
Dengan bertelanjang dada dan hanya sehelai handuk yang melingkar di tubuh bagian bawahnya, Arion duduk termenung di tepi tempat tidur. Sedari tadi dia terus mengusap gusar wajah dan menjambak-jambak rambutnya.
Tiga jam yang lalu dia telah berbuat dosa. Merobek selaput dara dari seorang wanita yang dicintainya disaat waktu yang tak tepat rasanya seperti memberi cipratan noda. Penyesalan, hanya itu yang kini tersisa dalam dada.
Arion menoleh ke belakang. Wanita itu sedang kelelahan tertidur pulas dengan hanya selimut berwarna putih yang menutupi tubuhnya. Nampak jelas pula tanda-tanda kepemilikan yang Arion berikan di dada dan lehernya.
Dia menggelengkan kepalanya dan menunduk kembali sembari memegang kening. Rintihan dan teriakan Pinky masih terngiang-ngiang jelas di telinga. Perih dari cakaran kuku juga sangat terasa di punggung dan lengan. Bukan, bukan seperti ini yang sebenarnya dia inginkan. Tapi, kenapa dia bisa terlena?
Huft
Laki-laki itu ingin memejamkan mata namun tak bisa. Berusaha keras melepas rasa yang entah kenapa membuat resah. Dia menjauh dengan tidur di sofa apartemennya. Dia tak sanggup dan tak mau lagi terbawa oleh nafsu dunia jika mendekatinya.
...****************...
Saat pagi tiba, dengan mata yang masih setengah sadar Pinky meraba-raba di samping tidurnya, namun dia tak menemukan Arion. Dia terlonjak dan bangun mencari sosok laki-laki yang dia beri mahkota dalam hidupnya semalam.
"Arion," panggilnya. Dengan menahan rasa perih di pangkal pahanya, dia memunguti lingerie yang berserakan di lantai lalu membersihkan dirinya di kamar mandi. Mengguyur ujung kepalanya sampai ujung kaki indahnya. Tak ada penyesalan dalam benak Pinky. Dia malah tersenyum bahagia. Melihat tubuhnya di depan kaca dan menghitung tanda merah yang Arion berikan semalam. Satu, dua, tiga, empat dia terkekeh mengingatnya. Sungguh cinta telah membuatnya gila.
Dia kini keluar kamar mandi dan akhirnya melihat Arion yang sibuk memindahkan bajunya dari lemari ke tas. Tanpa pikir panjang Pinky memeluknya dari belakang seraya memejamkan mata mengingat kejadian semalam.
Berbeda dengan Pinky, Arion justru kebalikannya dia sangat dingin tak seperti biasanya. Ditambah lagi melihat sedikit bercak darah di sprei berwarna putihnya seolah-olah menjadi penyesalan di ulang tahunnya. Ini bukan ulang tahun terindah baginya.
__ADS_1
"Kamu kenapa diem aja?" Wajahnya Pinky kini cemberut. "Kamu gak suka semalam? Apa aku begitu monoton? Atau aku ...."
"Sudah ayo sarapan!" sahutnya.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Pinky. Mereka kini berjalan berdua. Namun Pinky masih memegangi perutnya bagian bawahnya.
Arion memicingkan matanya, "Sakit?" tanyanya dengan khawatir. Dia tak memperdulikan pertanyaan Pinky.
Pinky menggelengkan kepalanya. "Mungkin belum terbiasa." Arion mengangguk dan membuang mukanya.
Pinky terus menatap Arion yang di wajahnya tak terlukis ada kebahagian. Dia menunduk.
Kenapa jadi seperti ini? Kenapa tak seindah yang di bayangkan?
Pinky membanting pisau dan garpu di piring sehingga menimbulkan bunyi yang membuat Arion terlonjak.
"Kamu gak suka 'kan aku tinggal di apartemenmu? Apa aku mengganggu ketenanganmu?"
"Bukan seperti itu ...."
"Kalau aku pulang, kita pasti gak bisa ketemu lagi."
__ADS_1
Arion hanya terdiam, tak mampu menjawab. Dia mengunyah pelan sisa makanan di mulutnya. Kemudian mengambil segelas susu dan meminumnya. "Ya udah terserah kamu, aku pergi dulu!" Dia berdiri begitu saja meninggalkan Pinky.
"Arion," panggilnya lirih. Laki-laki itu berdehem menghentikan langkahnya dan hanya melirik ke arahnya. "Apa aku punya salah?" Wanita itu tiba-tiba meneteskan air matanya. Ini sangat menyakitkan baginya. Bagaimana bisa setelah dia memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk laki-laki itu, dengan tiba-tiba laki-laki itu pergi begitu saja meninggalkannya.
"Hiks ... hiks."
Terdengar suara tangisan lirih yang membuat langkah Arion terhenti. Pinky tertunduk malu, kesal, sedih dengan kejadian semalam. Dia melipat tangannya di meja makan dan menenggelamkan wajahnya dengan tangisan yang tiada hentinya.
Hati Arion serasa dihujam pisau. Bahkan sudut matanya pun mengeluarkan buliran air. Arion segera menghapusnya dan berjalan cepat memeluk sosok wanita yang tengah menangis itu.
"Maafkan aku!" ucapnya seraya mengelus rambut indah itu. "Cukup! Jangan pernah kita ulangi lagi! Kamu berharga. Bersabarlah! Tunggu aku akan menjemputmu! Dan kita akan terus berdua, tak akan terganggu oleh dosa ini."
"Aku hanya takut kamu ninggalin aku."
Arion melepaskan pelukannya dan menyapu air mata di pipi Pinky. "Aku gak akan ninggalin kamu!"
"Aku ikut kamu pulang ke rumahmu."
Arion terdiam sejenak. "Ya sudah. Tapi setelah itu kamu juga pulang ke rumahmu ya!" Pinky menggelengkan kepalanya. "Mau sampai kapan kamu akan seperti ini?"
"Aku belum siap pulang. Aku janji aku akan pulang beri aku waktu tinggal disini beberapa hari saja!"
__ADS_1
"Baiklah."