22.23

22.23
Namanya Arya


__ADS_3

"Papa pulang ...." teriak Rey saat melangkahkan kakinya dari dalam mobil.


Deg


Lidah Pinky menjadi kelu, dia tak mampu menyambut teriakan Papa dan Mamanya. Rey langsung berjalan cepat memeluk Pinky, di susul juga oleh Kinan. Tidak ada reaksi dari anak perempuannya itu.


Arion, dia dua langkah mundur menjauhi Pinky dan Rey yang melepas rindu. Wajahnya nampak tegang. Dia terus memandangi Ayah dan Anak yang membuat hatinya bergetar. Dia juga ingin dipeluk seorang Ayah juga. Ayah yang selama ini bahkan dia tak tau dimana.


"Aero mana?" tanya Kinan pada Pinky. Pinky masih belum mampu menjawabnya.


Rey celingukan ke dalam restoran, "Aero ...." panggilnya dengan melambaikan tangannya.


Dia langsung berdiri menatap siapa yang memanggilnya. Matanya membulat ketika tau siapa yang memanggiknya. Apa ini mimpi? Kenapa Papanya pulang secepat ini? Lalu bagaimana nasib Kakaknya dan Arion di depan?


Aero berjalan gugup ke arah mereka. Kinan langsung memeluk erat anak laki-lakinya itu. Dia pun ikut terpaku sama dengan Kakaknya. Aero dan Pinky menatap ke arah Arion yang terus berusaha menyembunyikan perasaan takutnya. Bagaimana setelah ini? Apa dia akan dimaki-maki atau malah diusir oleh Papanya?


"Hei kalian kenapa? Gak seneng banget Papa dan Mama pulang?" tanya Rey dengan mengerutkan dahi.


"Pa-pa kenapa sudah pulang? Katanya lusa." Aero gugup.

__ADS_1


Rey terkekeh, "Papa ingin bikin kejutan dengan kalian. Ya kan sayang?" Rey tersenyum pada Kinan lalu menatap dua anaknya yang terlihat tegang.


Aero memberikan senyum setengahnya. "Ayo kita masuk!" ajak Rey. Pinky masih terdiam menatap Arion. Bahkan Rey pun ikut menatapnya. Kini Rey dan Arion saling bertatap muka. Lalu apa yang akan Rey lakukan pada Arion?


Deg deg deg deg


"Dia siapa?"


Huft


Tiga anak itu akhirnya bisa bernapas lega. Sebenarnya Rey belum terlalu tua. Bahkan teman-teman Pinky dulunya banyak yang naksir pada hot daddy itu. Namun, ketampanan wajah Arion yang membuat orang pangling melihatnya termasuk Pinky cinta pertamanya.


"Hei siapa nama mu?" Akhirnya Rey bertanya langsung pada Arion.


"Sa-saya Ary ...."


"Arya ... namanya Arya Pa," sahut Aero dengan lantang.


Rey memautkan alisnya, "Arya?" tanya Rey ragu, Aero menganggukan kepalanya dua kali. Sedangkan Arion masih terdiam begitu juga Pinky.

__ADS_1


Karena merasa sangat asing, ditambah lagi kebohongan Aero tentang siapa dirinya, Arion memutuskan untuk segera pergi dari sini. "Saya pamit pulang dulu Om?" Arion menunjuk arah parkir tempat motornya dengan ibu jarinya.


"Kok pulang?" Rey mengerutkan keningnya.


"Sudah dari tadi kok Pa," jawab Aero dengan berbohong lagi. Rey mengangguk kebingungan.


Arion melangkahkan kakinya perlahan keluar sesekali dia melirik ke arah Pinky yang terus terdiam. Dia menaiki motornya dan masih menatap keluarga itu dari tempat dia parkir. Raut wajah kecewa masih nampak begitu jelas di wajah Pinky. Andai Papa dan Mamanya tidak pulang sekarang mungkin dia bisa berduaan.


Rey mengajak keluarganya untuk segera pulang ke rumah jika memang mereka tak mau masuk dalam restoran. Wajah Aero kini sudah tak nampak tegang lagi. Dia berpikir semuanya sudah aman. Apa aman?


Tidak, ini malah menjadi awal dari sebuah kebohongan yang akan menuntut kebohongan berikutnya untuk menutupi kebohongan yang pertama. Jadi bersiaplah untuk itu semua!





__ADS_1


__ADS_2