22.23

22.23
Dia Anak Pembunuh


__ADS_3

Tatapan Rey seperti menusuk ke jantung Arion. Laki-laki itu mempercepat langkahnya untuk menuruni anak tangga rumah ini. Raut wajah berapi-api nampak jelas di wajahnya. Berani sekali Arion menapakkan kakinya di rumahnya? Itu pertanyaan yang terus berkeliaran di otaknya.


Rey semakin cepat berjalan mendekati Arion. Kini mata mereka saling menatap tajam. Tangan Rey terlihat sudah mengepal, dahinya berkerut dalam.


"Papa ...." panggilan itu membuat emosi Rey sedikit teralihkan. Pinky memegang tangan Rey.


"Bagaimana bisa kamu mengajak laki-laki itu ke rumah ini?" teriakan Rey menggema di seluruh ruangan.


"Pa-papa dengerin Pinky dulu!" Kini Pinky gugup. "Aku minta restu Papa untuk menikah dengan Arion," pintanya lirih saat menyebut nama Arion.


"Apa kamu bilang?" Rey sebenarnya mendengar jelas namun dia ingin lebih memastikan jika anaknya itu tidak bercanda.


Pinky menunduk dan berucap lirih. "A-aku ... aku hamil Pa."


"APA?" teriakan murka menggelegar di seluruh ruangan kembali. Pembuluh darah nampak tegang dilehernya. Rey seperti mendapat mimpi buruk yang dia takuti selama ini.


Matanya kini menusuk tajam ke arah Arion. Dia melepaskan paksa tangan Pinky yang menggenggamnya sedari tadi. Berjalan pelan mendekati laki-laki yang kini tengah menatapnya sayu.


Paaaaaaakk


Tamparan keras mendarat di pipi Arion. Rey lantas menarik kerah kaosnya dan memukulnya tiga kali hingga jatuh tersungkur dan keluar darah di sudut bibirnya.


"Papa ... berhenti!" Pinky langsung menghalangi Rey dengan berdiri di depannya. "Jangan pukuli Arion dia gak salah!" Entah sejak kapan air mata itu membanjiri pipi Pinky.


Kinan menarik tangan Rey menjauh dari Arion. "Kamu apa-apaan? Dia bisa mati kamu pukuli seperti itu."


"Lebih baik dia mati," teriak Rey.

__ADS_1


"Papa ... Papa tega anak dalam kandungan Pinky tidak mempunyai Ayah?"


Mata Rey membulat. Dia menarik paksa Arion dan memukulinya kembali. "Sudah cukup!" teriakan itu mampu menghentikan emosinya. "Kamu bukan Papa kandungku, kamu gak bisa menghalangi terus kebahagiaanku. Jika kamu tidak merestui hubunganku dengan Arion tidak masalah. Aku juga tidak perlu lagi meminta restu padamu."


Deg


Rey terpaku mendengar ucapan anak yang sudah dianggapnya sebagai anak kandungnya sendiri berbicara setajam itu padanya. Hatinya seperti disayat-sayat. Bagaimana bisa Pinky berbicara seperti itu? Kinan terus menangis mendengar dan melihat perseteruan Rey dan Pinky.


"Aku memang bukan Papa kandungmu. Tapi aku selalu memberikan kasih sayangku tulus padamu," ucapnya dengan intonasi nada tinggi.


"Kasih sayang?" Pinky membuang mukanya lalu menatapnya kembali. "Kasih sayangmu seketika melebur saat kamu terus melarangku bahagia dengannya." Pinky menunjuk ke arah Arion yang kini mencoba berdiri.


"Ayah mana yang tak marah jika anaknya dihamili laki-laki yang belum menjadi suaminya? Dan aku yakin Kevin juga akan melakukan hal yang sama sepertiku bahkan lebih." Rey memegang bahu Pinky. "Pinky apa kamu lupa pesan Papa hem?" Rey menarik napasnya sejenak. "Kamu sangat berharga. Tapi kenapa kamu berikan cuma-cuma pada laki-laki seperti dia?" Rey menunjuk Arion.


"Dia laki-laki baik. Aku sudah sering bilang itu."


"Kamu menentang Papa hanya karena membela anak seorang pembunuh seperti dia?" Rey kembali menunjuk Arion. Mata Kinan, Pinky bahkan Arion melebar mendengarnya.


Rey kembali memegangi bahu Pinky. "Ya dia anak pembunuh Ayah kandungmu?" teriakan itu seperti menampar keras pipi Pinky. Tidak, ini tidak mungkin. Dia menggelengkan kepalanya berharap ucapan Rey hanya tuduhan tanpa alasan.


"Kamu jangan asal menuduh!" teriak Kinan. Rey menoleh ke arah istrinya. Kemudian ke arah Arion.


"Sekarang kamu tanya dia dimana Ayahnya?"


Arion dengan tegar menjawab, "Papaku sudah tiada."


Rey memberi senyum setengahnya. "Itu pasti akal-akalan Selena untuk membohongi. Papamu yang sebenarnya sedang membusuk dipenjara. Kamu tau kenapa? Karena dia telah menembak Ayah Pinky."

__ADS_1


Rey kembali membalik badannya dan menatap Pinky yang terus menangis. "Dan kamu Pinky, apa kamu akan berbahagia diatas kematian Ayahmu dengan menikah bersama anak dari orang yang membunuhnya?" Rey mengguncang-guncangkan bahunya. "Jawab Pinky ... jawab!"


Pinky hanya menggelengkan kepalanya seraya terus menangis tiada hentinya. "Maafkan Pinky Pa!"


"Maaf?" Rey menghela napasnya sebentar kemudian melanjutkan kembali. "Kamu sudah hamil anaknya?"


Dia menatap kembali Arion yang nampak tak percaya dengan kenyataan pahit ini. "Dan kamu ...." Rey menunjuknya kembali. "Kamu sudah merusak Pinky. Bahkan kamu sama seperti Ayah dan Ibumu."


"Ibuku tak seburuk itu."


"Oh ya, sekarang kamu pulang! Tanya dia! Apa yang sudah dia lakukan pada keluargaku?" Rey berjalan mendekatinya. "Kamu tau, saat Ibumu hamil kamu, dia membohongiku untuk mempertanggung jawabkan kehamilannya. Dulu kamu tinggal disini, di rumah ini." Dia menunjuk lantai dengan jari telunjuknya. "Dan Ibumu telah mengusir istri dan anak-anakku dari rumah dengan cara liciknya. Terlunta-lunta di pinggir jalan sedangkan kamu dan Ibumu tertawa diatas penderitaan mereka."


Arion menatap tajam Rey. "Jika aku bisa memilih siapa orang tuaku, aku pasti tidak akan memilih dia sebagai Ayahku. Jika Tuhan terlebih dulu bertanya orang tua mana yang aku pilih untuk menjadi orang tuaku? Aku akan memilih Anda. Anda orang tua terbaik di dunia ini. Jika aku tau Mamaku sejahat itu pada keluarga Anda, aku akan memaksanya untuk pergi meninggalkan Anda."


Hati Rey sedikit terketuk. Dia membulatkan matanya kembali. "Sekarang kamu tau alasanku menjauhkan anak-anakku darimu?"


"Iya," sahut Arion. "Sekarang aku baru tau, dan kenapa harus sekarang Anda memberitahuku?"


"Karena aku tak mau menyalahkanmu atas keburukan orangtuamu. Aku selalu menahan emosiku setiap bertemu denganmu. Tapi, ternyata kamu sama saja seperti mereka." Rey membuang mukanya kemudian menatapnya kembali. "Pergi dari sini! Jangan pernah menampakkan dirimu!" Rey menunjuk ke arah pintu rumahnya.


"Ada anakku di perutnya."


Rey semakin mendekati wajah Arion. "Kamu tidak perlu menikahinya. Pergi!" teriak Rey.


Arion berjalan pelan ke arah pintu dengan sesekali menoleh ke belakang melihat Pinky yang tersungkur dan terus menangis. Ini bahkan lebih rumit dari yang dia bayangkan. Dia berdiri di tepi jalanan mencari taksi. Namun tiba-tiba saja mobil Pinky keluar dari halaman rumahnya. Mau kemana dia? Pikiran Arion tidak tenang. Dia menghentikan taksi yang lewat di depannya dan menyuruh sopir itu mengikuti arah mobil Pinky.


Pinky menghentikan mobilnya di makam Kevin Papa kandungnya. Dia membanting pintu mobil itu dan berlari menangis menuju makam Kevin.

__ADS_1


"Papa ... Papa," teriaknya dengan terus berlari dan menangis memegangi perutnya. Arion mengikutinya dari belakang dengan air mata yang juga tiada hentinya.


Pinky tersungkur memeluk dan mencium batu nisan bertuliskan Kevin Arkananta itu. Dia meraba-raba tulisan itu dengan ujung jari. "Maafkan Pinky Pa!"


__ADS_2