22.23

22.23
Bangunan


__ADS_3

Tanpa banyak bertanya Lisa mengukuti ajakan Aero. Menaiki taksi yang lewat di depan mereka berdiri saat ini. Kali ini Aero mengajak cewek itu ke salon. Apa salon?


Baru kali ini cowok itu mau menginjakan kakinya lagi ke salon perempuan di tambah dia mau menunggu aktifitas yang menurutnya sangat tak berfaedah itu sampai selesai. Ya, bagi Aero harusnya aktifitas menyiksa ini sangatlah dia hindari. Mungkin ini berlaku bukan hanya untuk dirinya tapi semua cowok juga.


Satu jam, dua jam, tiga jam.


Kapan selesainya? Tubuhnya terpaku di sofa empuk berwarna ungu itu. Ingin rasanya dia pergi, namun takut cewek yang dia asal tembak tadi kabur begitu saja darinya.


Tak ada hiburan, hanya melihat wanita keluar masuk secara bergantian. Ponsel yang menjadi andalan pun sudah tak karuan. Mati gaya. Dia hanya menyandarkan kepalanya yang mulai agak berat ke sandaran sofa dan matanya pun pelan-pelan terpejam.


"Mas tamvan Aero bangunan ... bangunan!" Suara seorang laki-laki menepuk pelan bahunya. Dia terlonjak, matanya terbelalak. "Ngantuka tunggal ika ya cin?" Laki-laki lentik dengan pakaian wanita bernama Bella itu mencolek dagu Aero.


"Woi ... Belasungkawa lo sekarang berani nyentuh gue?" Aero mengusap-usap dagunya. Keningnya berkerut memandangi laki-laki lentik di depannya.


"Ih galaksi ...." Bella mencebikkan bibirnya. Mereka sudah saling mengenal satu tahun lalu saat Aero mengantar mantan pacarnya di salon ini.


"Ngomong apa lo? Mana Lisa? Lama banget lo dandanin gitu aja. Sampai ubanan rambutan gue."


Bella terkekeh malu, "Nih ...." Dia menarik tangan Lisa yang berada di belakangnya. Mata Aero berbinar. Cewek itu terlihat sangat berbeda.

__ADS_1


Cantik


Satu kata yang ada dalam hati. Berbeda dengan yang tadi. Kali ini Bella mendandaninya dengan make up natural, memakaikan off shoulder dress dimana bagian lengan atasnya terbuka dipadukan dengan flats yang stylist. Bella tau Aero tak suka cewek yang berdandan terlalu berlebihan.


"Kerja bagus." Aero mengambil dompet di saku celana belakangnya dan memberikan Bella berlembar-lembar uang berwarna merah.


"Tararengkyu. Sebelanda kanua kaburiang bolelang akika cumi?" Bella ingin mencium Aero, dia memajukan bibirnya ke Aero dan memejamkan matanya.


Aero memundurkan kepalanya, wajahnya mengernyit. "Ih ... gilingan lo yah?" Cowok itu langsung berlari menarik Lisa keluar salon.


Aero memberhentikan taksi yang lewat dan mereka masuk ke dalamnya. "Apaan sih Kak, aku didandanin kayak gini segala?"


"Hah?"


Sopir taksi itu mengernyit mendengarkan ucapan Aero. Dia terus memandangi sinis Aero dan Lisa dari spion dalam mobilnya.


"Inget ya lo harus jadi pacar gue! Nanti kalau mereka bertiga datang, lo harus maki-maki mereka. Pokoknya semakin mereka cepat pergi ninggalin gue, semakin cepat juga lo bisa terhindar dari gue. Ngerti!"


"Ah kalau itu gampang. Tapi pekerjaan apa yang kamu kasih ke aku?"

__ADS_1


Aero menatapnya tanpa berkedip. Lisa sangat risih melihat tatapan itu. Dia menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua lengan tangannya.


"Kamu jadi model mau gak?"


"Hah?" Lisa kaget dengan tawaran pekerjaan yang tidak ada dalam daftar cita-citanya itu.


Tapi, menurut Aero tubuh Lisa lumayan bagus. Tinggi dan berat badannya pas. Setelah sedikit perawatan wajahnya terlihat cantik. Mungkin jika ditambah beberapa kali perawatan lagi dia akan berubah sangat cantik.


"Temen gue banyak yang jadi model, kalau lo mau gue kenalin," jawab Aero dengan memiringkan kepalanya.


"Aku takut ...."


Aero memautkan alisnya. "Takut di anu?" Mata Lisa terbelalak. "Tenang aja, itu tergantung dari lo juga mau di anu apa gak?"


"Eh," Lisa membuang pandangannya ke luar.


Mereka terdiam sepanjang perjalanan. Aero mengajak Lisa ke restoran Pinky karena mobilnya tertinggal disana. Taksi itu berhenti tepat di depan mobil Aero, dia melihat mobil tiga wanita itu masih saja terparkir rapi di dekat mobilnya.


Aero berdengus kesal. Mengapa tiga wanita itu sampai detik ini masih menunggunya? Bahkan Rose yang tau Aero tak berada di restoran itu pun tak mau kalah menunggu mobilnya bak tukang parkir.

__ADS_1


"Ingat ya tugas lo apa?" tegas Aero pada Lisa. Cewek itu mengangguk. Mereka keluar dari taksi dan berjalan bergandengan menuju pintu restoran.


__ADS_2