
Pagi-pagi sekali Kinan sibuk dengan aktifitasnya di dapur menyiapkan sendiri sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Kejadian semalam membuatnya bisa tidur lebih awal. Ya, ini semua karena Aero yang tiba-tiba lapar ingin meminta dibuatkan makanan.
Pinky yang melihat Mamanya itu sibuk dengan makanan langsung ikut turun membantu.
"Mama ...." sapanya. Kinan tersenyum sembari menaruh air minum di meja makan itu. "Ma ... Mama udah tanya Papa soal semalam?" bisik Pinky.
Kinan berjalan ke dapur mengambil nasi goreng, kemudian kembali lagi ke meja makan. "Papa cuma pesan kamu jangan berteman dengan laki-laki itu."
Pinky cemberut dan menggeser keras kursinya. Dia menompang dagu dengan salah satu tangannya. Kinan hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis ke arah Pinky.
Rey dan Aero terlihat turun ke bawah bersama. Wajah Rey terlihat masih geram pada anak laki-lakinya itu. Karena perutnya yang kelaparan dan minta dibuatkan makanan gagal sudah malam penuh kehangatan.
"Daddy masih marah aja," goda Aero seraya menggeser kursinya ke belakang lalu mendudukinya.
"Diam kamu!" Rey sudah duduk dengan bibir mengerucut. Lantas laki-laki itu menatap ke arah anak perempuaannya yang terus merenung dan cemberut. "Pinky kamu kenapa? Dari semalam diam terus?"
Pinky hanya menggelengkan kepala. Dia sadar akan percuma jika dia memprotes keinginan Papanya untuk tidak mendekati Arion. Rey seperti sudah mengetahui perasaan Pinky jika dia kecewa dengan keputusannya agar menjauhi Arion.
__ADS_1
"Pinky, Aero ... apa kalian berteman lagi dengan yang namanya Arion itu?" Aero membulatkan matanya, Pinky pun terlihat gugup mendengarnya. Mereka hanya terdiam dan berani menjawab.
"Kenapa diam saja?"
"Enggak Pa," jawab Aero.
"Awas kalau kalian berani bohongin Papa!" ancamnya dengan wajah masam.
Ini seperti sosok Papa yang tak mereka kenal. Rey selalu nampak menyebalkan jika membahas tentang Arion. "Papa itu kenapa cuma gara-gara hubungan Papa sama Mama Arion kita yang jadi korban?" tanya Pinky dengan menusuk-nusuk telur di piringnya menggunakan garpu.
"Kita itu udah besar Pa! Masak berteman aja dilarang," Pinky membuang mukanya.
Rey memautkan alisnya. "Oh, jadi bener ya kalian sekarang berhubungan dengan Arion itu?" Dia mulai curiga dengan pertanyaan yang diberikan Pinky.
"Enggak," sahut Aero lagi. Rey menatap anaknya itu dengan curiga.
"Sudah, ayo makan!" seru Kinan untuk menghentikan perdebatan suami dan anak-anaknya itu.
__ADS_1
Pinky langsung berdiri dengan menggeser keras kursinya. Semua menatapnya dengan mengerutkan kening. "Aku mau restoran dulu!" pamitnya dengan wajah ditekuk.
"Kamu habiskan dulu lah sarapannya! Ini masih terlalu pagi," ucap Kinan dengan melihat jam di dinding.
Anaknya itu tak menjawabnya dan langsung pergi dari meja makan mengambil tas berserta kunci mobilnya. Dia keluar rumah seraya melirik ke arah Papanya yang sibuk makan. Bibir Pinky terus mengerucut, kali ini dia membenci sangat membenci keputusan yang menurutnya sangat konyol dari Papanya.
Dia membanting pintu mobilnya keras-keras. Mencengkram erat kendali mobilnya lalu dia mengambil ponselnya dan menelepon Arion. Dengan cepat dia menginjak pedal gasnya menuju restoran.
Sesampai di restoran Pinky sudah melihat Arion duduk di motornya dengan tidak melepas helm full face yang menjadi pelindung kepalanya. Perasaan bahagia nampak jelas di wajahnya. Dia membanting pintu mobilnya dan berlari ke arah Arion.
"Kamu cepet banget nyapek sini?" tanyanya pada Arion.
Arion celingukan melihat keadaan sekitar. "Apa Papamu ikut kesini juga?" Pinky hanya menggelengkan kepala. Arion sedikit bisa bernapas lega. Dia membuka helmnya dan membenahi sedikit rambutnya yang berantakan. Pinky tersenyum memandangnya. Pagi ini laki-laki itu sangatlah terlihat tampan.
"Ayo kita jalan-jalan pakai motormu!"
"Hah?"
__ADS_1