22.23

22.23
Aku Masih Mencintaimu


__ADS_3

"Papa tanya dokter dulu ya! Kamu tunggu disini sendiri gak apa-apa? Mama soalnya lagi ke kantin rumah sakit." Pinky tak menjawab, dia hanya terdiam dan menunduk. Di otaknya dipenuhi ucapan Azka yang sulit dia hilangkan. Perasaannya hancur, dia masih merasa menjadi orang yang tak berguna.


Rey meninggalkannya. Pinky mengambil jaket Rey yang berada di sofa. Dia memakainya dan berusaha sekuat tenaga lagi mendorong kursi rodanya dengan kedua tangannya keluar rumah sakit mengendap-endap. Mau kemana dia?


Dengan wajah yang masih pucat dan menahan tangan yang bergemetar dia dapat keluar dari rumah sakit itu. Pinky tak menghiraukan tatapan sinis orang-orang yang lewat dan membicarakannya. Dia mendorong dan terus mendorong kursi rodanya di siang yang terik ini.


"Papa ...." teriaknya untuk Kevin. Sudut matanya mengeluarkan air mata kembali. "Aku gak sanggup." Dia menghapus air matanya dengan lengannya karena menghalangi penglihatannya.


Berputar, roda dikursi itu terus berputar, sampai dia menemukan jembatan panjang dan Pinky menghentikan tangannya untuk mendorong kursi rodanya. Tepat ditengah jembatan itu dia turun dari kursi roda. Berjalan mengesot ke arah bibir jembatan dengan tangannya.


Pinky menatap ke arah bawah jembatan. Arus sungai yang kencang membuatnya semakin kesulitan untuk menelan salivanya. Dia menggelengkan kepalanya.


"Papa aku ingin menyusulmu." Dia menghapus isak tangisnya dan mencoba berdiri dengan tangan yang berpegangan dan menyangga tubuhnya pada penghalang jembatan itu.


Dari arah yang berlawanan Arion tak sengaja melintas dan melihatnya. Awalnya dia tak mengetahui siapa wanita itu. Yang dipikirannya wanita itu pasti akan bunuh diri disana.


Arion langsung menyebrang jalan dan menghampirinya. "Woi ... berhenti!" Dia memarkir asal motornya, membuka helm dan berlari ke arahnya.


Arion menangkap tubuh Pinky yang hampir terjatuh ke bawah. Mata mereka terbelalak. Ini seperti kebetulan atau memang sudah menjadi skenario Tuhan untuk mereka.


"Ka-mu ...." Arion seperti kesusahan untuk mengeluarkan kata demi kata.


"Minggir, kamu jangan menghalangiku!" Pinky mendorong tubuh Arion dan kembali mencoba menjatuhkan tubuhnya ke bawah sana.


"Kamu sudah gila?" teriak Arion dengan masih menyangga tubuh Pinky.

__ADS_1


"Aku mau menyusul Papaku."


"Papamu tidak ada dibawah sana. Yang ada buaya yang akan mencabik-cabik tubuhmu," tegas Arion dengan melototkan matanya.


"Aku tidak peduli itu, aku lebih baik mati." Pinky terus mendorong dada Arion, namun percuma tenaganya sudah tak ada.


"Dimana pikiranmu?"


"Untuk apa kamu peduli padaku? Bukankah kamu sudah pergi?" Pinky meneteskan air matanya.


Arion terdiam tak mampu menjawab. Rasa gengsi seperti masih bersarang di dalam dadanya. "Aku ... aku pergi karena kamu sudah punya laki-laki lain 'kan?"


Pinky perlahan-lahan duduk ke bawah. "Laki-laki itu tidak ikhlas menerimaku." Dia tertunduk menangis kembali.


"Ya udah, ayo aku antar ke rumah sakit lagi. Kamu pasti kabur 'kan?" Arion melihat baju pasien itu masih melekat di tubuh Pinky, wajahnya pun masih terlihat pucat. "Ayo aku bantu berdiri!" Dia melingkarkan tangan Pinky ke lehernya dan berdiri memapahnya.


Arion tak tau kenyataan yang sebenarnya. Dia memaksa Pinky berjalan namun terus wanita itu terjatuh. "Kamu gak mau jalan? Kamu masih ingin disini hem?" Dia memiringkan kepalanya dan menghapus air mata wanita didepannya. "Jangan nangis terus! Aku antar, berdirilah!"


Pinky terus menggelengkan kepalanya. Arion mengerutkan dahi. "Pergilah! Tinggalkan aku sendiri!" ucap Pinky lirih.


Arion memberi senyum setengahnya. Tidak, ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Semua hanya akan menyiksa perasaan. "Aku masih mencintaimu," ucap Arion dengan menatap mata sayu didepannya.


Deg


Jantung Pinky terasa berhenti. Dia terdiam. Tidak, ini tidak mungkin. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku yakin kamu akan berhenti mencintaiku, saat kamu tau kenyataan yang sebenarnya."

__ADS_1


"Kenyataan kamu sudah tak suci lagi?" Arion mengangkat kedua alisnya.


"Kamu masih ingat, dulu kamu bilang kaki indah?" Arion mengangguk dan mencebikkan bibirnya. "Sekarang gak lagi."


Arion terkekeh dengan memegangi dahinya. Dia kemudian menatap kaki wanita itu. Tidak ada apa-apa, masih indah seperti dulu.


"Aku sudah tak mampu berjalan lagi, aku lumpuh."


Hati Arion seperti tersayat sembilu mendengarnya. Dia menatap mata yang tak henti mengeluarkan bulir-bulirnya itu. Apa Pinky bercanda? Tapi Arion tak menatap kebohongan didalam sorot matanya.


"Bercandaanmu gak lucu." Dia kemudian menatap aliran deras air sungai dibawah sana.


Tin tin tin


Tiba-tiba Aero datang dengan mobilnya. Raut wajahnya cemas, dia membanting pintu mobil dan berjalan cepat ke arah Kakaknya.


"Kak, kami bingung nyari kemana-mana, malah Kakak berduaan disini dengan Arion. Ayo pulang Kak!" Pinky mengangguk. Aero melipat kursi roda Pinky dan memasukkannya kedalam mobil. Dia kemudian membopong Pinky.


"Tunggu!" Arion ingin memastikan ucapan Pinky bohong.


Aero menghentikan langkahnya. "Apa Yon?"


"Ka-mu ...?"


"Ayo Ro, kita pulang!" Pinky memotong pertanyaan Arion. Aero mengangguk dan memasukkan Pinky ke mobilnya. Arion menghadang Aero sebelum dia menjelaskan kenyataan yang sebenarnya. "Ayo!" teriak Pinky. Aero akhirnya menurut pada Kakaknya. memutari mobilnya dan pergi meninggalkan Arion sendiri.

__ADS_1


__ADS_2