22.23

22.23
Four some


__ADS_3

Aero langsung berdiri dan meninggalkan ketiga wanita itu. Tak lupa dia mengajak Arion masuk ke dalam dengan membawa laptopnya.


"Tiga cewek itu siapa sih?" Arion kembali bertanya padanya. Mereka berdua akhirnya duduk di dalam restoran. Aero celingukan melihat ke arah teman-teman wanitanya yang masih terlihat bersiteru.


"Yang baju merah itu namanya Surtini, baju hitam Juminten, baju biru Markonah," jawab Aero seraya menunjuk mereka dari dalam. Arion tertawa dengan menenggelamkan wajahnya di meja.


"Hebat banget lo. Direbutin tiga cewek cantik."


"Jangankan mereka, Agus sama Bambang aja juga ngrebutin gue di tempat biasa nge-gym." Arion memukul-mukul meja dengan telapak tangannya karena tak sanggup menahan tawa.


"Terus lo milih mana?"


Aero melirik tajam Arion, "Ya pilih Surtini lah, masak iya gue main pedang-pedangan sama Bambang?"


Arion memegangi perutnya yang semakin mengeras, "Dari tadi ketawa mulu mana cewek lo?"


"Gak ada."

__ADS_1


"Bohong," ucap Aero dengan memajukan bibir bawahnya.


"Ya udah itu cewek baju hitam siapa namanya tadi?" tunjuk Arion.


"Juminten."


Arion tertawa kembali, "Ya Juminten itu buat gue aja!"


"Gue saranin jangan! Kalau lo jadian sama dia, bisa-bisa menua disalon." Arion memegangi dahinya. Rasanya dia lelah untuk terus tertawa.


Seketika Arion berhenti dari tawanya saat melihat Pinky keluar berjalan mendekatinya. Dia menarik lurus garis bibirnya melihat sosok wanita di depannya.


"Hai ...." Pinky menggeprak meja mereka. "Dari dalam tawa kalian kedengeran tau gak. Bahas apaan sih?"


Pinky menggeser kursi di depannya kemudian duduk di samping Arion. Laki-laki itu terus menatap manik mata indah di sampingnya.


"Bahas tuh!" Aero menunjuk tiga wanita itu lagi. "Lah kok mereka jadi berantem gitu?" Wajahnya berubah tegang melihat Jenny menjambak Rose begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


"Eh ... Ro lo harus misahin mereka!" Arion memukul-mukul bahu Aero.


Mereka bertiga lari keluar. Aero memegangi Jenny dan menahannya. Sedangkan Arion menahan Rose. Rambut mereka seperti benang kusut. Bulu mata palsunya pun ada yang tak sanggup lagi untuk melekat kuat. Kulit mulus mereka tergores tajamnya kuku satu sama lain.


"Sonya ... kenapa mereka sampai kayak gini?" tanya Aero yang terus menahan tangan Jenny agar berhenti menyerang Rose.


"Ya ini semua gara-gara kamu gak mau milih salah satu dari kita Ro."


"Lah kok nyalahin gue terus?"


Tak lama kemudian, Jenny tiba-tiba berhenti memberontak dan membalik badannya memeluk Aero. Dia menangis tersedu-sedu di dada bidangnya. Laki-laki itu hanya mampu memegangi keningnya.


"Aero aku tuh sayang banget sama kamu. Kamu itu pernah gak sih sayang sama seseorang dan mencoba memperjuangkan cintamu?" Laki-laki itu hanya terdiam mendengar curhatan wanita yang mengaguminya.


Rose berusaha melepas tangan Arion. "Aero kenapa kamu diam aja dipeluk dia. Hati aku sakit melihatnya." Dia menunjuk-nunjuk dadanya.


"Eh buset kok kalian pada nangis semua?" Aero mencoba melepas pelukan Jenny. "Dengerin gue ngomong!" Dia menatap dua wanita yang sesegukan itu. Untunglah Sonya tidak ikut menangis. "Gue gak bisa milih salah satu diantara kalian, gue juga gak bisa menjalin hubungan dengan kalian bertiga. Kalian emang mau gue ajak three some eh maksud gue four some?"

__ADS_1


Ketiga wanita itu menatap sinis Aero. Arion dan Pinky tak mampu menahan tawa dengan pertanyaan konyol Aero.


__ADS_2