
Satu minggu, dua minggu, tiga minggu Pinky berdiam diri menuruti kemauan Rey. Kinan sudah berusaha untuk menyuruh Rey memaafkan Selena namun semua seperti sia-sia belaka. Kinan belum tau masalah besar yang sebenarnya. Sekuat tenaga dia merayu suaminya itu, tak akan menggoyahkan sedikit pun keputusannya untuk menjauhkan Pinky dan Arion.
Pinky rasanya sudah tak tahan, ini sangat berat. Dia sama sekali tak bisa bertemu Arion bahkan menghubunginya pun juga percuma. Apa dia perlu ke rumahnya?
Ya, Pinky hari ini berencana untuk menemui Arion di rumahnya. Besok adalah hari ulang tahun Arion ke dua puluh tiga tahun. Pinky tak mau melewatkan itu semua. Dia mengambil kunci mobilnya dan tak mengulur waktu untuk pergi kesana.
Sesampainya di rumah Arion, dia langsung di sambut oleh Selena yang sibuk dengan bunga-bunga di tamannya. "Tante, dimana Arion? Bolehkah aku bertemu dengannya?"
Selena terus terdiam menatap Pinky. Hatinya seperti terketuk, anak ini dulunya yang pernah dia singkirkan beserta Ibunya. Dia sangat malu jika mengingat dosanya.
"Tante ...." panggil Pinky kembali.
Selena mengangkat kepalanya. "Arion tidak ada di rumah Pinky. Dia tidak tinggal disini lagi."
Deg
Matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Selena. Dia seperti tak ada harapan lagi bertemu dangan cintanya. Tiba-tiba Selena memeluknya. Entah kenapa dia merasa sangat bersalah. Selena sadar pasti Rey sangat melarang Arion mendekati Pinky karena Arion anak dari pembunuh Papa kandungnya.
__ADS_1
"Maafkan Tante ...." Selena menangis di bahu Pinky.
Pinky melepas pelukannya. Dia tak mengerti kenapa Selena meminta maaf padanya. Selena menghapus air matanya yang terus mengalir. Dia mengelus lembut kepala Pinky.
"Kamu cantik Pinky, sama seperti Ibumu. Tante gak heran jika Arion begitu tergila-gila padamu." Selena termenung mengingat besarnya cinta Rey pada Kinan yang dulu pernah dia mencoba patahkan.
"Tante ... sebenarnya ada masalah apa antara Papa dan Tante?" Lagi-lagi pertanyaan itu yang terlontar dari mulut anak-anak mereka. Selena menggelengkan kepalanya. Dia tak mampu lagi menjawabnya.
"Masalahnya sangat berat. Sudahlah, kamu menurut saja dengan semua perintah Papamu. Itu yang terbaik untukmu dan juga untuk Arion."
Pinky kecewa dengan jawaban itu. "Baiklah, kalau begitu dimana Arion tinggal sekarang!"
"Tante aku mohon, aku cuma ingin bertemu dia sebentar saja. Dia akan ulang tahun 'kan? Izinkan aku memberikan hadiah kecil untuknya."
Selena terenyuh mendengarnya, dia tau pasti sangat berat bagi mereka. Dia berpikir sejenak, Pinky memegang tangan Selena berharap memberitahu dimana Arion berada. Karena tak mampu menahan akhirnya Selena memberitahu apartemen Arion. Pinky sangat berterima kasih padanya. Dia kembali memeluk Selena sebelum pergi meninggalkannya.
Pinky sangat tidak sabar untuk bertemu Arion. Menaiki lift dengan tangan bergemetar. Menipiskan bibirnya, menggosok-gosokan tangannya. Dia sangat gugup, sesekali juga membenahi rambutnya agar tak terlihat berantakan.
__ADS_1
Pinky memencet bel di depan apartemen Arion. Dia sangat berharap Arion ada di dalamnya. Dua kali dia memencetnya namun tak dibuka pintu itu. Pinky hampir putus asa. Dia berpikir mungkin Arion tak ada di dalam sana. Pinky membalikan badannya untuk kembali pulang. Namun, tak lama kemudian tiba-tiba pintu apartemennya terbuka.
"Apa kamu memencet bel apartemenku? Maaf lama aku habis mandi."
Mata Pinky berbinar, dia menoleh ke belakang. "Arion ...." Dia berlari memeluk laki-laki itu. Menangis di dadanya dan menghirup dalam-dalam aroma wangi dari tubuh Arion.
Arion pun tak mampu menyembunyikan rasa rindunya. Dia membalas pelukan itu. "Bagaimana kamu bisa tau aku tinggal disini?" tanya Arion dengan terus mengeratkan pelukannya.
"Dari Mamamu." Pinky melepaskan pelukannya. "Kenapa kamu tidak mau mengangkat teleponku?" tanya Pinky dengan mengerutkan keningnya.
"Aku ingin kamu melupakanku. Bagaimana jika Papamu tau kamu menemuiku?"
"Papa gak tau tenang saja. Besok adalah hari ulang tahunmu, mana bisa aku melupakan itu," gerutu Pinky.
Arion melihat kalender di meja. "Oh iya besok tanggal dua puluh dua ya!" Pinky mengangguk. "Terus kamu mau ngado aku gitu?" tanya Arion yang sebenarnya hanya candaan.
"Ya, aku akan berikan hadiah yang sangat berharga bagiku hanya untukmu." Dahi Arion mengerut. "Aku yakin kamu menyukainya." Dengan sangat yakin Pinky berucap.
__ADS_1
"Oh ya?" Pinky berdehem. "Apa itu?" Arion sangat penasaran, Pinky hanya tersenyum dan tak menjawabnya.