22.23

22.23
Aku Papamu


__ADS_3

Raut wajah bahagia terpancar dari dua anak manusia yang masa lalu orang tuanya saling bersiteru itu. Ya, cinta mereka mampu merubah kebencian itu menjadi kasih sayang.


Rey, Kinan, Selena, Aero serta Kakek dan Nenek mereka bersama melihat kebahagiaan Arion dan Pinky. Tak ada pesta mewah, di gedung yang megah atau undangan yang melimpah. Ini pernikahan sederhana yang kaya akan makna. Mereka sangat mengerti perasaan Pinky. Pastilah dia merasa sangat kecil duduk di kursi rodanya ditatap dan dibicarakan setiap para undangan. Tidak, mereka tidak ingin menambah beban hidupnya.


Rey memeluk Arion. "Papa titip Pinky padamu!" Arion mengangguk, sudut matanya mengeluarkan cairan bening.


"Aku tak pernah mendapatkan pelukan dari seorang Papa."


Rey menepuk-nepuk bahunya pelan. "Aku Papamu, jangan ragu jika kamu ingin memelukku!"


Kinan dan Selena pun memeluk Pinky bersama. Mereka mengucapkan selamat padanya. Begitu juga Aero dia memeluk Arion.


"Lo sekarang jadi Kakak ipar gue."


"Sopankah seorang Adik ipar pada Kakak iparnya manggil pakai 'lo gue'?"


Aero terkekeh malu sembari menutupi matanya. Semua orang tertawa mendengarnya.


"Aero kamu gak boleh kayak gitu!" sahut Pinky.

__ADS_1


Aero menggaruk-garukkan kepalanya. "Iya maaf!"


Arion memeluknya kembali. "Cepat nyusul ya!" Dia menepuk-nepuk bahu Aero.


"Sama siapa?" Aero melebarkan mulutnya dan mengerutkan dahinya.


"Tiga cewek yang dulu."


"Boleh three some eh four some maksudnya?"


Arion terkekeh mendengarnya. Namun mata Rey dan Kinan terbelalak mendengar ocehan anaknya. "Heh Aero jaga mulutmu! Papa gak pernah ngajarin kamu kayak gitu?"


"Tau tempat tidak?" gertak Rey. "Ya udah kalian berdua istirahatlah!" seru Rey pada Arion dan Pinky seraya mengaitkan tangannya ke leher anak laki-lakinya itu. Rey mengajaknya pergi sebelum petasan yang ada di mulut Aero menjadi bahan tak lucu untuk di dengar semua keluarga apalagi Kakeknya. Rey pasti dianggap tak mampu mendidik anak laki-lakinya.


Tatapan itu sudah nampak dari Sang Kakek pada Papanya. Rey berpura-pura membuang mukanya dan membawa Aero menjauhinya. Namun percuma. Laki-laki tua itu terus mengikuti langkah Ayah dan Anak itu.


"Aero," panggilnya dengan suara berat.


Rey dan Aero menoleh ke suara itu. Perasaan Rey sudah tak karuan. "Kakek, ada apa?" tanya Aero dengan polos.

__ADS_1


Kakek itu mendekatinya. "Apa kamu suka bermain wanita?"


"Enggak," Aero mengerucutkan bibirnya.


"Terus tadi apa?"


Aero menghela napasnya kasar. "Itu cuma bercanda Kek."


"Awas kalau kamu sampai meniru Papamu! Kakek gak akan kasih warisan ke kamu!" ancamnya. Laki-laki tua itu melirik Rey tajam, bahkan setajam silet.


"Meniru Papa?" tanyanya kebingungan. Bukankah Papanya sosok yang patut ditiru?


"Papamu ini buaya, tanyakan ke dia berapa mantan pacarnya! Pasti dia tak sanggup untuk menghitungnya."


"Ppppffft ... ppffffttt." Aero tak sanggup menahan tawanya hingga akhirnya meluapkan puas di depan Rey yang wajahnya berubah menjadi merengut kesal. "Aku kira Papa orangnya setia."


"Setia itu karena Kakek terus mukulin dia!" Perut Aero rasanya mengeras memandangi wajah Rey.


"Enak aja, Rey setia karena Rey udah nemuin cinta yang sebenarnya Pa." Dia membuang mukanya. Ini pasti akan jadi bahan olok-olokan Aero dihari-hari kedepannya.

__ADS_1


"Aero jangan cengengesan! Ingat pesan Kakek! Jangan tiru hal buruk dari Papamu! Atau Kakek tak segan-segan memukulmu juga."


__ADS_2