22.23

22.23
Kejutan


__ADS_3

Sudah tiga hari ini Pinky merasa sakitnya tak kunjung sembuh juga. Dia tak mengerti, dia tidak pernah merasa seperti ini. Sakit kepala yang datang tiba-tiba membuatnya sering menghabiskan waktu dengan merebahkan dirinya diatas tempat tidur.


Dia kini memuntahkan isi perutnya dan menjadi lemas tak berdaya. Dengan sekuat tenaga dia keluar dari kamar mandinya. Ada yang membuatnya teringat sesuatu. Pinky berjalan cepat mengambil kalender di mejanya. Oh tidak, sepertinya apa yang berada dibenaknya kini akan menjadi kenyataan.


Wanita itu terburu-buru berangkat ke restorannya. Dia langsung mengarahkan sopir itu ke sebuah apotek terdekat dan membeli alat tes kehamilan. Dia menyadari ada janin dalam tubuhnya.


Dengan santai tanpa raut wajah cemas atau pun takut Pinky membeli beberapa alat itu. "Haruskah mengecek kehamilan dengan alat-alat ini pada pagi hari?" tanyanya pada seorang apoteker itu. Dia membolak-balikan alat yang belum pernah dia gunakan selama hidupnya sampai saat ini.


"Memang bagusnya pagi di saat kadar hCG-nya tinggi, itu akan lebih mudah terdeteksi. Namun sebenarnya dilakukan kapan saja tidak masalah."


Pinky mengangguk. "Baiklah kalau begitu aku beli empat!"


"Empat?" Wanita di depannya itu mengerutkan dahi, kemudian ikut mengangguk. "Baiklah!" Dia mengambil alat itu dan dengan wajah berbinar Pinky kembali ke dalam mobilnya.


Pinky berbicara pada sopirnya. "Tolong dipercepat ya Pak jalannya!" Dia seperti tak sabar untuk mengetahui hasil dari alat yang dia beli ini.


Setelah sampai di restoran. Dia berjalan cepat menuju ruangannya dan masuk dalam kamar mandi. Tangannya tiba-tiba menjadi dingin, jantungnya berdetak kencang, dan terus mengigiti bibir bawahnya menunggu hasil dari keempat alat itu .


Dia meremas-remas tangannya. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, keempat alat tes kehamilan itu menunjukan garis dua. Matanya membola, dia seperti tak percaya dengan mendekatkan salah satu alat itu ke matanya.


"A-aku hamil?" Senyum bahagia tergambar di wajahnya. Apa, senyum bahagia? Bagaimana bisa dia bahagia?


Jika kebanyakan wanita hamil di luar nikah mereka mengalami rasa takut untuk menjalani hari ke depannya tapi, ini tidak bagi Pinky. Dia merasa kehamilannya kini pasti Tuhan berikan agar cinta terlarangnya pada Arion otomatis akan direstui oleh Rey. Kenapa pikirannya segampang itu?


Dia keluar kamar mandi dengan membawa satu diantara empat alat itu. Mengambil ponselnya dan menelepon Arion untuk memberikan kejutan luar biasa padanya.


Lagi-lagi Arion masuk ke dalam restoran dengan menggunakan masker untuk membuat sopir yang mengawasi Pinky di depan tak mengetahuinya.


Tok tok tok

__ADS_1


Dengan semangat Pinky membuka pintu ruangannya. Dia menarik tangan cowok itu, mengunci pintunya dan langsung memeluknya.


"A-ada apa?" Arion bingung melihat wajah berseri Pinky.


"Aku ingin memberikan kabar bahagia padamu!" Arion memundurkan kepalanya. Pinky menarik tangannya untuk mengajaknya duduk di sofa. Dia memegangkan tangan Arion ke perut bagian bawahnya. "Aku hamil." Pinky menyodorkan alat itu pada Arion.


Deg


Mata Arion melebar. Rahangnya mengeras. Dia terus menatap mata Pinky tanpa ekspresi bahagia di wajahnya. Bukan, bukan seperti ini yang dia inginkan.


Dia lantas tersadar dan menajambak rambutnya. "Ka-kamu kenapa?" Pinky menyentuh bahu Arion.


"Kenapa jadi rumit seperti ini?" Arion memejamkan matanya dan memegang dahinya. Kepalanya seperti ingin meledak. Keadaan ini sangat berbeda dengan keadaan Pinky.


"Justru ini bagus, Papa pasti akan merestui kita."


Arion mengerutkan dahinya dan menatap wajah bahagia itu. Bagaimana bisa Pinky berpikiran semudah itu?


Pinky mengangguk santai seraya menarik garis bibirnya. "Aku tau. Tapi, jika Papa tau aku hamil anakmu, otomatis dia akan menikahkan kita. Dan kita akan hidup bersama."


Arion langsung berdiri. "Apa semudah itu meluluhkan hati Papamu?"


Pinky tak menyangka reaksi Arion seperti ini. "Apa kamu tidak mau bertanggung jawab?" Dia mengerutkan keningnya.


Arion menggaruk kepalanya. Dia sekarang memegangi bahu Pinky dan menatapnya tajam. "Bukan seperti itu ...."


"Lalu kenapa kamu seperti tak menginginkannya?" sahut Pinky. Arion mengusap gusar wajahnya. Dia berharap semoga ini mimpi buruk baginya. "Jika kamu memang tak menginginkannya, aku akan merawatnya sendiri."


Mata Arion melebar. Tidak, dia bukan laki-laki seperti itu. "Baiklah!" Dia memberi jeda ucapannya dengan menarik napasnya dalam dan menghembuskannya. "Aku akan menemui Papamu."

__ADS_1


"Benarkah?" Pinky memegang kedua tangan Arion. Laki-laki itu mengangguk lemas tak tau bagaimana nasib kedepannya?


"Ayo kita sekarang temui Papa, dia ada di rumah kok." Pinky menarik tangan Arion keluar.


Dia nampak sangat bersemangat. Tanpa rasa takut Pinky mengajak Arion masuk dalam mobilnya.


Mata sopir itu membulat, bagaimana bisa Arion berjalan berdua dari dalam restoran sementara dia terus berjaga di luar. "Loh Non itu kan ...."


"Iya, memang kenapa? Antar aku pulang! Kita ingin bertemu Papa."


Mereka kini duduk berdua di kursi belakang. Pinky terus memegangi tangan Arion yang seketika berubah menjadi dingin. Raut wajahnya berbanding terbalik dengan raut wajah Arion.


Disepanjang perjalanan Arion hanya terdiam. Sopirnya terus memandangi tajam lewat kaca spion dalam. Dia sepertinya sangat takut jika Rey nanti tiba-tiba memecatnya.


Sesampai di halaman rumah, Pinky terus menarik tangan Arion yang terus memperlambat jalannya. Otaknya berpikir keras, apa yang akan pertama dia katakan pada Ayah dari wanita yang telah mengandung anaknya itu.


Tok tok tok


Pinky mengetuk pintu rumahnya. Jantung Arion semakin berdetak kencang seperti ingin lari dari sarangnya. Kakinya bergemetar, wajahnya pun ikut memucat. Dia meremas-remas tangannya untuk mengusir ketegangan yang amat luar biasa ini.


Kleeek


"Pinky ...."


"Mama, Papa mana?"


Pinky menggandeng tangan Arion masuk dalam rumah. Bola matanya berkeliling mencari sosok laki-laki itu.


Kinan menahannya. "Pinky kamu apa-apaan membawa Arion kesini? Bagaimana jika Papamu tau?" Dahi Kinan berkerut. Apa yang ada dalam pikiran anak perempuannya itu?

__ADS_1


"Mama tenang saja, Papa kali ini pasti merestui hubungan kita." Pinky melihat ke arah kamar Rey dan berteriak. "Papa."


Terlihat Rey keluar kamarnya dan memandang ke arah suara itu berasal. Bola matanya seperti ingin keluar mengetahui Arion berada dibawah sana.


__ADS_2