
"Aku bukan anak baik Pa. Aku menyesal, bahkan tak lebih dari wanita murahan. Memberikan cuma-cuma kesucian yang selama ini aku jaga pada laki-laki itu. Laki-laki yang orang tuanya telah membunuh Papa. Aku merasa kotor, aku jijik dengan diriku sendiri." Dia memeluk makam itu dengan terus menangis tersedu-sedu dan mencengkram kuat kerah bajunya.
Sakit, sungguh sangat sakit hati Arion mendengar semua ucapan Pinky. Wanita itu sekarang membencinya. Rasanya Arion ingin pergi menjauh tapi Pinky sedang mengandung anaknya.
"Aku benci anak ini Pa." Pinky memukul-mukul perutnya. "Aku benci."
Deg
Jantung Arion rasanya berhenti berdetak. Dia mengepalkan kedua tangannya. Jika memang Papanya yang salah, kenapa harus dia bahkan calon anaknya yang harus menjadi korban kebencian itu?
Arion menggelengkan kepalanya. Tidak, ini tidak adil baginya. Dia pergi begitu saja meninggalkan Pinky di makam sendirian. Ungkapan hati wanita itu begitu sangat menyakitkan baginya.
Kali ini Arion ingin marah pada Mamanya. Dia tak terima dengan kenyataan yang disembunyikan oleh Ibunya itu selama ini.
Arion menghentikan taksi yang lewat di depannya. Dia kemudian mengambil motornya yang ditinggal di restoran Pinky. Matanya melirik tajam ke arah tempat makan mewah itu. Apa mungkin ini terakhir kalinya akan menginjakan kakinya disini?
Arion mengendarai motornya sangat cepat. Menyalip setiap kendaraan yang seperti sedang menguji lagi kesabarannya hari ini.
Tak butuh waktu lama Arion untuk sampai rumahnya. Dia memarkir asal motornya dan berteriak-teriak mencari Selena.
"Ma ... Mama?"
__ADS_1
"Apa sayang?" Mata Selena membola. "Loh ... wajahmu kenapa? Kamu habis berantem?" Selena memegang pelan wajah anaknya yang lebam itu.
Arion menangkisnya. "Aku kesini cuma ingin Mama jujur, dimana Papaku?"
Selena mencoba menenangkan dengan mengelus kepanya Arion. "Mama sudah sering cerita, Papa udah gak ada."
Arion memberi senyum setengahnya. "Kalau udah gak ada, dimana kuburannya?"
"Arion apa yang sudah terjadi sebenarnya?" Selena mengerutkan dahinya. Dia mulai curiga dengan Arion.
"Apa benar Ayahku seorang pembunuh?"
Deg
"Dan Mama ... apa benar Mama dulu sejahat itu memperlakukan Pinky dan Ibunya?" Arion memegang bahu Selena. "Jawab jujur Ma!" Dia menatap mata yang kini berkaca-kaca.
"Apa Rey yang sudah memberitahumu dan yang memukulimu adalah dia?" Selena mencoba mengalihkan.
"Aku cuma ingin jawaban dari mulut Mama atas pertanyaanku, bukan malah Mama memberiku pertanyaan!" teriaknya.
"Ma-ma minta maaf Arion." Selana menghapus air matanya. "Mama dulu ...."
__ADS_1
"Cukup!" sahut Arion. "Aku cuma butuh jawaban antara 'iya' atau 'tidak'?
Selena mengangguk dan terus menunduk mengeluarkan air matanya. Arion menjambak keras rambutnya. "Aaaaarrrhhhk," Dia langsung berlari ke kamarnya. "Keluarga macam apa ini? Sialnya hidupku karena telah diberi orangtua seperti ini."
Braaaakkk
Arion membanting pintu kamarnya. Selena mencoba mengejar dan mengetuk-ngetuk pintunya.
"Arion ... Mama minta maaf!" Wanita itu terus menangis didepan pintu kamar anaknya.
Tak selang lama Arion membuka pintu dengan membawa koper. "Ka-mu mau kemana Arion, jangan tinggalkan Mama! Mama mohon!" Selena memegang tangan anak laki-lakinya itu.
"Lebih baik aku jadi anak gelandangan, daripada menjadi anak pembunuh dan perebut suami orang seperti kalian." Teriakannya membuat hati Selena ditusuk sembilu. Ini kata-kata yang paling menyakitkan yang Selena dengar dari mulut anaknya. Selena menggelengkan kepalanya dan terus mengejar Arion.
Arion pergi dari rumah membawa mobilnya. Saat ingin membuka pintu mobilnya, Selena menahannya. "Sayang ... kalau kamu sudah tenang Mama mohon kamu pulang ya!" Selena terus memegang tangan Arion.
Arion mencoba melepaskannya dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Perasaannya hancur sangat hancur. Kenyataan ini begitu pahit. Kenyataan ini begitu sakit. Pergi, menjauh sejauh mungkin. Berharap bisa melupakan dan melepaskan semua perasaan yang membelenggunya.
Aku tau perasaanmu. Jika kamu bingung akan kemana, kemarilah bantu author ngetik jalan takdirmu berikutnya.
__ADS_1
Ini gak semewek yang kalian kira. Ini gak sesadis kematian Kevin.