
Arion mengendalikan motornya sangat kencang. Dia menyalip setiap kendaraan yang berusaha menghalanginya untuk pulang. Dia tak sabar ingin meminta Mamanya untuk menceritakan permasalahan apa yang membuat Rey sangat membencinya.
Sesampainya di rumah, Arion memarkir motornya asal. Dia berteriak-teriak memanggil Mamanya. Karena tidak ada sahutan dia berjalan cepat menaiki anak tangga. "Ma ... Mama."
Selena membuka pintu kamarnya, "Kamu kenapa teriak-teriak memanggil Mama?" tanya Selena dengan sedikit kesal ditambah melihat wajah Arion yang terus menerus ditekuk.
"Mama jelasin ke Arion! Sebenarnya apa permasalahan diantara Mama dan keluarga Pinky? Kenapa Papa Pinky begitu membenci Arion?"
Selena masih bingung dengan pertanyaan anaknya itu. "Pinky ...?" Dia berusaha mengingat nama itu lagi.
"Iya Pinky yang Arion ajak kesini dulu." Mulut Selena sedikit terbuka. Dia tak menyangka jika Pinky ternyata benar anak Kevin dan Kinan. "Ma jawab!" Arion terlihat sangat geram, Selena terlalu lama berdiam.
__ADS_1
Selena terdiam sejenak. "Arion ... Mama gak bisa cerita. Tapi pesan Mama jauhi dia!" Bukan , ini bukan jawaban. Arion tak menyukai itu.
Dahi Arion berkerut, "Jadi Mama gak mau memberitahu Arion?" Arion menekankan pertanyaan itu lagi. Tidak, Selena tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya. Itu terlalu berat baginya karena semua masalah dia lah penyebabnya. Tidak mungkin dia menceritakan keburukannya pada anaknya.
Selena berusaha menenangkan Arion dengan mengelus kepalanya lembut. "Mama gak mau jawab?" teriak Arion lagi. Sepertinya kesabaran anak laki-lakinya itu mulai habis.
"Mama gak bisa jawab. Mama hanya ingin kamu jauhi dia!"
Selena mengetuk-ngetuk pintunya namun tak ada sahutan dari anak laki-lakinya itu. Selena masih terdiam di depan pintu kamar Arion. Dia sangat malu jika mengingat semua perbuatannya dulu pada Rey dan Kinan. Penyesalan memang datangnya di belakang dan semua tak dapat diulang.
Arion kini membuka pintunya dengan membawa tas ranselnya. Wajah Selena sangat takut. "Arion kamu mau kemana sayang? Jangan tinggalkan Mama!" Selena dengan cepat menuruni anak tangga bersama Arion. Berusaha mencegah dan merayunya.
__ADS_1
Dia menghentikan langkahnya dan menatap Selena. "Arion mau tinggal di apartemen dulu. Arion lagi ingin sendiri. Tenang aja setelah tenang Arion bakal balik lagi kesini. Jaga diri Mama!" Arion kembali berjalan keluar rumahnya
"Ta-pi," Selena memegangi erat tangan Arion. Dia berusaha melepas cengkraman tangan Selena.
Arion berlari menuju motornya. Dia langsung memutar gasnya dan pergi dari rumah mewahnya. Selena terus menangisi kepergian anaknya. Walaupun dia tau dimana apartemen Arion berada. Rasanya wanita itu tak sanggup lama-lama berjauhan dengan anak semata wayangnya.
Arion terus mengendari motor kencang membelah jalanan yang ramai akan kendaraan. Ini tak adil baginya. Ini sangat menyakitkan.
Sesampai di apartemennya dia langsung melempar tas ranselnya dan membanting tubuhnya di tempat tidur mewahnya yang nyaman dan empuk. Arion memejamkan matanya. Kini tak tau apa yang akan dia lakukan. Menjauh dari wanita yang dicintai itu sangatlah berat.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Pinky meneleponnya. Oh tidak, apa yang akan dia lakukan? Membiarkan atau mengangkat teleponnya?
__ADS_1
Dia terus saja membiarkan ponselnya berdering. Satu, dua, tiga, empat panggilan dari Pinky tak mampu dia jawab.