
Sudah tiga hari ini Pinky keluar dari rumah sakit. Tak banyak yang dia lakukan di dalam rumah, hanya duduk di kursi roda seraya menatap layar laptopnya. Keadaannya yang sekarang tak memungkinkan untuk setiap hari datang ke restorannya. Ini akan menyulitkannya, juga akan menyusahkan orang disekitarnya.
Tok tok tok
Asisten rumah tangganya membukakan pintu itu. Mata Pinky terbalak saat mengetahui Arion tiba-tiba datang ke rumahnya. Bagaimana jika Papanya tau? Bagaimana jika Papanya marah? Dia gugup, tangannya terasa dingin. Sedangkan Arion dia masih tersenyum manis tepat di pintu rumahnya seolah-olah bisa memastikan tak akan terjadi apa-apa padanya.
"Ma-u apa kamu kesini? Papa pasti ...." Dia tak sanggup meneruskan ucapannya karena suara langkah kaki Rey mendekatinya.
Pinky menoleh ke belakang, Mama dan Adiknya pun ikut mendekatinya. Sedangkan Arion, dia masuk begitu saja walaupun tanpa disuruh.
"Aku kesini ingin menikahimu," teriak Arion. Suaranya menggema disetiap sudut rumah.
Pinky gugup tak karuan, "Papa, jangan pukul Arion lagi!" Mata Pinky berkaca-kaca seraya memegangi tangan Rey.
__ADS_1
Rey terkekeh mendengarnya. "Siapa yang akan memukulnya?" Dahi Pinky berkerut.
"Aero ... bawa Arion pergi dari rumah ini sebelum Papa marah!"
Aero mendekatinya. "Arion kesini mau menikahimu Kak, apa tidak kasian padanya?"
"Aero kamu bicara apa?" Pinky memegang kembali tangan Papanya berusaha menahan amarah Rey pada Arion.
Rey berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Pinky. Dia mengelus kepala anak perempuannya itu lembut. "Papa merestui kalian." Satu kalimat yang menjadi penyejuk di hati Pinky. Dia meneteskan air matanya, "Sudah, jangan menangis! Maafkan Papa yang dulu ya! Papa egois. Papa jahat. Papa ...."
"Papa akan tetap menyayangimu sampai kapan pun. Bagi Papa kamu bukanlah anak sambung Papa. Bagi Papa kamu adalah anak kandung Papa. Papa sangat berterima kasih padamu, karena kamu yang mampu menyatukan cinta Papa dan Mama. Tanpa kehadiranmu, mungkin Papa dan Mama tak akan bisa seperti ini." Rey berhenti sejenak menghirup oksigen yang seperti semakin sedikit di dalam dadanya.
"Papa tau rasanya sakit, mencintai tanpa bisa memiliki. Papa dulu bahkan sok kuat menahannya." Rey meneteskan air matanya, kemudian menatap ke arah Arion. "Arion kemarilah!"
__ADS_1
Arion berjalan pelan mendekati Ayah dan anak itu. Dia ikut mensejajarkan tubuhnya dengan Pinky. Rey menyatukan tangan Arion dan Pinky. "Papa gak mau menjadi penghalang kalian lagi."
Mata Arion berkaca-kaca mendengarnya. "Maafkan Ayah dan Ibuku!"
"Cukup Arion! Itu bukan kesalahanmu. Yang terpenting sekarang, bahagiakan Pinky! Aku percaya padamu! Hanya kamu laki-laki yang bisa merebut hatinya sejak kecil." Rey mengelus kepala Pinky.
"Maafkan aku yang sudah menyalahkanmu selama ini! Memang seorang anak tak mampu memilih siapa orang tuanya. Tapi aku tersentuh ucapanmu, saat kamu bisa memilih, kamu akan memilihku sebagai orang tuamu."
Arion menunduk malu seraya menarik garis lengkung bibirnya. Kinan memeluk Pinky. Aero pun ikut memeluknya.
"Jadi kapan kamu akan menikahi anakku?"
"Papa, kenapa terlalu terburu-buru?" sahut Pinky. Dia kemudian menatap Arion. "Arion, apa kamu tau kenyataan sebenarnya. Kakiku ...."
__ADS_1
"Sssstttt," Arion menyentuh bibir Pinky dengan jari telunjuknya. "Aku tau, dan aku akan tetap mencintaimu."
"Tapi ... kamu gak malu." Arion menggelengkan kepalanya. Pinky terharu dan langsung memeluknya.