
Lima belas menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah Arion. Berderet mobil mewah pemandangan pertama yang di suguhkan. Ada salah satu mobil sport hitam yang bernomor polisi A 121 ON membuat Pinky tak henti menatapnya.
"Itu pasti mobilmu 'kan? Pinky menunjuk ke arah mobil tersebut.
Arion tersenyum tipis. "Tau aja, ayo masuklah!"
"Kenapa kamu gak pernah memakainya?"
"Aku lebih suka naik motor, bebas macet. Bisa dipeluk kamu juga. Kalau naik mobil beda lagi ceritanya."
Pinky tersipu malu. Arion langsung menggandeng tangannya untuk masuk dalam rumah. Mata Pinky berkeliling di setiap sudut, rumah ini begitu besar bahkan lebih besar dari rumahnya.
"Dengan siapa kamu tinggal disini?"
"Ada Mama dan Kakek. Kamu ingin bertemu Mamaku?" Aku panggil dulu ya!" Pinky mengangguk.
Aduh, hati mereka yang sedang berbunga-bunga sepertinya melupakan cerita masa lalu orang tuanya.
"Ma ... Mama!" Suara Arion menggema di seluruh rumah. "Oh iya, duduklah!" Pinky mengangguk dan duduk di sofa mewah berwarna abu-abu itu.
Tak lama kemudian Selena keluar dari kamar. Suara pintunya bahkan nyaring terdengar sampai bawah. Dia menuruni anak tangganya pelan.
__ADS_1
"Baru keluar, pulang lagi. Sudah selesai ngurusin anak jalanannya?" sindir Selena. Mata wanita itu kemudian tertuju pada Pinky. "Siapa dia? Tumben bawa cewek ke rumah?"
Arion menggandeng tangan Selena agar mempercepat langkahnya. "Kenalin ini Pinky!" Pinky langsung berdiri dan memberi senyum pada Selena. Dia mengulurkan tangannya pada Ibu Arion itu.
"Siapa tadi namanya?" Selena mengerutkan dahinya.
"Pinky," jawab Arion.
"Tunggu!" Selena memandangi dari ujung rambut ke ujung kaki Pinky. "Tidak ... tidak." Selena seperti mengingat nama itu tapi dia menepisnya. Mungkin hanya kemiripan nama saja.
"Kenapa Ma?"
Selena menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Duduklah!" Selena memberi senyum pada Pinky. Selama ini Arion memang tak pernah bercerita tentang Pinky dan Aero pada Selena. Selena juga tak begitu mengingat jelas wajah Pinky saat dia kecil dulu. Baiklah, ini setidaknya aman untuk hubungan mereka.
"Iya Tante ...."
Selena pergi meninggalkan mereka. Pinky dan Arion terdiam menatap punggung wanita itu sampai tak nampak lagi.
"Mama kamu cantik, tubuhnya bagus banget. Aku sampai kalah."
Arion terkekeh. "Mama kamu juga kemarin cantik banget malah, apalagi anaknya."
__ADS_1
"Ihh ... gombal banget."
"Ikutlah aku!"
"Kemana?"
Arion langsung menarik tangan Pinky dan mengajak ke kandang kucing yang berada dalam rumahnya. Apa kandang kucing?
Mata Pinky membulat melihat ada satu, dua, tiga, empat, lima. Ada lima kucing berbulu sangat lebat di depan matanya. Dia terus memundurkan langkah kakinya. Jantungnya pun berdegup kencang.
"Ka-kamu mau mengerjaiku?"
"Kemarilah! Mereka baik kok."
"Tidak," teriaknya. "Aku mau pulang!" Arion menarik tangannya. "Arion lepasin gak?" Pinky memutar-mutar tangannya. Rasanya ingin berlari dari tempat ini.
"Gak akan aku lepasin."
Wajah Pinky berubah geram, "Kamu sengaja?"
"Aku hanya ingin kamu tidak takut kucing lagi."
__ADS_1
Pinky masih terus berusaha melepas cengkraman tangan Arion kali ini dengan memukul-mukul tangannya. "Aku bilangin Papa loh!" ancamnya.
Arion akhirnya melepaskannya. Dia mengaruk kepalanya seraya menahan tawa. Karena tak tega akhirnya laki-laki itu mengajak Pinky di taman rumahnya. Melihat bunga koleksi Selena dan menghabiskan waktu mereka disana.