
Dia masih saja merengut kesal menatap Aero yang celingukan tak tenang di depannya. Sesekali ikut menoleh ke arah dua wanita yang mengejar laki-laki di depannya itu.
"Udah gak ada. Aku mau pulang." Aero menarik kembali tangan wanita itu. "Jangan pegang-pegang aku ihh!" Dia menggosok-gosokan bekas sentuhan cowok itu.
"Gue cium juga lo lama-lama," Cewek itu langsung menutupi bibirnya dengan tangan kanan. Aero meliriknya tajam. "Nama lo siapa? Gue Aero." Dengan membuang muka dia mengulurkan tangan pada cewek itu.
"Lisa." Dia membalas uluran tangan cowok yang menurutnya aneh itu dan menggosokan kembali bekas telapak tangan yang bersentuhan dengannya.
Baru kali ini Aero bertemu dengan cewek yang menolaknya mentah-mentah. Bahkan bersentuhan dengan kulitnya yang bersih dan putih pun cewek itu tetap merasa jijik.
"Sekarang kita udah resmi pacaran ya deal?"
"Terus aku harus apa?"
"Lo nurut sama gue," Aero melepas pandangannya ke jalan raya. Matanya tiba-tiba membulat saat tau mobil Rose berhenti di seberang jalan sana. Rose melambai-lambaikan tangannya dan berteriak memanggil Aero. "Hadoh ...."
Aero menarik tangan cewek itu dan mengajaknya berlari menghindar dari Rose. "Eh ... mau kemana?"
"Lo lupa gue tadi ngomong apa? Lo nurut sama gue!"
Di seberang jalan sana Rose masih berteriak memanggil-manggil namanya. Aero mengajak cewek itu berlari sekuat tenaga menerjang jalanan yang ramai orang berlalu lalang.
"Surat lamaran pekerjaanku ketinggalan," teriak cewek itu.
"Gak penting," teriak Aero dengan terus berlari menggandeng tangan Lisa. Kemejanya basah karena peluhnya. Napasnya mulai terengah-engah.
Tiba-tiba Lisa berhenti membungkukkan tubuhnya, kedua tangannya menyentuh lutut. "Udah dong larinya Kak, aku capek tau. Lagian itu cewek pake high heel gak mungkin bisa ngejar kita."
"Lo gak tau dia kayak kuntilanak bisa terbang?"
"Kuntilanaknya cantik gitu, kamu gak mau aneh!" ucap Lisa dengan mengelap bulir-bulir keringat yang keluar dari dahinya. Kemudian dia memegang lehernya, tenggorokannya terasa kering. Bahkan salivanya pun seperti kesulitan untuk di telan. "Kak ...."
__ADS_1
Aero meliriknya dengan tangan yang sedari tadi berkacak pinggang. "Apa?" tanyanya ketus.
"Aku haus, beliin es!"
Astaga, seperti anak kecil yang merengek. Aero mengaruk kepalanya yang tak gatal. Dia mengambil dompet di saku celana belakang dan memberikan cewek itu uang pecahan seratus ribu rupiah.
"Nih ...!" Dia seolah-olah tak ikhlas. "Jajan di pinggir jalan kalau lo tiba-tiba pilek gue ogah ya suruh tanggung jawab."
Lisa mengernyitkan mukanya dan langsung menyambar uang berwarna merah itu. Dia berdiri di depan penjual minuman mengantri dengan sabar si penjual untuk membuatkan pesanannya. Sedangkan Aero di duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari sana.
Lima menit cewek itu mengantri akhirnya dia berjalan seraya bernyanyi-nyanyi membawa minuman itu duduk mendekati Aero.
"Nih kembaliannya!" Dia menyerahkan uang yang kini jumlahnya menjadi beberapa lembar namun bentuknya tak rapi. Aero malas melihat uang itu, dia sedikit menggedikan bahunya uang itu sangat lusuh.
"Buat jajan lo aja. Kali aja di depan ada penjual es krim atau gulali," dengusnya dengan membuang muka.
Lisa memajukan bibir bawahnya dan langsung menikmati kesegaran minuman yang dia beli.
"Aah ...."
Aero meliriknya dengan dahi berkerut. Sebenarnya tenggorokannya saat ini juga perlu diguyur air. Namun dia malu untuk ikut-ikutan membeli minuman seperti bocah di sampingnya.
Slruuuuuuuuup
"Ck," Aero berdecak. Dia sangat membenci suara dari sedotan itu. Di tambah lagi melihat minuman dingin yang dibawa Lisa yang berembun di gelas membuatnya ingin juga mencicipi segarnya.
Slruup slruuuuuup
Kesabarannya seperti habis sudah, "Eh lo bisa gak kalau minum gak usah bunyi gitu. Risih telinga gue dengernya. Kalau emang habis sana beli lagi. Emang dasar bocil lo."
"Apaan sih Kak, yang enak itu yang terakhir nih sayang kalau dibuang. Gula sama susunya ketinggalan dibawah tuh." Dia memperlihatkan pada cowok itu isi gelas minumannya. Aero semakin kesal.
__ADS_1
"Ya udah beli lagi sono!"
"Kamu mau juga?"
Dengan berat hati dia harus melawan rasa gengsinya. "Hem."
Lisa menepuk bahunya keras. "Ngomong dong dari tadi!"
Astaga ini bocah.
Dia berlari ke penjual itu. Tak lama kemudian kembali lagi dan memberi Aero minuman pesanannya.
"Kalau pilek aku gak tanggung jawab lo yah!" ledeknya.
"Ye ... berani ngebalik omongan lo ya?" Aero langsung menyedot minuman itu.
Slrup slrup
"Eh," Dia mengangkat gelas minumannya. "Ini kenapa susah banget diminum?" Aero mencoba menyedotnya kembali.
Lisa mencoba mencabut sedotan di minumannya. "Bobanya nyangkut dodol."
Aero berdengus kesal. "Siapa suruh kasih boba?"
"Tadi kamu gak ngomong!"
"Lagian tuh penjual gak mikir dulu ngasih sedotan, lubang sedotan sama boba gedean bobanya. Gimana bisa disedot?"
Lisa tertawa geli, "Ya udah dibuka aja itu minumannya, terus di tuang langsung ke mulut bobanya."
"Ogah, kayak bocah aja." Lisa mencebikkan bibirnya. Aero membuang minuman itu begitu saja. "Sekarang lo ikut gue!"
__ADS_1