
Hari sudah berganti. Rasanya Pinky sudah tak sabar untuk malam ini merayakan ulang tahun Arion. Dia sudah bersepakat pada dirinya sendiri harus bisa menemui Arion apapun caranya.
Pinky sekarang sibuk dengan merawat tubuhnya. Berjam-jam dia berada dalam kamar mandi. Memakai lulur, masker wajah bahkan berendam wewangian.
Waktu sudah menunjukan pukul 18.30 WIB. Kinan mengetuk-ngetuk pintu kamarnya agar segera turun untuk makan malam bersama.
Pinky menuruti perintah itu. Rey dan Aero sudah menunggunya di meja makan. Pinky masih merasa dongkol dengan Rey. Ekspresi wajahnya mengeras.
Rey melirik Pinky yang hanya memainkan makanan di depannya dengan sendok. Dia berdehem untuk memberi isyarat pada anaknya itu, namun Pinky tak menghiraukannya.
"Pinky, nanti setengah delapan malam Elang bilang akan kesini," ucap Rey dengan terus menatapnya.
Pinky membanting sendok di piring. "Papa serius mau menjodohkanku dengannya?" Raut wajah geram nampak jelas disana.
"Ya, kamu bisa mengobrol dulu." Rey bercerita panjang lebar tentang kelebihan laki-laki itu. Pendidikan, jabatan, bahkan orang tuanya. Kinan dan Aero ikut memandang sinis pada Rey. Ini namanya pemaksaan.
Pinky menggeser keras kursinya dan berdiri. "Pinky udah besar Pa, Papa gak bisa dong seenaknya jodoh-jodohin Pinky. Pinky sudah punya pilihan."
Rey pun ikut berdiri, "Siapa? Arion itu hah?" teriaknya.
__ADS_1
"Papa jahat, Papa bukan yang selama ini Pinky kenal. Papa berubah." Sudut matanya mengeluarkan air mata. "Aku gak mau dijodohkan dengan laki-laki itu titik!" Pinky berlari menuju kamarnya.
"Pinky kamu dengerin Papa!" Teriakan Rey seperti tak dihiraukannya.
Dia membanting keras pintu kamarnya sampai membuat Kinan dan Aero terlonjak.
"Papa berlebihan banget sama Kak Pinky."
"Diam kamu Aero. Papa cuma gak ingin Pinky dekat-dekat dengan Arion itu!"
"Tapi gak kayak gini caranya Pa!"
Rey memicingkan matanya, "Lalu apa? Coba kasih tau Papa?" Kinan mengelus-elus bahunya berusaha menenangkan Rey yang kini terlihat sangat berapi-api.
"Pinky kamu mau kemana?" teriak Rey.
"Pinky mau pergi dari rumah ini. Pinky gak kuat dengan sifat Papa." Dia terus berjalan ke pintu luar.
Semua mencoba mengejarnya. "Pinky jangan pergi!" ujar Kinan.
__ADS_1
Dia membalikan tubuhnya, "Mama tenang aja, Pinky bisa jaga diri! Pinky hanya pergi sebentar menenangkan diri."
Dia berjalan cepat menuju mobilnya dan tak memperdulikan keluarganya. Kinan terus menangisinya. Aero memeluk Mamanya yang terus bersedih itu.
"Udahlah Ma, Aero yakin Kak Pinky cuma ingin liburan bentar."
"Liburan apa? Pasti dia lagi mencari Arion," sahut Rey dengan yakin.
"Ini semua juga gara-gara kamu memaksanya." Kinan otomatis menyalahkan Rey.
-
-
-
Diperjalanan Pinky mengendari kencang mobilnya. Jangan sampai Rey atau Aero mengejarnya dan memaksa untuk pulang. Dia sering melihat kaca spionnya. Dirasa sudah jauh dan aman, Pinky tak lupa mampir membeli kue ulang tahun kecil untuk Arion. Senyum bahagia terpampang jelas di wajahnya. Seolah-olah dia bisa lupa seketika dengan permasalahan perjodohan dari Papanya.
Kue sudah ditangannya. Lalu kurang apa lagi? Dia kini melajukan mobilnya kembali dan berhenti di sebuah toko pakaian dalam wanita.
__ADS_1
Dia membanting pintu mobilnya dan berlari kecil menuju ke dalam. Terlihat Pinky sedang memilih-milih lingerie. Apa lingerie?
Satu, dua, tiga, empat. Ada empat lingerie dipilihnya dengan tiga warna hitam dan satu warna merah. Dia kini membayarnya di kasir. Tapi, untuk apa dia membeli lingerie sebanyak itu?