
Sampai di rumah, Arion memarkir motor asal di halaman rumahnya yang cukup luas dengan taman yang dihiasi hamparan rumput dan aneka ragam tanaman yang indah.
Terlihat seorang wanita yang sedari tadi menunggunya duduk di kursi panjang yang ada di taman itu. Selena, wanita itu bernama Selena. Ibu dari Arion yang terlihat begitu menyayangi putra semata wayangnya itu. Dia cucu satu-satunya dari keluarga pemilik perusahaan properti yang terkenal di kota ini.
Selena berdiri seraya berkacak pinggang menatap anak laki-lakinya itu. Matanya semakin membulat ketika dia mengetahui ada sedikit luka di pipi sebelah kiri Arion.
"Kamu habis berantem?" tanyanya dengan memegang pipi anaknya.
"Auh ... sakit Ma!"
Selena menatap geram Arion, "Kamu gak mau jawab pertanyaan Mama?"
"Tadi tiba-tiba ada yang memukul Arion Ma. Sudahlah nanti juga sembuh sendiri! Ngapain Arion di suruh cepat-cepat pulang? Arion masih belum selesai ...."
"Belum selesai memberi makan anak jalanan itu lagi, iya?" Selena memegangi dahinya. "Arion, kamu itu satu-satunya harapan Kakek buat nerusin perusahaannya. Jika waktumu selalu kamu habiskan untuk mengurusi anak jalanan, bagaimana nasib keluarga kita?"
Arion mengusap gusar wajahnya. "Ma, Arion gak suka kerja di kantoran seperti itu. Biar itu urusan Kakek. Arion ikhlas gak dapat apa-apa."
__ADS_1
Dia pergi begitu saja meninggalkan Selena. "Kamu mau kemana lagi?" Selena menarik tangan anaknya itu.
"Ini waktu mereka makan siang Ma, kasian mereka pasti kelaparan nungguin Arion."
Selena menggaruk kepalanya, "Cukup Arion! Kamu pikir masa depanmu, jangan terus-terusan memikirkan anak jalanan, pengemis, gelandangan yang bukan menjadi urusanmu!"
"Mama pikir Arion tak punya masa depan? Arion memberi makan mereka juga tak minta uang Mama dan Kakek. Arion ikhlas lakuin itu semua. Jika Mama menyuruh Arion pulang untuk itu, Arion tak sanggup," Selena nampak sangat geram. Arion langsung pergi begitu begitu saja.
Dia terlalu fokus bisnis toko alat musik yang dia tekuni sejak kuliah. Bisnis kecil yang sekarang menjadi besar. Kecintaannya pada musik menjadi satu dari seribu alasan hatinya tergerak untuk membantu anak-anak jalanan yang mengamen sembarangan.
Desakan dari keluarganya untuk mengurus perusahaan entah kenapa membuatnya semakin membangkang. Bukan keahliannya, adalah alasan yang selalu dia gunakan untuk menolak.
"Kak Arion ...." panggil salah satu anak yang berkerumun disana. Arion tersenyum dan berlari ke arah mereka membawa satu kantong kresek besar berisi nasi bungkus itu.
"Kalian sudah lapar?" Anak-anak itu mengangguk seraya menjilati bibirnya masing-masing. "Maaf Kakak tadi masih ada urusan! Makanlah!" Dia memberikan satu persatu nasi itu.
"Aden, boleh saya minta untuk anak istri saya di rumah?" tanya salah satu pemulung tua yang mendekatinya.
__ADS_1
"Oh tentu."
Dia memberikan empat bungkus nasi pada pemulung itu. Garis senyum dan mata berbinar dari merekalah yang membuatnya seperti manusia yang paling bahagia di dunia ini.
"Kakak gak makan?" tanya anak perempuan yang mulutnya sedang penuh menguyah. Dia mengelus kepala anak itu.
"Emang sudah kebagian semuanya?"
"Sudah," teriak serentak mereka.
"Ya udah tinggal satu ini Kakak makan ya!"
Rasa bahagia terlukis jelas di wajah mereka semua. Arion bagaikan malaikat yang terus menemani mereka selama ini. Kehadirannya ditengah-tengah terpuruknya keadaan membuat mereka begitu menyayangi sosoknya.
"Kak tadi aku udah bisa membaca tanpa di eja loh."
Mata Arion berbinar, "Oh ya?"
__ADS_1
"Heem,"