
"Permintaan macam apa itu?" Rey langsung berdiri dan meninggalkan Kinan. Dia membersihkan badannya dengan berdiri di bawah shower. "Berarti kamu dari tadi ngrayu aku 'kan? Ngaku?"
"Enggak aku ...."
"Halah, aku bisa baca pikiranmu." Baca pikiran? Sejak kapan laki-laki itu bisa membaca pikiran? Kinan mengernyit mendengar ocehan suaminya.
Setelah dirasa bersih, Rey mematikan shower dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk. "Aku udah bilang sekali gak ya gak!" Kepala batunya muncul kembali. Rasanya sia-sia usaha Kinan merayunya kali ini.
Lalu harus bagaimana?
Rey keluar kamar mandi. Dia memakai bajunya kembali. Tak selang lama setelah Kinan membersihkan diri, dia mengikuti arah suaminya berjalan kesana kemari tak jelas. "Kamu gak pengen lagi?" rayu Kinan dengan memeluk dari belakang. Rey langsung terdiam tapi tetap tidak akan goyah oleh rayuan istrinya.
"Enggak." Satu kata yang tak sama dengan ungkapan isi hatinya.
"Tadi katanya mau lagi, tadi katanya bakal ngasih semua permintaanku. Dasar tukang ngibul!" Rey seperti tak peduli dengan sebutan itu karena kenyataanya memang benar dia seperti itu.
Rey memicingkan matanya, "Kamu minta apa aja bakal ku turutin, kecuali permintaan konyol itu."
"Ih," Kinan mendengus kesal. Dia keluar kamar meninggalkan suaminya yang bersungut itu dan turun menyiapkan makan malam.
-
-
__ADS_1
-
-
Saat makan malam tiba, Aero pun sudah pulang. Dia nampak bahagia melihat Kakak perempuannya itu sudah berada di rumah dan duduk di meja makan bersama Papa dan Mamanya.
"Kak Pinky ...." Aero datang langsung memeluknya. "Jangan pergi lagi Kak! Rumah ini sepi, aku gak ada temennya. Papa selalu ngunci Mama didalam kamar."
"Heh ...." gertak Rey. Aero mengernyit dan langsung duduk di kursinya. "Pinky besok kalau kamu mau kemana pun ada sopir yang akan mengantar dan mengawasimu?"
"What?"
"Papa, Pinky bisa nyetir sendiri."
"Arion Pa," sahut Aero dengan mencebikkan bibirnya.
Mata Rey membulat, "Heh diem kamu Aero! Papa gak lagi ngomong sama kamu." Pinky menusuk-nusuk makanan di depannya. "Awas ya Pinky kalau melanggar kesepakatan kita! Papa jodohin sama Elang lagi."
Aero mengernyitkan wajahnya. "Papa marah-marah terus, kurang jatah?" Dia kemudian menyendok makanan yang berada di piringnya.
"Ya karena kamu juga. Minta adek tapi hobinya gangguin Papa sama Mama berduaan. Terus kapan jadinya?"
Aero berhenti mengunyah dan menaruh sendoknya di piring. "Aero udah gak pengen adek lagi, pengen buat sendiri malahan."
__ADS_1
"Umur kamu berapa? Mau nikah muda?"
"Umur segini udah siap nikah Pa. Papa udah siap punya cucu belum?" Aero menatap Rey seraya menyandarkan punggungnya.
"Papa masih muda, masak punya cucu?"
"Papa udah tua?" Kata-kata tua itu membuat Rey tak terima sehingga matanya pun membola menatap anak laki-lakinya.
Pinky membanting sendoknya ke piring. "Pinky udah kenyang mau ke kamar." Telinganya berdenging mendengar perdebatan tidak penting dari Papa dan Adiknya itu.
Dia mengunci pintunya dan ingin menelepon Arion. Mengabarkan kabar buruk dari permintaan Papanya. Dia tak tau harus bagaimana? Menerima hubungan hanya dengan lewat ponsel saja rasanya pasti sangat menyiksa.
Di kamar Rey, Kinan masih saja menekuk mukanya. Sudah pasti ini karena permintaannya tak diturutu oleh suaminya. Dia membaringkan tubuhnya dan Rey mengikutinya.
"Coba kamu bayangkan jadi Pinky sebentar aja!" ucap Kinan dengan memalingkan mukanya.
"Dari mereka kecil kan aku sudah bilang, jangan deketin anak Selena itu tapi malah nekat terus. Ya bukan salahku kalau kayak gini."
"Coba kamu jadi anaknya Selena?"
Rey memicingkan matanya, "Untuk anak gak usah coba-coba!"
"Gak nyambung."
__ADS_1