
"Oke, gue udah izinin lo pacaran sama Kakak gue. Sekarang gue tagih janji lo, bantuin gue lepas dari tiga cewek itu!" Aero menyandarkan punggungnya di kursi kemudian bersidekap. Wajahnya nampak serius dengan mata yang tak henti menatap Arion yang terus menampakan sederet gigi putihnya.
"Eh dia belum nembak aku," sahut Pinky.
"Tadi aku udah nembak, kamu katanya gak boleh pacaran sama Papa," teriak Arion seraya tertawa geli.
Papa? Mereka bertiga terdiam seketika mengingat sosok itu. Wajah mereka berubah datar dan saling berpandangan.
"Papa kapan pulang Ro?" Pembicaraan mereka kini mulai serius.
"Tadi Papa baru telepon, katanya lusa mau pulang."
"Hah ...."
Pinky ternganga, dia kemudian menggaruk kepalanya seraya mengigiti bibir bawahnya.
"Gue mau tanya serius nih! Papa kalian kenapa seperti gak suka banget sama gue dulu?"
Pinky dan Aero saling berpandangan. Aero mengangkat kedua bahunya. Pinky menggelengkan kepalanya. Sedangkan Arion mengerutkan dahi melihat jawaban dari bahasa tubuh mereka.
Aero menatap Arion. "Kami juga gak tau."
__ADS_1
"Apa sekarang dia masih membenci gue Ro?" tanya Arion dengan memautkan kedua alisnya. Aero masih dengan jawaban yang sama dengan mengangkat kedua bahunya.
"Ya udah, kita gak usah pacaran aja. Aku ingin melihat reaksi Papamu dulu. Dia masih marah padaku atau gak." Arion menatap Pinky dengan wajah tegang.
Pinky menunduk bersedih. Dia masih bertanya-tanya kenapa Papanya tidak menyukai Arion. Jika mengingat itu Pinky rasanya masih belum terima.
"Ya kalau mau pacaran ya pacaran aja!" sahut Aero.
Arion mengelengkan kepala. "Itu sama aja nikah tanpa wali alias ngajak kawin lari."
"Gampang kalau gak ada Wali kita gantikan dengan Noah, Ungu atau Armada," sahut Aero.
Arion melempar kunci mobil Aero ke mukanya. "Gue serius ya!" bentak Arion. Wajahnya berubah datar.
"Ya udah masalah Papa kita pikir belakangan aja. Tapi kalau Papa lusa pulang, lo kalau main sama kita diam-diam aja. Kalau Papa ada disini lo jangan kesini, kalau Papa udah pergi lo kesini!"
Astaga, entah itu ide konyol atau ide cemerlang dari Aero. Arion semakin mengerutkan dahi. Wajahnya berubah masam.
"Lo mau gue main kucing-kucingan sama bokap lo?" tanya Arion dengan nada suara tinggi.
"Ya kan sementara."
__ADS_1
"Kalau jadi selamanya," sahut Pinky dengan bibir mengerucut dan melamun tidak jelas.
Dua laki-laki itu langsung terdiam.
"Ya udah, gue pulang dulu." Arion berdiri dan menggeser kursi ke belakang. Pinky terus menatapnya.
"Eh Yon lo belum ngasih solusi masalah gue."
"Gampang lo cari pacar, bereskan.
"Yaah ...." Aero berdengus kesal. "Kalau itu gue juga udah ngelakuin dari dulu. Tapi, apa buktinya. Cewek gue kalah sama mereka bertiga."
"Cari cewek yang seterong," ucap Arion dengan nada ditekan.
"Kamsut lo cewek yang punya terong? Gue harus pacaran sama cewek jadi-jadian gitu biar mereka takut?" Aero mengerutkan dahinya. Arion pun mengusap gusar wajahnya.
"Emang lo mau pacaran sama cewek jadi-jadian?" Dia memajukan wajahnya ke Aero. Dia kesal dengan temannya itu, kenapa tak mengerti maksudnya.
Aero memundurkan kepalanya, "Ya ogah, amit-amit jabang baby."
"Kamu cari cewek yang kuat, yang siap dibully habis-habisan sama mereka bertiga!" sahut Pinky dengan masih menekuk mukanya.
__ADS_1
"Dikira gampang cari cewek kayak gitu."
"Gampang, susah urusan lo. Gue udah kasih solusi. Bye gue mau pulang." Arion pergi meninggalkan mereka berdua.