
Sesampai di rumah Pinky masih termenung. Harusnya saat ini dia bisa menikmati malam indah bersama Arion. Harusnya saat ini dia bisa memeluk dan menggandeng tangan laki-laki itu. Ini sungguh di luar keinginannya.
Tidak seperti Pinky. Aero, dia sekarang bisa melepas rindu pada orangtuanya. Bercanda tawa dengan Rey dan Kinan seperti biasanya di ruang keluarga.
Pinky, dia langsung menaiki anak tangga di rumahnya. Saat ini dia hanya ingin menyendiri di kamar. Tak sabar menghubungi laki-laki yang kini pasti dirundung rasa kecewa juga.
Dia melempar tubuhnya di atas tempat tidur. Mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Arion. Namun, tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamarnya.
Pinky gugup dan langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal. Dia berjalan cepat membuka pintu kamarnya.
Kleeeek
"Mama ...."
"Kamu kenapa?" tanya Kinan pada anak perempuannya itu. Pinky hanya memberi senyum setengahnya dan mengelengkan kepalanya. "Boleh Mama masuk?"
Dia mengangguk dan mengunci rapat pintu kamarnya. Mereka kini duduk di tepi tempat tidur berdampingan. Kinan terus mengerutkan dahinya, dia tau ada yang disembunyikan oleh anaknya.
"Ma ...." Pinky seperti ragu untuk berbicara.
Kinan memegang tangannya, "Kenapa?" Pinky menunduk lalu mengangkat kepalanya kembali.
__ADS_1
"Ma-ma ingat gak, waktu Pinky sama Aero kecil dulu 'kan pernah berteman dengan seorang anak laki-laki bernama Arion." Kinan berusaha mengingatnya, dia belum bisa menjawab pertanyaan Pinky. Pinky berusaha mengingatkan kembali. "Yang Papa marah banget sampai mindahin sekolah aku dan Aero."
"Oh ... iya Mama ingat kenapa?"
"Mama tau gak alasan Papa benci Arion kenapa?"
Kinan berpikir untuk memberi alasan yang bisa diterima anaknya. "Yang Mama tau anak itu anaknya Selena. Te-teman Papa," ucapnya ragu di kata teman. Dia tak sanggup jika harus berkata jujur pada anak perempuannya itu jika Selena adalah mantan tunangan Papanya.
Pinky memicingkan matanya, "Lalu kenapa Papa sangat melarang kita berteman dengannya Ma? Bukannya malah bagus?"
Kinan kesulitan menelan salivanya. Dia menunduk berpikir keras mencari alasan yang lain. Tapi apa? Anaknya kini sudah besar. Apa perlu mereka tau hubungan antar kedua orang tua itu?
Ya, mereka harus sedikit tau. Kinan kini memandang mata anaknya. "Hubungan Papa dan temannya itu tidak terlalu baik sayang."
Kinan mengangguk, dia sebenarnya juga tak tau kenyataan yang Rey masih sembunyikan sampai saat ini. Kinan juga merasa kesal pada suaminya itu. Hanya masalah mantan pacar membuat anak-anaknya menjadi korban.
"Ma itu gak adil buat kami. Dia anak yang baik loh Ma."
Kinan mengelus lembut kepala anaknya. "Nanti Mama coba bicara sama Papa ya?" Pinky kini mampu tersenyum bahagia. Dia sangat berharap Papanya memperbolehkan dia dan Aero dekat dengan Arion. "Ya sudah istirahatlah!" Pinky mengangguk dan Kinan keluar dari kamarnya.
Pinky mengunci pintu kamarnya dan berlari menuju tempat tidur. Dia mengambil ponsel yang dia sembunyikannya tadi. Kali ini dia terlihat menempelkan ponselnya itu di telinga kirinya berusaha menelepon Arion namun tak ada jawaban sama sekali. Apa dia masih di jalan? Pinky mendengus kesal dan menenggelamkan wajahnya di bantal sampai tertidur.
__ADS_1
Dikamar lain, Kinan kini berusaha membujuk Rey. Pasangan yang tak lagi muda itu seperti tak ada matinya untuk memadu kasih. Rey memberikan ciuman bertubi-tubi pada wanita yang kini duduk di atas pangkuannya.
"Sayang ...."
Rey menjawabnya hanya dengan berdehem. Dia terlalu menikmati harum aroma tubuh istrinya itu.
"Kamu masih membenci Selena?"
Rey langsung menghentikan aktifitas yang sebenarnya sangat digemarinya. Dia mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu membahas wanita itu lagi?" ketusnya.
"Pinky tadi tanya, kenapa dulu kamu melarang mereka menjauhi anaknya. Ya aku bingung dong jawab apa?"
Rey mengernyit dan membuang mukanya. "Pokoknya aku gak mau mereka mendekati anak Selena itu. Titik."
Kinan menghela kasar napasnya. "Ya udahlah itu 'kan masalah kita. Lagian Selena juga gak ganggu kamu lagi. Biarlah mereka berteman!"
"Berteman kamu bilang? Mereka berteman lagi?" tanya Rey dengan suara lantang. Kinan langsung berdiri dari pangkuan laki-laki yang bersungut itu. Dia sangat tak nyaman.
"Aku gak tau. Pinky hanya bertanya."
"Jangan sampai mereka berteman! Atau aku akan membunuh anak Selena itu."
__ADS_1
"Hei ... kamu bicara apa?"