22.23

22.23
Bertemu


__ADS_3

Ekspresi wajah mengeras selalu ditunjukan Pinky kepada Papanya disetiap hari-harinya. Bagaimana tidak, sudah hampir tiga bulan ini Rey berhasil memisahkannya dengan Arion.


Pagi ini mereka melakukan rutinitas sarapan pagi bersama. Rey nampak bahagia dengan terus bercanda tawa dengan Aero dan Kinan. Sedangkan Pinky, dia terus mengaduk-ngaduk nasi goreng di piringnya. Dia sangat merindukan Arion, berkomunikasi lewat telepon tak bisa membuat kerinduannya berkurang yang ada semakin bertambah besar. Sungguh rasanya dia ingin kabur dari rumah, menemui, dan memeluknya.


"Ma aku berangkat dulu ya?" Dia menaruh sendok di piringnya.


Kinan mengerutkan dahi. "Kamu gak sarapan?" Ibunya itu melihat makanan di depan Pinky masih utuh. Pinky hanya menggeleng. "Sayang kamu akhir-akhir gak pernah habisin makananmu kenapa?"


"Diet Kak?" sahut Aero.


Pinky menggeleng lemas. "Gak tau gak nafsu makan aja. Ya udah aku berangkat ya Ma!"


Dia mencium tangan Kinan dan Rey kemudian keluar rumah, masuk ke dalam mobilnya karena sopir yang diperintah Rey telah setia mengantar dan mengawasinya.


Pinky memijit-mijit keningnya. Dia merasa pusing memikirkan kisah cinta yang dikekang Rey. Pinky mengambil ponselnya dan mencoba mengirim pesan pada Arion. Namun tak dibalas oleh cowok itu. Dia mendengus kesal. Kemana dia sekarang? Apa masih tidur? Ingin sekali meneleponnya tapi orang yang mengemudikan mobilnya itu pasti melapor pada Papanya.


Sesampainya di restoran Pinky langsung menelepon Arion. Entah bagaimana pun caranya hari ini juga dia ingin bertemu dengan laki-laki itu.


Pinky beralasan pada Arion jika akhir-akhir ini tidak enak badan. Kepalanya terasa sakit, nafsu makannya pun menurun, badannya lemas. Sungguh dia ingin bertemu dengannya.


Arion yang terlalu khawatir akhirnya mengabulkan permintaan Pinky. Mereka bersepakat akan bertemu di restorannya dengan mengelabuhi sopir suruhan Rey.


Sebentar, dan hanya sebentar itu janji Pinky pada Arion. Mereka takut Rey mengetahuinya dan bisa berakibat yang lebih parah lagi. Bahkan bisa jadi Pinky dipindahkan ke galaksi lain agar benar-benar tak mampu bertemu dengan Arion.


Pinky keluar restorannya dan berjalan santai menemui sopir itu. "Pak, tolong belikan nasi padang di dekat stasiun sana?" Pinky memberikan sejumlah uang pada sopir itu.

__ADS_1


"Ta-pi Non di ujung jalan situ kan ada penjual nasi padang juga, kenapa jauh-jauh sampai dekat stasiun." Dahi laki-laki itu berkerut.


"Disitu gak enak, pokoknya aku mau yang di dekat stasiun. Atau kalau gak mau, sini kunci mobilnya! Aku akan beli sendiri." Tangannya meminta kunci pada sopir itu.


Sopir itu menggaruk kepalanya. "Ya sudah saya belikan sekarang." Pinky menyembunyikan senyum bahagianya dan mengangguk.


Setelah sopir itu pergi, nampak Arion yang mengenakan masker untuk menutupi wajahnya. Dia berjalan menuju restoran tanpa motornya, untuk berjaga-jaga jika sopir itu mengetahuinya.



Pinky menipiskan bibirnya, pipinya menjadi merah muda. Dia memberikan kode pada cowok itu untuk memasuki ruangannya. Berjalan santai tanpa mengendap-endap membuat semua orang tak menghiraukannya.


Sesampainya di depan ruangannya, Pinky langsung menarik tangan Arion dan mengunci rapat pintu itu.


Tanpa butuh waktu lama Pinky langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher cowok itu dan memeluknya erat.


Arion membalas pelukan itu seraya membuka maskernya. Pinky memegang kedua pipi Arion, sedangkan laki-laki itu memegang pinggangnya.


Arion memiringkan kepalanya. Dahinya berkerut menatap wajah wanita di depannya. "Kamu sakit apa?"


"Gak tau pusing aja."


"Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat?"


Pinky memegang pipinya. "Apa aku terlihat jelek?" Dia menunduk tak berani menatap mata cowok itu.

__ADS_1


Arion menggelengkan kepalanya. "Kamu selalu cantik. Tapi wajahmu ...."


"Aku akan berdandan sekarang," sahutnya.


Arion menahannya. "Jangan!" Dia menyelipkan anak rambut di telinga Pinky. Arion mengalihkan pembicaraan agar wanita di depannya. "Kalau udah ketemu gini terus mau apa? Kita gak boleh berlama-lama. Nanti sopirmu curiga."


Pinky langsung berjinjit dan mencium bibir cowok itu. Tak butuh waktu lama Arion membalasnya. Mereka begitu menghayati. Bunyi decapannya seperti menambah gejolak dalam dada untuk tidak terburu-buru mengakhirinya. Ah, rasanya ini membuat mereka ketagihan.


Pinky melepas ciuman itu dan menyatukan dahi mereka. "Apa kamu gak rindu padaku?"


"Tentu saja rindu." Arion menggeser-geserkan ujung hidungnya dengan ujung hidung Pinky.


"Tiap hari kita kayak gini aja gimana? Aku ingin setiap hari bertemu denganmu."


Arion menggelengkan kepalanya. "Jangan setiap hari ini bahaya!"


Bibir Pinky mengerucut, dia tak suka dengan ucapan Arion. Jika sekarang bisa kenapa hari selanjutnya tidak?


Waktu terasa begitu cepat. Ada suara ketukan pintu dari arah luar. Mata mereka membulat.


"Cepat kamu sembunyi!" Pinky memukul bahu Arion tiga kali. Mereka terlihat kebingungan. Ketukannya bertambah keras, akhirnya Arion bersembunyi di samping meja.


Kleeek


Pinky membuka pintunya. "Ini Non pesanannya!" Dia langsung menyambarnya dan menutup rapat pintu itu.

__ADS_1


Arion keluar dari persembunyiannya. Ketegangan ini membuat jantung mereka sama-sama berdegup kencang. Arion memeluk Pinky kembali. Selalu menggemaskan itu yang ada dipikirannya.


__ADS_2