
"A-aku gak nyangka kamu semaniak itu Ro," ucap Sonya dengan gugup. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Satu diantara tiga wanita itu sebenarnya Sonya lah yang paling sensitif perasaannya.
"Waduh. Eh ... mak-sud gue ...." Aero tak mampu melanjutkan ucapannya. Karena Sonya memberi aba-aba berhenti berbicara untuknya dengan telapak tangannya.
Wanita itu berlari menangis menuju mobilnya. "Lah malah nangis semua." Aero menggaruk kepalanya. Dia menatap Jenny dan Rose yang masih memandanginya. "Apa?" teriaknya. Dua wanita itu langsung pergi begitu saja dari sana dengan wajah ditekuk. Sepertinya ucapan Aero tadi dianggap mereka serius.
Pinky mengelus-elus pundak adiknya. "Udah, ayo masuk!" ajaknya. Mereka bertiga akhirnya masuk dan tak memperdulikan ketiga wanita tadi lagi.
Di tengah perjalanan ada suara laki-laki yang berteriak, "Sayang ...." Mereka bertiga menoleh kebelakang.
Gino tiba-tiba memeluk Pinky. Laki-laki itu memegang kedua pipinya. Hei, ada wajah yang berubah sendu seketika disana. Siapa lagi kalau bukan Arion. Dia berusaha memberi senyum pada Gino dan Pinky, walaupun hatinya seperti berdarah-darah saat ini mengetahui kenyataan di depan mata.
"Kamu balik kenapa gak bilang aku!" tanya Gino pada Pinky yang sekarang membuang mukanya. Wanita itu menahan untuk tidak meluapkan amarahnya melihat perselingkuhan Gino di depan matanya sendiri.
__ADS_1
Pinky menarik napas kemudian mengeluarkan kasar. "Maaf, aku kemarin gak sempat." Gino mengerutkan dahinya tak percaya dengan ucapan wanita yang kini masih menjadi pacarnya.
Gino menyelipkan anak rambut Pinky di telinga kirinya. "Ya udah kita jalan yuk!" serunya.
Pinky terdiam sejenak kemudian menatap Arion. "Maaf Gino aku gak bisa." Dia menggandeng tangan Arion. "Aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini aja! Dia ...." Pinky menatap tajam Arion yang raut wajahnya kebingungan. "Dia pacar baruku."
Deg
"Mak-sud kamu ...?" Gino menunjuk Pinky dan Arion dengan raut wajah geram.
"Iya kami pacaran. Maaf aku gak bahagia denganmu. Sama sepertimu kan? Kita tak sama-sama bahagia, jadi untuk apa dilanjutkan?" tanya Pinky dengan menahan isak tangis karena mengingat adegan ranjang pacarnya dengan wanita lain yang dia saksikan sendiri.
Gino menggelengkan kepalanya, entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu. Bukankah kemarin ini yang dia inginkan dari Pinky?
__ADS_1
"Kamu putusin aku?" tanyanya lagi karena ragu. Pinky mengangguk. Laki-laki itu seperti tak terima dengan terus menggelengkan kepala.
"Kamu bisa pergi!" Pinky menunjuk arah pintu keluar halaman restoran. Dia menggandeng tangan Arion masuk dalam restorannya. Sesekali dia menoleh ke belakang melihat Gino yang kebingungan.
Sesampainya di dalam Pinky langsung melepas tangan Arion. "Maaf ya aku jadikan pacar pura-pura?"
"Emang laki-laki itu udah ngapain kamu Kak?" tanya Aero.
Pinky tertunduk diam tak sanggup menahan air matanya yang berjatuhan. Aero dan Arion terus menunggu jawaban yang keluar dari mulut Pinky.
"Dia ...." Pinky tak mampu meneruskan jawaban dari pertanyaan adiknya itu. Tangannya sibuk menyapu air mata yang terus mengalir.
Arion memeluknya, Pinky menangis sejadi-jadinya dipelukan laki-laki itu. Melepaskan perasaan sakit yang dia tahan dari kemarin di bahu Arion. Arion mengelus-elus punggung Pinky, berharap mampu meredakan perasaan Pinky yang dia sendiri belum tau jawabannya.
__ADS_1