22.23

22.23
Kim?


__ADS_3

"Aku pulang sama dia aja Kak!" jawab Lisa lirih seraya melirik ke pacarnya. Mereka naik motor bersama. Aero yang tak terima akhirnya mengikuti mereka dari jauh.


Tangannya meremas-remas kemudi seperti tak rela dengan keputusan Lisa. Berjam-jam dia menyiapkan ini semua, gadis itu malah memilih bersama pacar yang di pikiran Aero mempunyai riwayat tekanan darah tinggi karena sering tak mampu mengontrol emosi.


Lisa berboncengan santai seolah tak mengetahui Aero yang terus mengikutinya sedari tadi. "Lis, aku pulang ke rumah bentar ya!" seru pacarnya. Lisa berdehem pasrah. Kenapa cowok itu tidak marah padanya? Padahal Aero tadi terang-terangan mengusik mereka.


"Masuk dulu Lis!" ajaknya.


"Aku tunggu di luar aja!"


"Ayo lah, di rumah tak ada orang kok! Jangan malu-malu!"


Cowok itu menarik tangan Lisa. Gadis itu setengah tidak mau menuruti. Aero memicingkan mata dan langsung ikut masuk ke dalam rumahnya secara mengendap-endap.


"Apa-apaan kamu? Lepasin gak?" teriak Lisa.


Pacarnya kini mencengkram kedua pipi Lisa. "Kamu cinta sama aku 'kan?"


"Ta-pi a-ku gak mau!" Gadis itu kesulitan untuk berbicara.


"Oh kamu jadi lebih milih mantan pacarmu tadi?"


Mendengar percakapan seperti itu Aero mempercepat langkah kakinya. Dia melihat Lisa mendorong kuat pacarnya. "Bicara apa kamu?" Tak butuh waktu lama cowok itu langsung membanting tubuh Lisa ke atas tempat tidurnya dan memaksa untuk membuka baju Lisa.


Mata Aero membola melihat Lisa tengah dipaksa untuk melayani nafsu bejat laki-laki yang cemburunya tingkat dewa itu. Tangannya mengepal dan siap untuk dilemparkan.


Dia menarik kerah baju laki-laki itu dan memukul wajahnya hingga tersungkur. "Beraninya sama cewek lo ya?" Aero memukul kembali sampai ujung bibir pacar Lisa mengeluarkan darah.


"Udah Kak!" Lisa menahan tangan Aero. "Ayo kita pergi dari sini!" Gadis itu menggandeng paksa Aero yang bersungut.


Mereka memasuki mobil bersama. Tanpa berpikir lama Aero langsung mengendalikan mobilnya. Disepanjang perjalanan Lisa hanya tertunduk lesu. Kejadian tadi membuat jantungnya berdegup tak karuan. Nyaris dia kehilangan mahkotanya.


"Dibilangin pulang sama gue, malah pulang sama cowok darah tinggian kayak gitu! Dibilangin putusin, tetap aja pacaran! Untung ada gue kalau gak ada gue, bisa-bisa gue dapat sisa cowok sialan itu." Aero masih saja merasa besar kepala seraya mengerutkan muka.


"Diem deh Kak! Aku lagi syok!" bentak Lisa.


"Besok gak usah kerja disitu lagi!" tegas Aero.

__ADS_1


Lisa mendengus kesal. Dia melirik Aero yang fokus menatap depan tanpa meliriknya. "Terus aku mau kerja dimana? Aku cuma lulusan SMA, aku gak jadi kuliah. Gak bisa bagi waktu."


Aero terkekeh geli. "Salah lo juga pilih kerja disitu, mulai besok kerja di tempat gue!" Lisa mengangguk pasrah. "Udah makan belum?" Gadis itu menggelengkan kepala. Aero mempercepat laju mobilnya dan berhenti di restoran Pinky.


"Makasih ya Kak udah nolongin aku tadi!"


Aero tersenyum penuh kemenangan. "Makanya lo pacaran sama gue, jangan sama dia!" Lisa mengernyit. "Tipe cowok lo kayak apa sih?"


"Yang nerima aku apa adanya," jawabnya lirih.


"Halah," Aero membuang muka. "Lo sebutin aja yang kayak gimana?"


Lisa menggeser-geser layar ponselnya. "Yang kayak gini! Kalau ada." Gadis itu menunjukan foto di ponselnya.


Aero mengerutkan kening menatapnya. "Oh Kim Jungkok."


"Kok Kim Jungkok. Joen Jungkook," teriak Lisa.


"Ya mana gue ngerti!" Dia melengos keluar. Lisa mendengus kesal. Rasanya juga percuma memberitahu cowok itu. "Lo army?" Gadis itu melirik tanpa menjawab. "Kalau gue blink," goda Aero.


"Udah ayo masuk dalam keburu malam!" Aero membanting pintu mobilnya dan mereka berjalan cepat menuju restoran.


Dia duduk dan memesan makanan di restoran Kakaknya itu. Lisa nampak begitu lahap memakan makanan yang tersedia di meja. Aero celingukan, mencari Arion dan Pinky.


Dia kini mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Arion.


Aero


Kakak ipar lo dimana?


Aero menaruh ponselnya dan meneruskan makan. "Lo itu cantik Lis, mending jadi model. Yakin deh jadi terkenal. Gimana?" ucap Aero seraya mengunyah makanan di mulut.


"Aku gak bisa dan aku gak suka. Jangan maksa dong Kak!" Lisa merengut kesal. Kenapa kerjaan itu saja yang ditawarkan Aero?


Tak selang lama ponsel Aero bergetar. Dia menaruh sendok dan membuka pesan.


^^^Arion^^^

__ADS_1


^^^Di restoran^^^


Aero mengerutkan dahi dan matanya berkeliling di seluruh sudut ruangan. Pasti Arion dan Kakaknya sedang di dalam.


-


-


-


-


Di dalam, Arion dan Pinky nampak bermesraan layaknya pengantin baru. Arion terus saja menciumi pipi wanita yang sudah satu tahun ini dinikahinya. Perasaan bahagia saling memiliki begitu tersirat di wajah mereka.


Arion memangku Pinky dan memeluknya erat dari belakang. "Aku yakin, kakimu akan segera sembuh dan kamu akan mampu berjalan kembali. Semangat dong!"


Pinky membelai lembut rambut Arion dan menyandarkan kepala di bahu suaminya itu. "Makasih kamu selalu ada buat aku."


Arion mencium pipi Pinky kembali. Gejolak jiwa mereka kembali memuncak. Arion merubah posisinya dengan menidurkan Pinky itu di sofa seraya menciumi lembut bibir indahnya.


Pinky memegangi pipi Arion untuk menghentikan sejenak aktivitas yang membuat jantungnya berdegup kencang itu. "Kita mau lakuin disini?"


"Kenapa tidak? Pintu sudah aku kunci dari tadi." Pinky mengangguk ragu. Wanita itu kembali terlena karena sentuhan bibir dan hidung mancung Arion di titik-titik sensitifnya. Menjambak lembut rambut Arion, yang membuat semakin memanas aktivitas mereka malam ini.


Tok tok tok


"Kak ... buka pintunya!"


Suara tak asing itu membuat Arion mengusap gusar wajahnya. Seketika buyar dan gagal semuanya. Dia membuka pintu dengan wajah ditekuk dan rambut yang berantakan.


"Dasar adik ipar kurang asem lo ya!"


"Kenapa lo?" Dia celingukan mencari Pinky. "Kak, keluar bentar!" Pinky juga merengut kesal.


"Rese lo ganggu aja!"


"Apa sih Yon? Kayak pengantin baru aja, gak tau tempat dan waktu."

__ADS_1


__ADS_2