22.23

22.23
Pilihan


__ADS_3

Setelah dari restorannya, wanita berusia dua puluh tiga tahun itu pulang ke rumahnya. Dia tidak mau memusingkan bagaimana nasibnya. Berjalan santai dengan membawa koper menuju rumahnya. Jika Rey tak menerimanya, itu tak jadi masalah besar dibenaknya.


Dia membuka pintu saat Rey dan Kinan makan siang berdua di meja makan. Mereka saling melepas pandang. Rey berdiri disusul oleh Kinan.


"Apa aku boleh tinggal disini? Jika tidak boleh, aku akan tinggal di rumah Papaku." Ya, rumah yang dulu menumbuhkan cinta Kevin dan Kinan tak ada yang menempati. Pinky lah satu-satu pewaris rumah mewah itu.


Hati Rey seperti teriris mendengarnya. Apa Pinky sudah tak menganggapnya sebagai Ayahnya lagi?


Rey dan Kinan hanya terpaku. Rahang Rey seketika mengeras mendengarnya. Karena tidak ada jawaban, Pinky langsung kembali keluar rumah. Ini tidak bisa dibiarkan.


Rey memanggilnya, "Pinky ... maafkan Papa!" Anak itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Rey sudah berada di belakangnya, seketika mereka berpelukan. Pinky sebenarnya sangat merindukan Rey, sosok Papa yang selalu bisa menghibur dan menemaninya.


Pinky menitihkan air mata. Bagaimana jika Papanya tau dia telah memberikan mahkota berharga yang dia jaga dari kecil untuk Arion?


"Maafkan Pinky Pa ...!"


Kinan datang mengelus kepala anak perempuannya itu. "Papa gak akan jodohin kamu, kamu jangan pergi dari rumah lagi ya?" ucap Kinan seraya menatap suaminya agar mau mengakui kesalahan dan tidak mengulangi ide konyolnya.


Pinky tersenyum bahagia. Mungkin sebentar lagi hubungannya dengan Arion akan mendapat restu dari Rey.

__ADS_1


"Bener Pa?" Rey mengangguk. "Makasih Pa." Dia memeluk laki-laki itu kembali.


"Tapi Papa minta sama kamu, jangan pernah temui Arion!"


Deg


Tak dijodohkan tapi, tak boleh menemui Arion? Sama saja tak ada kebahagian. Pinky hanya termenung. Ini sangat sulit baginya.


"Bagaimana?" tanya Rey butuh jawaban dari Pinky untuk kepastian kedepannya.


Pinky mengangguk, yang terpenting adalah dia tak dijodohkan. Untuk urusan Arion dia bisa menemui diam-diam.


"Baiklah, Papa akan mengawasimu dua puluh empat jam."


Dia membanting tubuhnya diatas tempat tidur. Mengambil ponselnya dan menelepon laki-laki pujaan hatinya itu.


"Kenapa? Pasti dimarahi Papamu?"


Arion masih berada di apartemennya dan duduk di balkon seraya menatap pemandangan dari atas.

__ADS_1


"Ada kabar baik tapi juga ada kabar buruk." Pinky merubah posisinya menjadi tengkurap.


"Apa?" Arion bertanya penasaran.


"Papa gak jadi jodohin aku." Arion tersenyum bahagia. "Tapi Papa gak izinin aku ketemu kamu lagi. Dia mengawasiku dua puluh empat jam."


Wajah Arion berubah datar. "Ya udah, turuti apa kata Papamu!"


Pinky mengerutkan keningnya. Wanita itu kemudian duduk. "Kamu gak perjuangkan cinta kita?" Pinky mendengus kesal.


Tok tok tok


"Eh ada yang ngetuk pintu, aku matiin dulu. Nanti aku telepon lagi. i love you."


Pinky langsung menutup teleponnya dan membuka pintu kamarnya. "Mama ...."


"Apa Mama boleh masuk?" Pinky mengangguk. Mereka berjalan kemudian duduk di tepi tempat tidur.


Kinan memegang tangan Pinky. "Kali ini kamu turutin kemauan Papa ya! Mama tau ini berat, daripada kamu dijodohkan."

__ADS_1


Tak ada raut wajah bahagia di wajah Pinky. Dia tak menjawabnya karena belum mampu membayangkan jika jauh dari cowok itu. "Ma rayu Papa buat restuin aku dan Arion dong! Aku cinta sama dia. Dia itu cowok baik loh Ma."


Kinan menghembuskan napasnya. Dahinya berkerut memikirkan cara apa yang bisa merubah keputusan Rey. "Nanti Mama coba bicara sama Papa. Tapi Mama gak janji ya?" Pinky tersenyum dan memeluknya.


__ADS_2