
"Iya ... pelan-pelan sayang!"
"Terus lagi, ayo!"
"Sedikit lagi!
"Ya ... ya!"
Bruk
"Ahk ... pegangin jangan di lepas!" rengek Pinky pada Arion seraya memukul pelan dadanya.
Mungkin itu terdengar seperti dua anak manusia yang sedang memadu cinta. Tapi, jangan salah! Arion lagi membantu Pinky berjalan tanpa alat bantuan di apartemennya. Perlahan namun pasti. Sudah dua bulan ini banyak perubahan dalam dirinya. Mampu berdiri dan menggerakkan beberapa langkah kakinya.
"Kamu ingin cepat bisa jalan gak?" Pinky mengangguk. "Ya udah ayo lagi!"
Mereka terus dan terus berlatih. Rasa ingin mempunyai bayi menjadi penyemangat tersendiri dalam diri Pinky. Karena dia tak mau hamil dalam keadaan seperti ini. Ujungnya Arion lagi yang kesusahan mengurusnya. Walaupun laki-laki itu tak pernah mengeluh sedikit pun dengan keadaannya.
Hari berjalan begitu cepat, bulan ketiga ini Pinky sudah mampu berjalan kembali. Kebahagian Arion semakin bertambah saat mengetahui istrinya itu sering muntah-muntah dan merasa sakit kepala.
"Aku ingin jalan-jalan naik motormu? Bukankah kamu sudah berjanji padaku?" Pinky menagih semua janji yang menjadi semangat dia untuk bisa berjalan.
Arion menggelengkan kepala. "Gak boleh!"
Pinky duduk di sofa apartemen Arion seraya memijat keningnya. Rasa sakit kepalanya itu selalu muncul dan hilang tiba-tiba.
"Kenapa?" dengusnya. Perasaan wanita mana yang tak geram jika janji laki-lakinya tak dipenuhi.
__ADS_1
"Kita ke dokter dulu ya?" usul Arion.
Pinky menggelengkan kepala, dia merasa sudah mampu berjalan walaupun pelan. Lalu apa yang harus diperiksa?
"Sudah ayo!" Laki-laki berhidung mancung itu memaksa untuk memenuhi keinginannya. Pinky mendengus kesal. Baginya suaminya itu berlebihan.
"Aku gak mau!" teriak wanita yang kini membaringkan tubuhnya di sofa. Rasa sakit kepalanya semakin kuat rasanya. "Ambilkan paracetamol?"
"Enggak."
Pinky memukul-mukul dada Arion. "Kamu itu apa-apaan? Kepalaku sakit!"
"Makanya ke dokter, jangan main minum obat sembarangan!"
"Sembarangan gimana?" Pinky semakin mengaduh seraya menenggelamkan wajahnya.
Pinky mengerutkan dahi. "Tespack?" Arion mengangguk. "Tunggu! Kamu pikir aku hamil? Bukankah selama ini saat kita berhubungan kamu selalu pakai pengaman?" tanya Pinky dengan wajah geram. Dia langsung duduk dan menatap tajam suaminya.
"Du-lu aku pernah kelepasan lupa gak pakai pengaman." Arion merasa gugup.
"Dulu kapan?"
"Saat kamu tertidur dan tak sadar. Sudahlah, semua 'kan sudah terjadi. Lagian kamu udah bisa jalan. Ayo sana cek dulu!" Arion menarik tangan Pinky.
"Tunggu! Kamu sengaja 'kan?"
Arion menggaruk-garuk kepalanya. "Em ...."
__ADS_1
"Iya," gertak Pinky. Wanita itu memukul-mukul kembali dada Arion. "Nyebelin banget, gimana kalau saat aku hamil belum bisa jalan? Dan tespack itu kapan juga kamu membelinya?"
"Ini?" Arion menunjuk benda itu. "Ini aku beli saat kamu berkurang ***** makannya. Ya buat jaga-jaga sih."
"Terus kapan kamu penuhi janjimu ngajak aku naik motor?" Pinky masih saja belum terima.
Arion berlutut dan mencium tangannya. "Nanti ya! Kalau anak kita udah lahir."
Pinky menggelengkan kepala. "Bagaimana kamu yakin aku hamil, aku aja belum tes?"
"Aku 'kan Ayahnya ya batinku peka dong!" Arion terkekeh kecil seraya membuang muka. Pinky mengernyit, baginya Arion berkhayal terlalu tinggi. "Ya udah sana tes dulu! Mau aku bantuin gak?" godanya.
"Ih ... gak usah!" Arion tertawa lebar mendengarnya.
Pinky masuk kamar mandi, Arion yang tak sabar menanti terus saja mengetuk-ngetuk pelan pintu. Tak lama kemudian Pinky membukanya dengan raut wajah ditekuk.
"Gak sabaran banget!"
"Jadi gimana? Positif 'kan?" Dengan yakin Arion melempar pertanyaan itu. Pinky menggelengkan kepala pelan. "Yah ...." Laki-laki itu merasa gagal.
"Tapi bohong!" teriak Pinky dengan ketawa lebar. Arion masih bingung, dahinya berkerut dalam, matanya memicing tajam. "Aku hamil ...."
Seketika matanya membulat, mulutnya ternganga lebar, jantungnya pun ikut berdegup kencang. "Beneran?" Pinky mengangguk dengan antusias. Arion langsung memeluknya erat. "Kamu membohongiku hah? Mulai berani ya?"
Pinky mendorongnya pelan. "Kamu juga bohongi aku!" Wanita itu merengut kesal. Bibirnya mengerucut. Belum juga bersenang-senang keliling kota dengan berboncengan sudah hamil duluan.
"Maaf!"
__ADS_1
"Ih," Pinky memeluk Arion kembali. "Kita harus kasih kabar bahagia ini sama Mama dan Papa pasti mereka bahagia." Arion mengangguk dan membopong istrinya itu ke tempat tidur.