
Semakin mendekati pintu masuk. Tingkah Aero semakin menggila saja. Dia menyentuhkan hidung mancungnya ke pipi Lisa. Bahkan hembusan napasnya pun membuat bulu kuduk Lisa berdiri. Tangannya gerayangan ke perut langsing cewek berusia delapan belas tahun itu. Jika tau Papanya tamatlah riwayatnya.
"Apaan sih Kak, jangan kayak gini ihh!" Dia mendorong pelan Aero seraya mengernyit.
"Nurut gak?" ancamnya dengan mata melotot ingin keluar.
Lisa menghentak-hentakan kakinya kesal. Entah mencari kesempatan dalam kesempitan atau memang untuk pemanasan, intinya tingkah cowok itu menyebalkan dan perlu di sentil ginjalnya untuk memberi pelajaran.
Tiga cewek pengagumnya itu terlihat memainkan ponselnya dengan duduk di meja berbeda namun bersebelahan. Mereka tak mengetahui Aero datang menggandeng seorang perempuan. Cowok itu memberi isyarat dengan berdehem.
"Aero, akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggumu berjam-jam lamanya," ucap Sonya dengan menggandeng tangan kiri Aero. Matanya memicing saat tau ada wanita yang menggandeng tangan pangerannya itu. "Kamu siapa?"
"Aku pacarnya," ucap Lisa dengan lantang. Aero langsung mencium pipi cewek itu. Wah, benar-benar membuat Lisa naik pitam. Dia tau harus menahan emosinya atau hancur semua rencana. Mengikhlaskan bibir Aero mendarat sempurna di pipinya.
"Aku gak percaya. Aero kenapa kamu cium-cium dia?"
Lisa berusaha melepas cengkraman tangan Sonya. "Ngapain kamu pegang-pegang tangan pacar aku juga?" Lisa melampiaskan kekesalannya pada Aero ke Sonya.
__ADS_1
Sonya membusungkan badannya. Lisa langsung memutar tubuh Sonya dan memelintir tangannya sampai dia berteriak kesakitan. Semua pengunjung restoran saat itu menatapnya seolah-olah seperti sebuah pertunjukan drama. "Sakit ...."
Lisa melepaskan dengan mendorong Sonya sampai jatuh ke lantai. Jenny dan Rose ternganga melihat pertunjukan yang Lisa berikan.
"Kalian berdua mau bernasib seperti dia?" Lisa menunjuk ke arah Sonya. Tanpa rasa takut Jenny langsung berusaha menyerangnya. Dengan sigap Lisa menangkis tangan yang akan menjambak rambutnya itu kemudian mendorong Jenny ke lantai. Wanita yang tersungkur itu mengaduh. "Apa kamu mau juga?" Rose menggelengkan kepalanya dan memundurkan badannya sampai menabrak meja. Mereka bertiga pergi begitu saja. Apakah segampang itu melawan mereka bertiga? Entahlah kita lihat keesokan harinya saja.
"Selesai 'kan? Gitu aja pakai main kejar-kejaran kek film India," ledek Lisa.
"Eh lo belum tau, mereka akan balik lagi besok."
"Yakin deh enggak akan!"
"Enggak."
Bibir lisa mengerucut. "Sekarang, aku mau pulang!"
Aero seperti belum terima. Dia memberikan kartu namanya pada Lisa. Lisa tak peduli lagi dengan pekerjaan yang ditawarkan Aero. Intinya cewek itu ingin lepas dari dramanya.
__ADS_1
Lisa pergi begitu saja dari restoran. Aero langsung masuk ke dalam mencari Pinky. Apakah mereka akan bertemu kembali? Entahlah.
"Kamu dari mana aja Ro? Ngumpet gak balik-balik?"
"Panjang ceritanya Kak. Aku numpang mandi ya?" Pinky mengangguk. Aero mengambil baju ganti yang dia selalu bawa di mobilnya.
Beberapa menit kemudian dia kembali dan langsung berdiri di bawah guyuran air shower. Aktifitasnya hari ini benar-benar membuat kepalanya mendidih. Kejar-kejaran, panas-panasan, menunggu berjam-jam di salon belum lagi godaan laki-laki lentik setengah matang yang mencolek-colek dagunya sampai sekarang dia seperti masih di lecehkan.
Lima belas menit kemudian dia keluar dengan wajah segar dan menemui Pinky. "Nanti aku malam agak maleman aku keluar ya sama Arion. Kamu pulang aja dulu!" ucap Pinky.
"Aku ikut ya!" goda Aero. Wajah Pinky berubah cemberut. Apa adiknya itu mau jadi obat nyamuk? Aero terkekeh melihatnya. "Kesempatan sebelum Papa pulang ya?" Pinky mengangguk seraya membuang pandangannya ke jendela luar.
❤
❤
❤
__ADS_1
❤