22.23

22.23
Menyesal


__ADS_3

Braaakkk


Suara benturan keras itu mampu membuat Arion mengehentikan laju motornya. Matanya membulat, jantungnya serasa berhenti berdetak, bahkan dia hanya terdiam dan tak berani menoleh ke belakang.


"Ada wanita yang ketabarak itu diseberang jalan sana!"


"Ayo ... ayo bantuin!"


Teriakan orang-orang yang ada disana membuatnya semakin sulit untuk menelan salivanya. Dari lubuk hatinya yang terdalam, dia berharap bukan Pinky wanita itu. Arion memberanikan diri menoleh ke arah kerumunan itu. Dia tak nampak siapa wanita yang tertabrak karena terlalu banyaknya orang yang berada disana.


Arion memarkirkan motornya di pinggir jalan dan membuka helmnya, dia ingin memastikan siapa wanita naas itu.

__ADS_1


Dia menyebrangi jalanan yang setiap kendaraan mengurangi kecepatannya saat melihat kerumunan itu. Entah kenapa tubuh Arion bergemetar, pikirannya tak karuan, jantungnya terus berdegup kencang saat semakin mendekati korban tertabrak yang berada di depannya.


"Pinky ...."


Deg


Jantungnya serasa berhenti berdetak kembali mendengar teriakan laki-laki yang akhir-akhir ini dilihatnya terus bersama Pinky berlari memanggil nama itu. Wajah laki-laki itu gugup, dia memaksa membelah kerumunan yang hanya menonton tanpa berani menolong.


Arion berdiri di tengah jalan tanpa berani lebih mendekati kerumunan itu. Dia terpaku membeku didinginnya angin malam ini. Orang-orang itu sedikit memecah kerumunan mereka. Nampak wajah Pinky yang tergeletak tak berdaya disana, hatinya seperti teriris saat melihatnya. Matanya berkaca-kaca, sampai dia tak sanggup untuk menampungnya.


Azka dengan cepat kembali ke tempat parkir mengambil mobilnya dan membawa Pinky ke rumah sakit. Arion masih terus menatap Pinky. Dia menangis ditengah jalanan dengan terus menjambak rambutnya. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan seperti tak dihiraukannya. Matanya, telinganya seperti sudah tertutup. Dia bahkan tak peduli nasibnya akan hidup atau mati konyol ditabrak kendaraan yang tengah melintas.

__ADS_1


Arion merasa sangat bersalah. Ini karenanya, dia penyebabnya. Jika terjadi apa-apa pada wanita yang masih dicintainya itu, dia tak akan pernah memaafkan dirinya seumur hidup.


"Sudah ayo minggir! Jangan ditengah jalan seperti ini bahaya! Kamu ingin tertabrak seperti wanita tadi!" seorang laki-laki paruh baya berusaha menyadarkan Arion dan menarik tangannya untuk beralih tempat ke pinggir jalanan.


Arion akhirnya menurut pada laki-laki itu. "Kamu masih muda, jangan melakukan hal konyol!" Laki-laki itu meninggalkan Arion begitu saja setelah membawa Arion di pinggir jalan.


Arion mencoba menghapus air matanya. Dia berlari ke tempat motornya terparkir dan membalik arah mengikuti mobil laki-laki yang Pinky ke rumah sakit.


Disepanjang perjalanan, sudut matanya masih saja mengeluarkan air mata. Pedih, ini sangat pedih. Bahkan lebih pedih dari melihat Pinky bersama laki-laki yang akan melamarnya itu. Menyesal, dia amat sangat menyesal tak menghiraukan panggilan Pinky.


Arion terus berlari di koridor rumah sakit. "IGD dimana disini?" Dia menggoncang-goncangkan bahu perawat yang berjalan di depannya.

__ADS_1


"Disana!" Arion langsung berlari ke arah yang ditunjuk perawat tadi. Dia sering menabrak orang yang berlalu lalang didepannya.


Langkahnya Arion menjadi perlahan saat mengetahui laki-laki yang terus bersama Pinky itu duduk menunggu di luar. Apa dia harus bertanya keadaan Pinky padanya? Lalu bagaimana jika laki-laki itu balik bertanya siapa dirinya?


__ADS_2