
Arion tetap duduk di sana dengan perasaan yang tak tenang. Dia tak mampu untuk lama-lama berdekatan dengan Rey. Jantungnya seperti tak normal. Kali ini dia memutuskan secepatnya untuk pamit pulang.
"Aero tadi Papa lihat Sonya keluar restoran dengan wajah cemberut. Kamu apain lagi anak gadis orang?" tanya Rey yang kini menggeser kursi di dekat Arion. Oh tidak, kenapa dia harus duduk di dekat Arion? Ini membuatnya semakin tak tenang.
"Aero pastiin bakal terbebas dari tiga cewek itu Pa."
"Kamu apakan dia Ro?" tanya Kinan seraya mengerutkan kening karena Aero tak menjawab pertanyaan Rey. Dia tak terima jika anak laki-lakinya menyakiti wanita.
"Tenang aja Ma gak Aero apa-apain."
Karena merasa sangat asing Arion memutuskan untuk berdiri dan pamit pergi. "Gue pulang dulu ya Ro!"
"Kenapa buru-buru? Apa kita mengganggu kalian?" tanya Rey. Arion tak sanggup menatap mata itu.
"Gak kok Om, aku udah dari tadi disini."
"Oke, makasih buat yang tadi Yon," ucapnya dengan santai.
Apa? Yon.Wah mulut Aero perlu di lakban. Bagaimana dia bisa membocorkan rahasia kebohongan yang dia buat sendiri?
"Siapa Yon? Bukankah namanya Arya?" tanya Rey dengan mata melotot. Jantung Arion dan Aero kini sangatlah tidak aman. Darahnya seperti terpompa tak beraturan. Rahang Aero mengeras tak sanggup digerakkan.
"Em ...."
Tik tok tik tok
Aero berpikir sangat keras. "I-itu panggilan gaulnya Pa," ucapnya gugup.
__ADS_1
"Ouh ...." Rey mengangguk tak curiga. Baiklah, kali ini mereka berdua bisa bernapas lega.
Arion langsung cepat-cepat pergi meninggalkan meja itu. Dari dalam Pinky meneriakinya, "Arion kamu mau kemana?"
Deg
Detak jantung Arion serasa terhenti. Pinky tak mengetahui jika Rey ada disini. Rey langsung berdiri menatap Pinky dan Arion secara bergantian. Kinan dan Aero pun ikut berdiri. Pinky terlonjak saat mengetahui Papanya memandanginya dengan wajah yang berapi-api.
"Pa-pa," Dia gugup.
"Apa kalian telah berbohong pada Papa? Kalian bilang namanya Arya." Kedua anaknya itu kesusahan menelan salivanya. Pinky langsung berlari memeluk Rey. Sedangkan Arion dia masih berdiri membeku menatap Rey yang saat ini seperti akan menusuk jantungnya.
"Papa Pinky minta maaf!" Dia menangis di dada Rey.
"Aero," panggil Rey. Aero langsung berjalan mendekatinya. "Apa Papa pernah mengajarimu berbohong?" teriaknya. Aero langsung tertunduk dengan rasa bersalah.
Paaakkk
Rey menampar keras pipi Arion. Pinky semakin tak sanggup menampung air mata yang semakin deras keluar. Dia langsung memeluk Mamanya seraya terus menangis.
"Berani kamu mendekati anak-anakku?"
"Papa Arion gak salah!" teriak Pinky.
"Diam kamu Pinky!" teriakan Rey menggema di seluruh restoran. "Sekarang kamu pergi dari sini! Jangan pernah menampakkan lagi dirimu dihadapan kami!"
Arion membalikkan badannya dengan hati yang rasanya ditusuk sebilah bambu. Saat ini ketakutan yang dia bayangkan menjadi kenyataan. Ini sangat berat. Apa ini hari terakhirnya bertemu Pinky?
__ADS_1
Dia berjalan pelan ke luar restoran. Pinky berusaha berlari mengejarnya. "Arion tunggu!" teriaknya seraya menghapus air mata yang terus keluar. Rey menahannya. "Papa Arion gak salah, yang bohong kita Pa bukan Arion."
"Pinky, Papa tidak peduli itu. Papa hanya ingin kalian tinggalkan dia!" Arion membalik badannya sebentar menatap mereka. Masih tidak adil baginya jika disuruh untuk pergi menjauh tanpa tau alasan yang pasti.
"Tapi kenapa? Arion itu baik Pa!" Pinky masih terus berdebat dengan Rey.
Rey mengerutkan dahi. Dia merasa Pinky telah terkena bujuk rayu Arion. "Ayo kita pulang!" Dia menggandeng paksa tangan Pinky.
"Aku gak mau Pa!" Pinky berusaha melepaskan cengkraman tangan Rey.
"Sejak mengenal dia, kalian menjadi berani sama Papa. Berani berbohong, berani membangkang. Sekarang ayo kita pulang!" Dia menekankan seruan itu lagi.
"Papa jahat, Papa egois. Aku benci Papa!"
"Pinky!" teriaknya dengan intonasi nada tinggi.
Pinky berlari keluar mengejar Arion. Pipinya belum kering. Matanya pun masih terus mengeluarkan air. Dia melihat Arion berjalan ke arah tempat parkir.
"Arion ...."
Dia memeluk Arion dari belakang. "Arion, jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu." Laki-laki itu berusaha melepas kedua tangan Pinky yang melingkar di perutnya.
Dia membalikkan tubuhnya dan menyapu air mata yang terus mengalir di pipi Pinky. "Dengarkan aku! Menurutlah pada Papamu! Percayalah! Jika kita berjodoh Tuhan pasti akan mempertemukan kita lagi." Arion mencium tangan Pinky. "Aku juga mencintaimu. Ingatlah itu!"
Pinky memeluknya kembali, kali ini erat sangat erat. "Pinky ...." teriakan Rey membuyarkan dua anak manusia itu untuk tidak berlama-lama mengungkapkan sakitnya sayatan di hati mereka.
Arion langsung berjalan cepat menaiki motornyaa dan meninggalkan Pinky seorang diri berdiri terpaku disana.
__ADS_1
Rey menggandengnya masuk ke dalam mobil dan mereka bersiap untuk pulang. Di dalam mobil pun Pinky masih terus saja menangisi Arion. Cintanya semakin besar. Dia tak mampu membayangkan jika harus berjauhan. Rey seolah-olah tak peduli akan hal itu. Yang terus selalu diingatnya jika dia anak pembunuh Papa kandung Pinky yang tak lain sahabatnya sendiri.