22.23

22.23
Mendusel


__ADS_3

Kinan menutup pintu kamarnya dan mengunci suaminya supaya tidak lagi gegabah dalam mengambil keputusan. Dari dulu sampai sekarang jika berurusan dengan Selena dia selalu saja berlebihan. Kebenciannya pada wanita itu seperti tak ada matinya.


Pikirannya kini tak karuan. Tak mampu membayangkan jika Pinky bersanding dengan Arion. Ya, ini memang sangat berat. Apapun usahanya memang harus dimaklumi.


Kinan menarik tangannya dan duduk bersama ditepi ranjang. "Kamu harusnya tanya Pinky dulu dong, mau gak dijodohin sama cowok tadi. Jangan main paksa aja!"


"Masalahnya Pinky pasti gak mau dijodohin. Maunya sama anak Selena," sungutnya.


"Kata Aero mereka gak pacaran lo. Buang deh pikiran burukmu itu?" Kinan membuang mukanya. Sebal, kesal terus berdebat dengan suaminya.


"Kayak gak tau Aero aja, dia itu suka bohong."


Astaga sepertinya dia lupa jika dirinya rajanya bohong. Jangan salahkan anaknya jika menjadi fotokopinya!


Kinan hanya menggelengkan kepala. Rey langsung melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya itu. Sembunyi di lekukan leher Kinan. "Apaan ihh?" Kinan berusaha melepaskan namun laki-laki masih seperti anak kecil yang manja. Dia sepertinya juga lupa akan umurnya.


Bulu kuduk Kinan berdiri saat hembusan napas Rey keluar dari hidung mancungnya. Rasanya belum puas berdebat dengannya tapi laki-laki itu terus saja menggodanya.

__ADS_1


Kinan mencoba kuat menghadapinya godaan laki-laki yang sedang on itu. "Coba deh kalau kamu yang dijodohkan. Mau gak?" Kinan terus berusaha melempar pertanyaan agar suaminya yang kini mendusel-dusel tak jelas, setidaknya agar dia tersadar dari pikiran konyolnya.


"Aku mau. Buktinya aku dijodohkan sama kamu dengan senang hati aku menerimanya."


"Ihh ...." Kinan mengernyit. Itu beda lagi ceritanya.


Rey masih terus mencoba membuat istrinya menyudahi perdebatan dengan menggigit kecil telinganya. Sengaja menghembuskan napas gusar ke titik-titik sensitifnya. Menciumi pipinya bertubi-tubi. Lalu menyandarkan kepalanya di lekuk lehernya kembali. Ah, siapa yang tak luluh. Kinan akhirnya mengelus kepala Rey dengan lembut seraya memejamkan matanya.


"Kamu bahagia bersamaku?" tanya Kinan. Pertanyaan macam apa itu? Yang pasti jawabannya iya.


"Ck," Rey memicingkan matanya. "Pakai nanya."


"Eh ... do'amu jelek banget. Aku gak akan biarkan itu terjadi." Kinan lelah, Rey begitu keras kepala. "Udah jangan mikirin itu!"


Rey kemudian menarik dagu Kinan seraya memiringkan kepalanya dan tak butuh waktu lama dia mencium rakus bibir istrinya itu. Dia mendorong pelan tubuh itu lalu menindihnya.


"Apa kamu tau ini bukan waktu yang tepat?" Rey seperti tak memperdulikan pertanyaan itu. Baginya pagi, siang, sore, malam itu tak menjadi halangan. "Jangan pernah menyalahkan Aero jika dia mengetuk pintu!" ancam Kinan padanya.

__ADS_1


"Dia lagi kerja, kali ini gak ada yang menganggu kita," dengan yakin Rey berbicara seperti itu. Laki-laki itu masih saja memberikan sentuhan di leher Kinan dengan bibirnya.


Tok tok tok


"Tuh kan dibilang apa?"


Rey langsung berhenti dari aktifitas favoritnya. "Tapi Aero 'kan lagi kerja?" Ah, siapa lagi yang mengganggu kemesraan mereka.


Kinan mengangkat kedua bahunya dan membukakan pintu kamarnya. "Pinky ...?"


"Ma aku izin mau keluar bentar ya?"


Kinan mengangguk. Rey langsung turun dari ranjang dan menghampirinya. "Mau kemana? Tadi katanya mau istirahat. Pasti mau bertemu dengan Arion itu ya?" sungutnya.


"Papa itu berlebihan banget, Pinky mau belanja sebentar."


"Belanja online saja!" ujar Rey dengan mengerutkan dahi.

__ADS_1


Pinky menghentak-hentakan kakinya. Raut wajahnya sangat geram. Dia seperti tak kuat menghadapi Papanya yang sekarang. Pinky langsung pergi ke kamarnya kembali dengan membanting pintu keras-keras agar Rey tau suasana hatinya saat ini.


__ADS_2