
Seorang laki-laki dengan tinggi 180cm, berkulit putih bersih, berhidung mancung, dengan pahatan rahang yang hampir sempurna menyapanya.
Pinky mengerutkan dahinya. Dia melihat dari ujung kaki ke ujung kepala laki-laki itu. Hampir sama dengan yang difoto.
Lumayan walaupun tak setampan Arion.
Apa Arion? Dia menggelengkan kepalanya. Tidak, tujuannya kali ini untuk melupakannya bukan membandingkannya dengan laki-laki lain.
"Ya, duduklah!" ucapnya dengan ketus.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya seraya terus menampakan sederet gigi putihnya. Pinky membalas uluran tangan itu.
"Maaf telat, macet."
Basi
Pinky membuang mukanya seraya menatap jalan raya depan restorannya. Laki-laki bernama Azka itu terus menceritakan kelebihan yang ada dalam dirinya. Sedangkan Pinky, dia seperti tak mendengarkan dan terus membuang pandangannya keluar. Bosan, kenapa laki-laki didepannya sangat membosankan baginya?
Eh tunggu! Dahi Pinky berkerut, matanya pun memicing saat melihat di depan restorannya ada laki-laki dengan motor sport hitam yang berhenti dan terus menatap restorannya.
Apa itu Arion? Pertanyaan yang kali ini ada dipikirannya.
__ADS_1
"Hei ...!" Azka mengagetkannya.
"A-da apa?" Pinky gugup seraya menatap Azka.
Tidak, Arion sudah meninggalkannya.
Pinky mengingatnya menggelengkan kepalanya kembali. Kemudian mencoba memastikan menatap ke arah luar kembali namun tak ditemukan lagi sosok laki-laki itu. Dia mendengus kesal.
Dia kemudian menatap laki-laki yang duduk di depannya. "Kamu bener mau dijodohkan denganku?"
Azka mengangguk. "Kenapa tidak? Kamu cantik, pintar, mandiri dan ...."
"Ada satu kenyataan yang kamu perlu tau dariku," sahut Pinky dengan wajah datar.
"Apa?" tanya laki-laki itu dengan terus memberikan senyum manisnya.
Kenapa Pinky langsung membongkar aibnya didepannya? Kenapa tidak dia sembunyikan dulu? Lalu mana ada laki-laki yang menerima ikhlas dirinya setelah mengetahui kenyataan ini?
Dahi laki-laki itu berkerut. Wajahnya pun menjadi cemberut. Ada sedikit kekecewaan didalam hatinya. Pinky terus menatapnya tajam.
"Em ... iya aku terima kok," ucapnya dengan yakin. Mata Pinky membola namun masih dengan wajah datar. Apa laki-laki itu yakin mau menerimanya? Pertanyaan yang terus ada dipikirannya.
"Kenapa? Kamu bisa dapatkan wanita yang jauh lebih baik?"
Sebentar, tujuan Pinky sebenarnya mengusir laki-laki itu atau mencoba melupakan Arion? Kenapa dia seperti tak mempunyai pendirian seperti ini?
"Karena aku baru pulang dari luar negeri, aku gak punya kenalan banyak teman. Apalagi wanita gak ada." Mereka terdiam sejenak. "Oh iya bagaimana kalau kita jalan-jalan? Aku sangat merindukan kota ini." Azka menatap ke arah jalanan. Pinky menuruti ajakan laki-laki itu.
Kali ini dia mengajaknya ke sebuah taman kota. Tak ada yang spesial bagi Pinky. Biasa saja. Mereka berjalan berputar-putar. Azka yang terus memulai topik pembicaraan. Pinky hanya mengangguk dan mengiyakan. Ah, ini begitu membosankan.
__ADS_1
Kali ini mereka duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman itu. "Aku ke cuci tangan disana dulu ya!" pamit Pinky.
"Apa perlu aku antar?"
Pinky menggelengkan kepalanya. "Gak."
Dia berjalan cepat dengan terus menatap Azka tanpa memperhatikan depan. Menurutnya taman ini sepi jadi dia tak perlu berhati-hati.
Bruuuukk
Pinky menabrak seorang laki-laki. Matanya membulat seketika.
"Arion ...?"
Pinky tidak tau saja jika laki-laki itu terus mengikutinya. Arion sangat sengaja menabraknya.
Mata mereka saling memandang. Tak ada ekspresi wajah bahagia hanya sorot mata mereka nampak penuh rasa rindu. Satu, dua, tiga, empat mereka masih saja melempar pandang.
"Kamu ada disini?" Azka tiba-tiba menghampiri mereka berdua. Arion mengerutkan keningnya menatap laki-laki itu.
"Kita pulang aja!" ajak Pinky.
"Baiklah." Azka menggandeng tangan Pinky pergi meninggalkan Arion. Pinky terus menoleh ke belakang berharap Arion juga menatapnya. Namun, Arion hanya berdiri terdiam. Mungkin dia sudah benar-benar membencinya. Satu kalimat yang ada dipikiran Pinky. Pinky berhenti menoleh ke belakang. Rasanya percuma dan sia-sia, lebih baik dia menatap masa depan yang tengah menggandeng tangannya.
Tak selang lama. Hei lihat! Arion menoleh ke belakang. Dia bahkan membalikkan tubuhnya menatap kenyataan yang ada di depan mata bahwa wanitanya telah mampu melupakannya.
Tangannya mengepal, alisnya menyatu. Lalu apa maksud Pinky masih mencintainya dulu? Apa dia sudah tak mencintainya lagi?
Hei, kenapa Arion tidak peka? Dia meninggalkannya tanpa menjawab perasaan itu. Lalu kenapa hanya Pinky yang harus mengerti perasaannya? Apakah kita harus terus menunggu orang yang kita cintai tanpa ada balasan cinta darinya lagi?
__ADS_1