
"Eh ...."
Arion melihat ke jarinya yang masih menggenggam erat jari Pinky. "Yaaah jadi nyaman lupa dilepaskan." Dia mengangkat genggaman tangannya dan terkekeh pelan.
Pinky tersipu malu dengan membuang mukanya. Arion langsung melepaskan tangannya ketika dia melihat Aero masuk kembali dalam restoran dengan wajah masam.
"Udah lah palingan tuh orang gak akan berani kesini lagi!" ucap Arion. Mereka kemudian duduk ke kursinya masing-masing.
"Maaf ya gara-gara aku kamu ...." ucap lirih Pinky.
"Udahlah gak usah dipikirin!"
"Mama kamu pasti marah?"
Arion tertawa dengan memegangi perutnya, "Ngapain bawa-bawa Mama."
"Kamu anak Mama 'kan?" ledek Pinky dengan menahan tawa. Arion menepisnya. "Kamu sekarang sibuk apa? Kayaknya nyantai banget kerjaanmu?"
"Sibuk keluyuran ha ha ha."
"Aku gak percaya?"
"Ya udah, aku pengangguran Kak." Pinky mengernyit, "Kalau aku jadi CEO nanti nasibnya kayak adikmu yang tampan mempesona tiga wanita ini."
"Ye ... gue sebenarnya juga ogah. Tapi Kakek maksa gue. Sedangkan Papa dia sibuk dengan perusahaannya sendiri."
Wajah Arion seketika berubah datar saat mendengar ucapan Aero. Dia masih mengingat jelas kejadian dimana Mamanya dulu di maki-maki oleh Papa mereka. Saat itu dia belum begitu mengerti apa permasalahan antara Mamanya dan Papa Aero. Tapi, dia terus berusaha melupakannya. Malam ini mereka bertiga habiskan untuk bercengkrama.
...****************...
__ADS_1
Sudah hampir satu bulan kini mereka bersama. Tak nampak lagi Gino di hadapan Pinky. Sepertinya ancaman konyol Aero membuatnya benar-benar menjauh.
Arion pun semakin dekat dengan Pinky. Rasa aneh ingin selalu dekat itu semakin berkecamuk di dalam dada. Tak ada rasa kehilangan, kesedihan atau bahkan kekecewaan lagi pada mantan pacarnya itu saat Pinky bertemu Arion. Seketika menjadi bahagia.
Arion sering datang ke restorannya, entah itu bercengkrama dengan Aero ataupun dengannya.
Aero, dia masih saja dikejar-kejar tiga wanita itu. Benar-benar belum ada solusi untuk permasalahannya kini.
Pagi ini, Arion datang kembali ke restoran. Pinky yang meneleponnya. Dia mengajak Arion pergi keluar. Dia memarkir motornya di luar dan saat ingin masuk ke dalam Pinky sudah menyambutnya.
"Hei ... aku udah siap!"
Arion menarik garis bibirnya, "Kamu sangat cantik Kak." Hampir setiap hari dia mengucap kalimat itu.
"Apa kamu tidak bosan memujiku seperti ini terus?"
"Pokoknya ikut aku! Aku ingin ngenalin kamu." Pinky menarik tangan Arion menuju motornya.
"Aku gak bawa mobil loh Kak, nanti kamu kepanasan!"
Pinky mengernyit, "Aku suka naik motor."
"Oke kalau hitam, aku gak tanggung jawab ya!" Pinky memukul pelan dada Arion.
Kali ini Arion tak memakai helm dan hanya menaruh di lengan tangannya. Pinky melingkarkan kedua tangannya ke pinggang laki-laki berlesung pipi itu. Wajah mereka saat ini sangat dekat. Arion sering tak fokus mengendalikan motornya karena jarak pipi Pinky dan pipinya hanya satu senti.
Dia sering menoleh ke wajah cantik di samping wajahnya itu. Hidung mancungnya sering menyentuh pipi Pinky. Dia sangat pelan memutar gas motornya seolah-olah memperlambat waktu.
"Kamu kenapa lihatin aku terus!"
__ADS_1
Arion terkekeh, "Habisnya kamu cantik banget Kak!"
"Iiiih ... gombal lagi." Pinky menyandarkan kepalanya di pundak Arion. Dia menyembunyikan rasa malunya di sana.
"Ini mau kemana?"
Pinky mengangkat kepalanya, "Lurus terus nanti belok kiri!"
Arion menambah laju motornya dan menuruti perintah Pinky. Dahinya berkerut seketika saat mengetahui Pinky mengajaknya ke makam.
Arion memberhentikan motornya, "Kesini?" tanyanya keheranan.
Pinky turun dengan berpegangan pada pundak Arion. Dia mengangguk. "Ayo!" serunya.
Arion turun dari motornya. Pinky terus menggandeng tangan Arion. Laki-laki itu masih merasa bingung siapa yang akan Pinky kenalkan padanya. Mereka berjalan cepat dan berhenti seketika saat berdiri di samping salah satu makam yang bertuliskan Kevin Arkananta.
Pinky langsung duduk dan memeluk makam itu. "Arion, ini adalah makam Papa aku." Pinky menarik tangan Arion hingga membuatnya terduduk. Pinky mengelus batu nisan itu. "Papa kenalin ini Arion."
Dahi Arion berkerut, "Papa?" Dia seperti kebingungan.
❤
❤
❤
❤
Arion yang dikenalin ke Kevin, malah aku yang deg deg an 😆
__ADS_1