
"Oke kalau kamu gak mau ngasih tau aku!" Arion tak begitu memusingkan hadiah itu. "Masuklah!"
Bola mata Pinky berkeliling. Rasa kagum terlukis di wajahnya. Suasana apartemen yang tenang, mewah dan nyaman. Dia mendekati jendela, semua juga nampak jelas dari atas sana. Ah, siapa yang tak betah untuk berlama-lama di dalam sini.
"Aku suka, apa suatu saat aku boleh tinggal disini?
Arion memicingkan matanya. "Tentu, sekarang pun boleh," ucapnya yang hanya untuk menggoda wanitanya itu.
"Kamu sangat tidak sabar." Arion terkekeh. Pinky duduk di sofa, dia menyandarkan kepalanya. "Arion aku sangat tersiksa di rumah. Bahkan keluar rumah pun gak boleh sama Papa."
Arion duduk mendekatinya. "Lalu bagaimana kamu bisa keluar sekarang?"
"Aku pura-pura restoran ada masalah. Aku sangat merindukanmu!" Sorot matanya penuh dengan kerinduan. Pinky langsung memeluk laki-laki yang duduk di sampingnya.
"Jangan terus-terusan membohongi Papamu!" Pinky melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemberut. Dia bersedekap seraya membuang mukanya.
"Kamu gak tau rasanya jadi aku," gerutunya. Arion menarik hidung Pinky.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Pinky mengambil dari dalam tasnya. Matanya membulat saat tau yang meneleponnya adalah Rey.
"Papa ...." Dia mendengus kesal.
"Angkatlah!" seru Arion.
Pinky menatap laki-laki itu dan mengangguk. Lalu menempelkan ponsel itu pada telinganya.
__ADS_1
Dia hanya terdengar berdehem tanpa banyak kata. Lalu menaruh kembali lagi ponselnya dalam tas. "Papa menyuruhku pulang." Dia menunduk kecewa rasanya belum puas untuk menumpahkan rasa rindu yang tertahan.
"Pulanglah! Nanti Papamu marah."
Pinky berdiri dan mengambil tasnya. "Aku akan kesini besok malam," ucapnya seraya berjalan menggandeng tangan Arion.
Arion mengerutkan keningnya. "Malam-malam keluar nanti Papamu marah."
Pinky menggelengkan kepalanya. "Pokoknya aku akan kesini. Kamu harus ada di apartemen ini jangan keluar!" tegasnya. Arion tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Jangan lupa bawa kue ulang tahun, balon sama badutnya!" Arion tertawa seraya membuang mukanya.
Pinky mengernyit, "Gak lucu. Ya udah aku pulang!"
Cuuup
Pinky terlihat nampak sangat bahagia. Dia terus menarik garis lengkung bibirnya diperjalan pulang bahkan sampai rumah. Langkahnya dia perlambat saat melihat mobil yang asing di matanya terparkir di halaman rumahnya.
"Mobil siapa?" gumamnya.
Dia kemudian masuk dalam rumah. Nampak jelas Rey dan Kinan sedang duduk di ruang tamu bersama seorang laki-laki muda. Mereka tersenyum pada Pinky.
"Kemarilah sayang!" seru Rey. Pinky berjalan mendekatinya. "Kenalin ini Elang!" Laki-laki itu mengulurkan tangan pada Pinky seraya menatapnya tajam setajam tatapan mata burung yang seperti namanya.
"Kamu bisa mengenalnya lebih dekat," ucap Rey. Pinky mengernyit. Apa maksud Papanya itu?
__ADS_1
"Pinky ke kamar dulu Pa!" Dia seperti tak menghiraukan ucapan Rey dan langsung berjalan cepat menaiki anak tangga rumahnya. Rey memanggil-manggilnya beberapa kali namun Pinky pura-pura tak mendengar.
Di dalam kamar dia sibuk mengirim pesan pada laki-laki pujaan hatinya. Dia tengkurap seraya memiringkan kepalanya tersenyum menunggu Arion membalas pesannya.
Tok tok tok
Dengan tiba-tiba Rey masuk kamarnya. Pinky terlonjak dan menyembunyikan ponselnya. "Papa ...."
"Pinky apa kamu tidak bisa lebih sopan bersikap saat ada tamu?" Pinky merasa bingung.
"Memang Pinky tadi kenapa?"
"Elang itu jauh-jauh kesini ingin bertemu denganmu tapi kamu malah mendekam di dalam kamar."
Tunggu apa maksud Papanya? Apa jangan-jangan ...? Tidak, ini tidak mungkin.
Pertanyaan konyol terus keluar dari otak Pinky. Dia terdiam menatap nanar Rey. "Kamu kenalan dulu sama dia! Mungkin saja kalian berjodoh."
"Apa? Mama ... Papa mau menjodohkanku dengan laki-laki tadi?" tanya Pinky dengan intonasi nada tinggi.
Pinky menggelengkan kepalanya. Bagaimana Rey bisa berpikiran menjodohkan Pinky pada laki-laki lain. Dikira ini jaman Siti Nurbaya?
Kinan hanya menunduk terdiam. "Mama juga gak tau pikiran Papamu."
"Hei ... Papa cuma ingin kamu mendapatkan laki-laki yang tepat," sungutnya.
__ADS_1
"Apa jamannya Papa dulu juga begitu? Papa dijodoh-jodohkan oleh Kakek?" Rey memundurkan kepalanya. Ya jelas saja tidak. Mana mungkin seorang Reyhan Winata mau. Laki-laki seribu mantan pacar itu terdiam tak mampu menjawab. "Pokoknya Pinky gak mau. Pinky mau istirahat."
Kinan mengajak Rey keluar kamar Pinky dengan menarik tangannya. Dia terus saja menggerutu tak jelas. Hanya untuk menjauhkan anaknya dari Arion dia rela menjodohkan anaknya dengan laki-laki tak dikenal.