22.23

22.23
Pacaran


__ADS_3

Di restoran Aero masih gencar mendekati Lisa. Kabar kehamilan Kakaknya membuat Aero semakin menjadi bahan ledekan Arion. Status jomlo Aero sekian tahun menambah membuatnya semakin terpuruk.


"Jadi gimana Lis? Lo mau gak jadi pacar gue?" Tiga bulan ini Aero terus melempar pertanyaan pada gadis yang dia taksir sejak dulu. Namun, selalu saja dia menolaknya. Lisa menggelengkan kepala. "Katakan gue itu kurang apa? Tipe cowok lo kayak gimana? Apa gue perlu jadi Park Jungkok?"


"Jangan ngawur terus deh Kak! Siapa juga Park Jungkok?" Lisa mendengus kesal. Mereka terdiam saling memandang. "Kak kamu itu sempurna, gak ada kurangnya. Siapa wanita yang mau menolakmu?"


"Ya lo yang nolak gue," sindirnya tajam.


Lisa menundukan pandangannya. "Kamu 'kan bisa dapatin yang lebih dari aku Kak? Aku hanya ...."


"Pokoknya gue sukanya sama lo, jadi gak usah jodohin sama wanita lain! Maksud lo apa?" Wajahnya sangat tak mengenakan untuk dipandang. Lisa pun menjadi setengah ketakutan.


"Jawab aja, mau apa gak? Kalau gak, mulai sekarang gue gak akan ngejar lo lagi. Capek gue kayak gini terus. Mending gue main perempuan aja!" Aero berdiri menggeser kursinya ke belakang keras sehingga membuat Lisa terlonjak.


Gadis itu memegang tangannya. "Jangan Kak! Nanti Papamu marah!"


"Biarin, dia dulu juga gitu kok!" Aero tau itu semua dari cerita Kakeknya. Bukannya dibuat pelajaran malah anak laki-laki itu ingin menurun sifat buruk Papanya dulu.


"Kak ...."


"Apa?"


"Aku mau," jawab lirih hampir tak bersuara.


Aero menyunggingkan bibirnya. "Gue gak maksa lo ya? Lo beneran 'kan nerima gue Lis?" Ancaman tak bermutunya membuat pertahanan gadis itu itu luluh juga.


Lisa mengangguk. "Tapi kamu jangan maksa lagi ya Kak kalau minta apa-apa! Aku gak suka cowok manja."


Baru saja bahagia, Aero merasa tertampar dengan ucapan Lisa. Dia berdecak sebal. Kemudian duduk kembali.


"Lis ...!"


Gadis itu berdehem dan menatapnya. "Kalau kita dalam waktu dekat menikah gimana?" tanya Aero dengan sangat percaya diri.


Mata Lisa membola mendengarnya. "Kak kita itu baru beberapa menit pacaran. Sekarang kamu ingin buru-buru nikah?"


Menurut Lisa, cowok yang menembaknya kini tengah mempermainkannya.


"Ya gak apa-apa, kita itu udah kenal lama juga. Gue diledekin jomlo gak kawin-kawin sukanya ngintipin nih. Padahal gue 'kan gak ngintip. Hanya kebetulan aja."


"Jadi cuma karena itu kamu ngajak aku nikah Kak?" Lisa merasa benar-benar dipermainkan perasaannya.

__ADS_1


Aero memegang kedua tangan Lisa. "Ya gak juga, gue beneran cinta sama lo. Kalau gak, ya gak bakal gue ajak nikah."


"Jadi kamu tuh ngajak pacaran apa nikah sih Kak?"


"Nikah aja gimana?"


Lisa mengernyit. "Tapi aku masih ingin kuliah."


"Nanti gue kuliahin, tenang aja gue gak cepet-cepet hamilin lo!"


"Ih," Lisa menggedikkan bahu geli mendengarnya.


"Gue anterin pulang ya?" Lisa mengangguk. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu restoran. "Sini gue gandeng! Kita 'kan udah pacaran."Tanpa berpikir panjang dan persetujuan cowok itu langsung menggenggam erat tangan Lisa.


Pipi gadis itu berubah menjadi merah jambu. Dalam hatinya tak menyangka, Aero bisa romantis juga walaupun hanya diajak bergandengan.


Sesampai tempat parkir, Aero membukakan pintu mobilnya untuk Lisa. "Makasih ya Kak!"


Aero tersenyum seraya mengangguk. Lalu dia berlari kecil mengitari mobilnya.


Mobilnya berhenti sesampainya di tempat kos Lisa. Aero membantu melepaskan sabuk pengaman gadis itu seraya terus memandangi manik mata indahnya.


"Makasih ya udah mau jadi pacar gue." Aero mengambil kedua tangan Lisa. "Gue serius kok, bentar lagi gue bakal lamar lo."


Aero tersenyum lebar seraya mengigit bibir bawahnya. "Aku cinta kamu Lisa."


Mata Lisa membola mendengarnya. "Kok gak lo gue lagi Kak?"


"Gak deh, aku kamu aja!"


Lisa meremas tangan. "Aku juga cinta kamu Kak."


Cowok itu mencium tangan Lisa. "Boleh minta cium bibir kamu gak, bentar aja!" Wajah Lisa berubah mengkerut mendengarnya. Aero yang mengetahui ekspresi gadis yang kini menjadi pacarnya seperti tak menyukai permintaannya langsung menyangkalnya. "Canda cium, he he he. Sana masuk!"


"Makasih ya Kak, kamu udah sabar!"


Aero mengangguk. "Aku sabar kok sampai waktunya tiba. Kalau udah gak kuat paling 501 aja."


"Apa itu 501?" tanya Lisa dengan mengerutkan dahi.


"Gak apa-apa," jawab Aero dengan cengengesan.

__ADS_1


"Ya udah aku masuk ya Kak. Hati-hati di jalan!" Lisa membuka pintu mobil Aero dan melambaikan tangannya.


Sebelum Aero beranjak dari tempat itu dia mengambil ponsel di saku celananya dan berniat memamerkan status dirinya yang kini tidak jomlo lagi pada Kakak iparnya.


Aero


Yon, cinta gue diterima Lisa dong. Bentar lagi gue bakal ngasih lo ponakan gak pakai lama kayak lo.


Aero tertawa geli menatap ponselnya. Tak selang lama Arion membalas pesannya.


^^^Arion^^^


^^^Lo baru pacaran aja udah songong. Yakin deh Lisa nerima lo karena paksaan. Lo 'kan oranya suka maksa.^^^


Aero


Gak ya, gue orangnya 'kan sukanya dimanja. Bukan dipaksa.


^^^Arion^^^


^^^Realitanya lo itu anak manja yang suka memaksa.. Gue tunggu ponakannya. Tapi ingat nikah dulu!^^^


Aero


Lo ngomong kayak gitu di depan kaca dong Yon. Mendadak lupa ya!


^^^Arion^^^


^^^Adik ipar kurang asem lo. Dulu itu khilaf. Makanya gue nasehatin elo sebagai Kakak yang baik, lo jangan kayak gitu!^^^


Aero


Gue tuh polos Yon gak agresif kayak lo.


^^^Arion^^^


^^^Polos apaan? Koleksi film Jordi dan Ibu tiri di ponsel lo sampai tumpeh-tumpeh gitu. Bye gue mau jengukin calon ponakan lo dulu. Untuk sementara lo main sama sabun sana!^^^


Aero


Gue ke apartemen lo nih sekarang!

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2