
"Kak tadi itu Kakak kandungmu?" tanya Lisa yang kini duduk di dalam mobil. Tangannya sibuk memakai sabuk pengaman lalu menatap cowok di sampingnya.
"Iya lah," jawab Aero seraya menyalakan mobil dan mulai menginjak pedal gas.
"Cantik dan ganteng ya?"
"Lo juga cantik kok," rayu Aero dengan lirikan mata elangnya. Sudut mulutnya muncul. Lisa tersipu malu menatap pemandangan luar jendela mobil sembari meremas-remas tangannya. "Kok diem aja? Bales dong, gue ganteng 'kan bisa?"
Astaga.
Lisa menghembus napas gusar. Dia menggaruk kepalanya lalu menatap cowok yang baginya tak bisa romantis sama sekali.
"Kalau gak ikhlas muji orang, gak usah muji!" teriak Lisa dengan wajah murung. Dia membanting punggungnya di kursi.
"Perasaan gue terus muji elo cantik, tapi mana gue gak pernah dapat balasan. Bukannya gak ikhlas ya tapi memang kenyataannya kayak gitu. Ikhlas gak ikhlas pengennya ada perasaan lega."
Bicara apa dia? Di bolak-balik membuat Lisa semakin pusing. Gadis itu hanya memicingkan mata tanpa menjawab ucapan yang baginya tidak penting.
"Terus siapa tadi, yang lo bilang Arion mirip siapa tadi? Halah kok gue lupa. Siapa ...?"
"Cha Eun Woo," teriak Lisa kesal.
"Nah itu," Aero menunjuk Lisa. Gadis itu mengernyit membuang muka kembali. "Lo tadi ngomong suka sama Song Jungkook sekarang ganti Cha Eun Woo? Yang bener yang mana?"
__ADS_1
Song Jungkook? Siapa Song Jungkook?
Gadis itu menepuk dahinya seraya menunduk memejamkan mata. Rasanya lelah sekali bicara dengan cowok di sampingnya. Percuma juga kalau dijelaskan. "Lo ngantuk, tidur aja! Nanti kalau udah sampai gue gendong!"
"Idih," Lisa memundurkan kepalanya.
Aero melihat kaca spion mobilnya seraya bertanya, "Lo tinggal dimana?"
"Tinggal di kos, bentar lagi juga nyampek." Aero mengangguk dan semakin cepat melajukan kecepatan mobilnya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai tujuan. Aero menghentikan mobilnya. Dahinya berkerut melihat keadaan dimana Lisa tinggal selama ini.
"Lo tinggal disini?"
Cowok itu hanya berdehem, dia celingukan meilhat suasana tempat kos Lisa. "Gimana kalau lo tinggal di apartemen gue aja? Gak pernah gue tempatin juga soalnya. Dari pada lo tinggal disini!"
"Ih," Lisa menggedik geli. Di otaknya berkeliaran pikiran buruk Aero akan berbuat sesuatu padanya. "Gak, aku nyaman tinggal disini! Udah ya Kak aku ngantuk!"
"Ya udah, lo besok pagi mau gue jemput gak?"
Lisa menggelengkan kepala. "Gak perlu."
Berlebihan sekali.
__ADS_1
"Gue pulang ya!" pamit Aero yang masih terus saja berdiri di depan gadis yang mengangguk lemah karena menahan kantuk itu. "Lo gak bilang 'hati-hati ya Kak!' atau 'sampai ketemu besok Kak!' malah diem aja!" Aero merengut kesal. Kenapa cewek ini datar sekali.
"Ya udah hati-hati!" Lisa langsung masuk.
"Lo gak cium gue dulu? Eh maksud gue, lo gak cium jauh gitu setidaknya!" teriak Aero.
Lisa mengernyit. "Apaan sih Kak? Gak usah teriak-teriak ini udah malam! Gak usah aneh-aneh juga! Mentang-mentang tadi nolongin aku sekarang kamu minta macam-macam. Terus apa bedanya kamu sama mantanku tadi?"
"Ya beda lah!" Aero menyerah pasrah. Dia mengibas-ngibaskan tangan menyuruh Lisa untuk segera masuk. Lisa membanting pintu kamarnya yang membuat Aero terlonjak.
Di dalam mobil dan masih di tempat kos Lisa, Aero mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada gadis itu.
Aero
Gue minta maaf!
^^^Lisa^^^
^^^Iya.^^^
Aero
Selamat malam, semoga mimpi indah!
__ADS_1
Lisa kembali tersipu malu memandangi layar ponselnya. Andai Aero serius dan romantis, mungkin akan mempunyai nilai lebih. Gadis itu masih menyimpan keraguaan pada sosok laki-laki yang menurutnya sempurna tapi kenapa dia bisa menyukai gadis biasa yang tak spesial sepertinya? Ah, biar waktu yang menjawab ini semua.